Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI M AAN MANSYUR

with 3 comments

 

Hantu Bernyanyi

 

Ia menekan-nekan tuts keyboard mengetik kata piano lagi

dan lagi, juga titik dan koma, sambil dalam hati menyanyikan

lagu ciptaannya, yang di ingatannya tinggal beberapa larik:

 

  1. Berdering-dering Halo yang aku kirim sejak bertahun-

tahun lalu belum kau jawab hingga sekarang. Aku

tahu kau dengar.

 

  1. Kepalaku kampung, dipenuhi anak kecil yang

berlarian mengejar bayang-bayang mereka sendiri.

Aku melihat diriku.

 

Di layar komputer, ia lihat piano-piano seolah-olah

dikerubungi sekawanan semut. Jika ia pemabuk, pikirnya,

tanda-tanda baca itu menyerupai kunang-kunang.

 

Tak ada hujan. Jika hujan datang malam itu ia akan menjadi

penyebab.

 

*

 

Meski tidak mabuk, ia masuk kamar mandi. Ia siram

kepalanya. Ia kosongkan bak. Ia tetap tidak mampu

menghafal lagu ciptaannya sendiri.

 

Sisa-sisa air yang tertinggal ditelinganya seperti bisikan

kekasihnya yang pergi bertahun-tahun sebelumnya.

 

Setelah melepaskan handuk, ia tiba-tiba tidak bisa

membedakan antara kantuk dan angin. Ia berjalan ke tempat

tidur tanpa mengenakan apapun kecuali rambut yang tergerai

basah dan bekas luka.

 

Ia pejamkan semua mata lampu dan matanya. Ia lihat di

halaman bunga satu demi satu mekar bersama masa lampau.

 

Tak ada hujan. Jika hujan datang malam itu ia akan menjadi

penyabab.

 

*

 

Ia tidur seperti tanda kutip dan semua yang ia lihat dalam

mimpi adalah pahlawan. Baginya, yang layak jadi pahlawan

hanya bunga-bunga dan anak-anak. Tetapi, bukan itu

maksudnya, katanya ketika terjaga oleh suara sirine yang

semakin mendekat.

 

Ia bertanya-tanya, apakah harus terjaga hingga pagi agar

mampu kehilangan mimpi. Ia tak mau dikejar-kejar mimpi

masa kecilnya. Masa kecil amat rakus, mengubah manusia

menjadi undur-undur.

 

Tak ada hujan. Jika hujan datang malam itu ia akan menjadi

penyebab.

 

*

 

Ia lapar. Sangat lapar. Ia seolah punya kekuatan yang mampu

memakan malam dan seluruh isinya. Ia lihat, di jendela,

bulan sudah habis ditelan pelan-pelan oleh bayangan bumi. Ia

merasa lebih kuat dari sekedar bayangan bumi

 

di tengah laparnya yang belum melahap apapun, ia lihat

mobil jenazah berhenti dan menunggu di depan rumah

tetangga. Ia ketakutan dan beberapa bagian lagunya yang

hilang tiba-tiba pulang menemaninya.

 

Jika aku menyukainya, ia bernama kesepian. Jika aku

Membencinya, ia bernama kesepian.

 

Aku akan pergi, aku akan segera pergi. Begitu juga

Denganmu. Begitu juga mereka.

 

Ia bernyanyi dan bernyanyi sendiri hingga ia raib ditelan

suaranya sendiri.

 

Tak ada hujan. Jika hujan datang malam itu ia akan menjadi

penyebab.

 

*

 

Malam-malam berikutnya, penyanyi itu menghantui

rumahnya sendiri.

 

 

Menjadi Lumba-lumba

 

Aku pernah punya mimpi. Kau menulis angka-angka

penanda dibahuku, semacam tato permanen. Aku juga

menulis angka-angka serupa diperutmu, dan kau tertawa.

Ujung pisau yang aku gunakan menulis membuat rahimmu

geli. Kita telanjang, bergandengan tangan, berjalan dalam

dan tiba di tebing, lalu aku terjun ke sungai tapi kau

tidak.

 

Kelak, pada satu hari Sabtu, saat kau sibuk di kantor, aku

mencium pucuk hidung anak-anakmu di bibir kolam renang.

 

 

Menjadi Hantu

 

Aku ingin tidur seharian di sepatumu saat kau pergi ke kantor

menggunakan sepatu lain. Menunggumu di rumah tanpa

mengeluh.

 

Aku ingin jadi warna kesukaanmu, melingkari lehermu.

Berpura-pura sebagai selendang, karena seorang pria lain

tidak putus menginginkan dadamu.

 

Aku ingin mendengkur sebagai ular sawah atau angin di sudut

kamar, di tumpukan pakaian kotormu. Mereka hangat, dekat,

mendekap, dan masih beraroma kita.

 

 

Belajar Berenang

 

Kau nyala langit yang biru pada pangkal bulan April dan

awan yang menolak warna selain putih. Kau setapak

berundak-undak di belakang rumah dan bayangan pohon-

pohon yang menyembunyikan daun tua dan hewan melata.

Kau tebing dan suara angin yang memantul-mantul.

 

Kau nyali yang melepaskan pakaianku dengan malu-malu.

Kau langkah-langkah yang hendak dan tidak ke bibir jurang.

Kau tangkai pohon yang tidak kutahu namanya, tempat

tungkaiku gemetar sebelum terlambat memegang sesuatu.

 

Kau udara sesaat yang membuatku berdoa. Kau ketenangan

yang terbuka dan terluka menerima tubuhku yang telanjang

dan jatuh sebagai jala yang gagal mengembang. Kau ikan

warna-warni yang kaget dan sembunyi ke balik batu.

 

Kau benda-benda pendiam di kedalaman. Kau air yang tiba-

tiba keruh dan kepanikan yang menyakiti dadaku. Kau nyawa

yang lepas seperti balon-balon kecil dari paru-paruku.

 

Kau jari-jari air yang mengangkatku pelan-pelan ke

permukaan. Kau kekuatan yang kutelan dan kuembuskan

berulang kali. Kau kapak yang membuat lenganku bergerak

menggapai-gapai.

 

Kau keriangan yang tidak capai bergolak dalam darahku. Kau

Keseimbangan yang berhati-hati dan tidak menginginkanku

berhenti. Kau matahari yang memerahkan punggungku.

 

Kau rumah yang membuatku lupa pulang. Kau petang

dan burung-burung yang mencari sarang. Kau senyum yang

kusembunyikan dari kemarahan ibu.

 

Kau kebahagiaan yang terlambat terpejam. Kau yang pertama

dan akan selalu basah dalam mimpiku. Kau yang terbangun

tengah malam dari mataku.

 

Kau sungai yang memanjang lalu melapang sebagai laut

karena khawatir aku jatuh sekali lagi. Kau masa kecil yang

sekarang kukenang dengan rasa bersalah dari dekat jendela

dadurat pesawat terbang.

 

 

M An Mansyur bekerja di Komunitas Ininnawa, di Makassar, Sulawesi Selatan.

Buku puisinya antara lain Aku Hendak Pindah Rumah (2008) dan Tokoh-tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita (2012).

 

KOMPAS, MINGGU, 3 NOVEMBER 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

November 5, 2013 pada 7:58 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] goodreads, puisikompas, & Kompas, Minggu, 3 November […]

    Suka

  2. Reblogged this on basoakbar07.

    Suka

    Baso Bin Fulan

    Desember 1, 2015 at 11:07 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: