Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI KIKI SULISTYO

leave a comment »

Lonceng Makan Siang

 

lonceng makan siang berkeloneng di tengah ladang

batang-batang kurus kacang tanah membayang di panci rebus

bibi yang anggun bagai api unggun, berdiri memandang kejauhan

hari ini ada juga sup kelinci, dengan biji bunga matahari

harumnya terkepul di udara meranumkan buah-buah mangga

 

sekali paman memanggil kami, suaranya seperti dalam mimpi

kadang paman begitu baik, dan kalau paman baik,

bibi terlihat lebih cantik,

 

tengah bulan komariah, semalam ada datang piring terbang

jakun leherku mulai mengembang dan iseng sekali

memperhati dada Ida, anak paman yang berambut merah bagai gadis manca

Ida tak lahir dari rahim bibi, kabarnya, seekor pelikan membawanya

dari seberang lautan, bersama keranjang rotan hutan

 

lonceng makan siang berkeloneng ulang, Ida berlari di depan

badannya ramping seakan ceruk tebing, bau tubuhnya runtuh

seperti dari sebuah kota yang lama dilupakan orang

sup kelinci dan biji bunga matahari membuat matanya kian cemerlang

 

aku kira itulah kali pertama cinta terhidang di meja keluarga

 

2013

 

 

Ramalan Sirih Pinang

 

sirih pinang bilang, aku dan Ida akan jadi kekasih terlarang

seekor monyet besar datang dengan menyeret batang yang terbakar

memutari kampung, siul monyet itu bergulung-gulung sampai jauh

hingga orang di seberang menyangka telah tiba akhir dunia

 

ramalan itu kami baca sambil tidur di tepi pematang

Ida memandang sekawanan serangga keluar kandang

dalam pikirannya, sungguh senang menjadi serangga

terbang ke sembarang mencari harum kembang

 

aku meraba rambutnya, merah-terang seakan baru terpanggang

sirih pinang bilang, kami sebenarnya sedarah yang lama terpisah

lalu disebabkan rasa bersalah, bumi berputar balik arah, kami kembali

ke tempat pertama kali ruh tumbuh dan penuh di tubuh

 

maka kamilah yang sekarang bersalah, apabila memilih ingkar

kecuali bila ada yang mati dan orang-orang mulai lupa siapa kami

di baris terakhir ramalan ini, tertulis siapa yang mesti mati

alhasil, aku percaya mengapa kemudian pada malam hari

 

aku sering bermimpi melihat paman mati bunuh diri

 

2013

 

 

Anjing Merah

 

sudah lama aku menduga merah pada rambut Ida

berasal dari bulu anjing yang suatu petang pernah bertandang

beginilah aku kira: seorang ibu telah berserah sedemikian rupa

saat sampai pada puncak sakit di kaki bukit

 

garbanya hampir terbuka sehingga pohon-pohon memohon

pada langit untuk menyalakan bintang lampion, langit sedikit berderit

dan akar-akar cahaya membakar mata ibu kita hingga tak dilihatnya

perpindahan benda-benda angkasa

 

beginilah aku kira: ruh ibu kita mengembara di atas sana

sementara tangis pertama Ida pecah di lembah

ketika itu ia semak tersibak dan anjing bulu merah menyalak

paman mendengar salak anjing itu dalam mimpinya

membuatnya terjaga dan seketika itu juga membuka jendela

“itu bukan dengan anjing, itu tangis bayi yang haus air susu,”

katanya sambil memandang keluasan ladang

 

kuceritakan semuanya pada Ida di depan kuburan anjing merah itu

pada suatu petang sesaat setelah binatang itu bertandang

dan paman menembakkan senapan ke bulu-bulunya yang berkilauan

 

2013

 

 

Sisir Kayu

 

pada merah rambut Ida ia percaya, ada cerita yang masih rahasia

tangan-tangannya yang kurus bagai angan-angan yang haus tualang

mendesirkan bisik untuk pergi, besok pagi atau pagi yang besoknya lagi

 

kukira Ida akan pergi juga, seorang jejaka akan membawanya

dan ia akan ditinggalkan dekat jendela, supaya setiap saat menjadi yang

pertama melambaikan tangan, menggadaikan kepulangan kelak apabila

anak-anak telah cukup umur untuk diajak

 

kadang aku cemburu, dan diam-diam bersumpah membuatnya patah

seperti hatiku saat tahu apa yang telah dibisikkan tersimpan di kepala

menjadi hasrat teramat kuat dan berkarat apabila tak dirawat

 

ketika akhirnya Ida pergi kawin lari – cintaku yang terpendam

busuk bagai buah yang terlalu lama diperam –  kulihat kian kilau ia

seperti seorang biku tua yang baru saja menyingkap semua rahasia dunia

 

2013

 

 

Kiki Sulistyo, lahir di Ampenan, Lombok. Buku puisinya, Sirkus, akan segera terbit. Kini ia bermukim di sebuah dusun di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU. 27 Oktober 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

Oktober 31, 2013 pada 5:54 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: