Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI DEDDY ARSYA

leave a comment »

Sekali Lagi Ratap Kapal Karam

 

Harimau di atas kapal kami

bergelung di tengah ombak bersabung

tak dibayangkan pulau tersadai di tepi samudra

betapa jauhnya batas senjakala

 

Seekor tupai berekor pirang

melompat ke dalam lubang pada dinding kapal kami

dia membawa suara ngengat kelapa tumbang

gedebum jatuh mumbang

 

Pohon pisang jantan terapung-apung

telah lepas dari buah yang dijunjung tinggi

sendirian kini di lepas laut hampa diri

 

Berang-berang dari dasar lautan

menyumbul ke permukaan

kami terlonjak ketakutan

berlantun jauh – bimbang,

ajalkah yang tengah datang?

padahal dia bawa tarian ubur-ubur riang

dua pasang darwis bercinta dalam kecubungnya

lenguhnya sampai ke sini, kami mengira lenguh sapi

dari dalam kita suci – oh itu lagi

 

Tak ada yang berani

bunuh diri di atas kapal kami

-toh yang satu ini

hanya persoalan kami

manusia lata ini

 

Jembatan Ambruk

 

Jembatan ambruk

di bawahnya sungai

kuning tembikar

ke sudut matamu

menjela sampai

 

Rombongan sepeda

di atasnya jungkir-balik

antara tertawa dan menangis

kau kata, “habislah dia

habis!”

 

Sungai berbusa

pahit paya

kaki bakau

ke tepi pipimu

menjulur sampai

 

Puncak hidup

antara berhiba

dan gembira

kau kata, “derita,

hempas-

hempaslah kami!”

 

Jembatan ambruk

sisa perang panjang

ke dalam dirimu

runtuhnya sampai

 

 

 

Tini Menemui Ajal

 

Tini pulang

jam tiga petang

ketika pasar

sedang ramai

seperti bunyi

troli pada kapal

atau ban pecah

di pinggang pendakian

 

Dan sunyi tiba-tiba menyergap

tepat setelah ramai bersiderap

 

Rombongan kereta itu

yang lewat cepat di sampingnya

bagai lesat daun bawang

bergoyang hebat dalam angin lisut

dalam cuaca yang jadi

seputih suasa

tiba-tiba terjun

ke lembah tak bersaga

habis mati kalian

dalam gamang

tak berkesudahan

 

Langit jadi kedap

suaramu kini hanya

lirih terpantul

seperti Tuhan

yang bersiul-siul

dari jarak dekat

 

Tini pulang

kami menangis

entah girang: hore hore!

selamat berkabung

seluruh kampung

 

Rombongan kereta itu

pasar yang dilipat dan berkembang

terbayang bagai

perjalanan ke belakang

 

Lalu hari jadi terang

.

 

 

Deddy Arsya tinggal dan bekerja di Padang, Sumatera Barat.

Buku puisinya berjudul Odong-odong Fort de Kock (2013)

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 15 September 2013

 

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

September 19, 2013 pada 4:21 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: