Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI MARIO F LAWI

leave a comment »

Rosaria

/1/
Kesementaraanku menghidu lapang nahu yang bergetar setelah tahu telah lama puisi tak lagi sakti di hadiratmu. Engkau mengecup tanganku seperti hati Ishak yang awas memberkati Yakub ketika nazar tak lagi cukup melambungkan Esau ke langit. Telapak tangan kananmu menimbang seberapa pantas airmataku jatuh di hadapan altarmu. Dari stasi ke stasi aku mencari cara yang paling sopan menghidangkan khianat di atas piring cinta, sedang engkau masih saja sibuk mengurusi kapela kecilmu di lengkung lembah. Aku selalu menengadah ketika berdoa sebab percaya surga seperti yang diajarkan ibu, sedang senyummu senantiasa bercahaya melingkarkan nimbus bagi segala kemustahilanku. Sesekali, kau menganggapku sebagai Pembawa Cahaya yang rajin menjerumuskanmu ke dalam dosa. Selebihnya, kau menganggapku pendoa yang gemetar di hadapan salib cintamu.

 

/2/
Dulu engkau rajin mendekati ular yang sangat mengasihimu sebelum menuduhnya menggodamu. Kita pun diusir setelah aku memasuki gerbangmu; bukan lubang jarum yang tengik karena orang kaya dan seekor keledai dijatuhkan dari langit perumpamaan. Aku menyentuhmu dengan cara yang tak diajarkan agama-agama. Engkau menerimaku dengan iman dan tabah yang penuh. Kita belajar berdosa dengan alasan yang sangat sederhana; membutuhkan sesuatu untuk mengasihi Bapa. Dan kepada ular yang masih sudi bersimpuh di bawah tumitmu, engkau persembahkan sesal yang paling pejal.

 

/3/
Sepasang domba yang tengik oleh bau kandang yang mengepung, akhirnya dituntun ke padang oleh sang gembala. Dalam desir yang gamang, kita akan menyerahkan sang gembala kepada kawanan serigala. Rekuiem terakhir yang terdengar adalah suara seruling di hadapan wajah angin yang terluka. Setelah mengajarkanmu cara melepaskan diri dari sangkut sengkarut semak belukar, aku pun akan menyerahkanmu kepada tukang cukur yang mengajarkan kita berkhianat sebelum memasrahkan diri di bawah mulut pisau jagal yang memuja sesap paling lesap di tubuhku.

 

(Naimata, 2013)

 

Panen

 

Dengan ukuran kematian, kami mendepa panjang lintasan dosa dan kebangkitan. Hujan sungguh tak ada, Tuan, sebab lambungmu belum ditikam. Kepak gagak yang menjauh berusaha mengelak dari cahaya pukul tiga. Matahari dari balik detak-hentimu adalah yang paling menyilaukan, karena bumi yang terbelah akan lebih baik menghentikan lajur-hidup benih gandum. Ladang telah kami garap, demi kehidupan dan rasa sakitmu. Lima langkah dari ibumu, para pemanen menundukkan kepala. Berkas-berkas telah dipisahkan dari antara ilalang. Para pekerja mulai memindahkan mereka ke dalam lumbung demi musim-musim yang sekarat. Sebagai benih-benih gandum, Tuan, kami mesti kaujatuhkan ke tanah, meski rekuiem musim tak pernah mampu menaksir arah cuaca yang mengeras di antara kedua matamu.

 

(Naimata, 2013)

 

 

Mario F Lawi dilahirkan di Kupang, Nusa Tenggara Timur, 18 Februari 1991. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana ini bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flambora.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 27 Oktober 2013

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Oktober 31, 2013 pada 5:07 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: