Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI DEDY TRI RIYADI

with 3 comments

 

Tertirah dalam Tiga Batang Paku di Dinding

 

Setelah membayangkan mengarung padang

alang-alang, seekor capung mengambil waktu

berhenti di paku pertama. Sayapnya terbentang

seperti tengah berkata, “Aku tak ingin kau ganggu

 

meski di bawah paku kedua, bahumu lanjang

dan matamu yang pejam kau tumpu

pada sepasang lengan. Seolah baru datang

kekasih dan belum sempat melepas sepatu.”

 

Dia juga seolah menantang

pada kelinci di bawah paku ketiga, “Kau tahu

arti lucu? Dunia yang dipaksa tenang

berhenti dari kejaran waktu!”

 

Dunia tumbuh dari bayang-bayang

penari yang tertidur itu.

Dunia yang dibesarkan lidah panjang

cicak berwarna abuh-abu,

 

yang hendak menerkamku.

Sementara di meja sebidang,

kau – kelinci belang – menatapku

seolah aku ini pembawa kabar dari padang.

 

Kabar yang ditunggu-tunggu,

oleh penari yang tertidur panjang,

dan akan menggerakkan telinga panjangmu

hingga dia bangun dengan dada terguncang.

 

2013

 

 

Kolam

 

Tak ada yang abadi di permukaan kolam,

daun yang jatuh atau gesit sirip ikan

selalu membuat gelombang, memecah

kesunyian.

Hanya sulur teratai tegak menyangga

bunga, seperti mendongak ke puncak

semesta, membuatmu merasa

ada yang harus dipertahankan.

Seekor katak, duduk diam, di atas daun

seperti waktu yang tengah berhitung

kau lelah atau limbung

menunggu sesuatu yang selembut

titik embun, sehalus benang cahaya

yang turun dari rimbun daun, atau

sekedar kata yang tepat

untuk mengutarakan

hidup tak mungkin bisa

tenang.

 

2013

 

 

Kecup Tak Sudah di Punggungmu

 

Punggungmu: subuh, malam yang perlahan hilang

warna lamat-lamat antara hitam-biru-kuning-tembaga

aku mencari wajahmu, tak menemu juga

yang ada pesan-pesan usang.

 

Bibirku: pembacaan berulang-ulang

kata-kata seperti merambat dari abjad suku kata

mengecupi punggungmu tanpa jeda

mencari yang tak terbilang.

 

2013

 

 

 

Dedy Tri Riyadi lahir di Tegal , Jawa Tengah,

Dan kini tinggal di Jakarta. Ia bergabug di-

Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSaR Malam).

Buku puisinya Gelembung (2011).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 8 Desember 2013

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Desember 10, 2013 pada 12:26 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. pesan yang begitu bagus

    Suka

    a.haris

    Desember 11, 2013 at 7:05 pm

  2. puisinya bagus-bagus banget. mantap anget gan. semoga selalu sukses yaaaaa

    Suka

    perkofashion

    Januari 13, 2014 at 3:09 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: