Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI MARDI LUHUNG

with one comment

Dan

 

Aku turun ke tepi laut. Mendekatkan telinga ke permukaan

ombaknya. Cuma ingin mendengar: “Apa dan siapa yang

menggulung-gulungkan arah di dedasaran sana?” Dan ada ruang,

cahaya-remang, juga ganggang-ganggang yang menjulur seperti

rumbai. Juga yang selalu suntuk tertunduk. Dengan kening yang

menukik ke bawah. Seperti tak ingin menengadah. Hanya

geseran lumpur, koral dan karang-lembut-pucat yang ingin

ditatapnya. Selebihnya, memang untuk senyap dan lenyap.

 

Dan aku bergegas ke dataran bukit. Mendekatkan telinga ke

dedaunan dan bebunganya. Cuma ingin mendengar: “Apa dan

siapa yang senerik itu leluasa menyanyikan lagu hijau dan

merah?” Lagu yang meniupkan kerjap-butiran-embun. Kerjap

yang nanti akan merambat pelan di kerongkongan si jenazah

yang terpilih. Si jenazah yang ingin sekali merentangkan

langannya. Sambil berseru (meski tak mungkin), tentang

punggung langit, jembatan gaib dan kenaikan yang lebih ke atas.

 

Dan aku beranjak ke rahang jurang. mendekatkan telinga

ke nganga dalamnya. Cuma ingin mendengar: “Apa dan siapa yang

mencelupkan ujung-ujung jari ke udara? Terus memancurkan air

dari ujung-ujung jari yang telah dicelupkan itu?” Banyangan

mana lagi yang akan menadahinya. Dan kenapa juga, gaung itu

ingin terbang dan menyeruak. Seperti seruakan gaun teja yang

berkilau. Gaun teja yang segera berguguran, ketika rahang

jurang sedikit menyunggingkan hasrat malu-malunya?

 

Dan di antara bolak-balik semacam ini, betapa tak terduganya,

apa dan siapa yang ingin didengar oleh telinga.

 

(Gresik, 2013)

 

 

Majenun Hijau

 

Panggil saja aku si hijau. Hijau seperti rumput segar di rahang

kuda. Dan hijau seperti jarak pandangan yang terulur sampai ke

matahari. Dan menjadikan para terusik itu mengibas.

 

Dan menyangka, jika aku telah mengawinkan sorga dan neraka

di balik lembah. Sambil menuduh: “Bagaimana majenun ini

mengaku dirinya benar? Bagaimana pula kita jadi terlena?

Bagaimana pula, dia gampang menyebut kita tak becus?”

 

Memang, panggil saja aku si hijau. Hijau yang terbentang luas

Mengemuli angkasa. Hijau yang terentang lebar menutupi

lautan. Dan hijau yang bersembunyi di balik jubah. Seperti

anak-anak yang bersembunyi dari mata jahat. Ketika aku

digelandang dan diteriaki:

 

Mata-mata, Mata-mata, butakan saja matanya!” Dan ya, aku

tersenyum ketika ditimpuk batu. Tapi mengaduh ketika diusap

setangkai mawar. Sebab, salib itu, untukku, bukan?

 

Memang, geser ladam, sepatu serdadu serta ujung tombak dan

pinggiran tameng di cadas jalan adalah irama yang membuat aku

menari. Adalah saat ketika semua yang ada terperangah. Terus

menimpal:

 

“Kemarin, salib itu kita beri warna hitam. Sebab ada bekas

darah si sebelumnya. Kemarin, salib itu kita tancapkan tanpa

apa-apa, kenapa kini dirambati dedaunan? Dedaunan yang hijau!

Hijau!”

 

Ya, ya, sekali lagi, panggil saja aku si hijau. Hijau yang

melimpah!

 

(Gresik, 2013)

 

 

Morse

 

Kini, saatnya kita bertempur. Aku yang menunggang bintang

merah. Dan kau yang mengendarai meteor ungu, saling

berhadapan. “Apa yang kau pikirkan. Sebagian yang ada di

langit telah bergeser. Terus padam.” Dan aku tahu, jawabanmu

akan terulur jauh. Sampai ke batas yang tak terduga. Batas gelap

yang tak mungkin membuat siapa saja kembali. Mungkin jatuh

ke ruang hampa. Ya, kau sebarkan biji-biji cahaya. Aku hadang

dengan lingkaran tabir yang teramat luas. Teror bukan lagi

sebuah kengerian. Tapi, kecerdasan yang membuat kita jadi si

peluncur. Si peluncur yang berlompatan di antara keluasan.

Yang menyeret jarak jadi begitu sederhana dan luwes. Seluwes

peta semesta yang gampang mengubah bentuk dan

kebutuhannya. Peta semesta yang menakjubkan itu. Aduh, kau

lepaskan juga gelombang penidur. Apa maumu? Apa kau

merasa gampang memenangkan ini? Lihat, ayunan kabut suara

yang aku pasang. Betapa sepadan untuk menahannya, bukan?

Memang, ini adalah pertempuran yang terakhir. Sebab hanya

kita yang tersisa. Dan hanya kita yang akan menentukan: “Ke

mana lagi arah langit yang disusun? Dan kemana pula hidup

yang baru mesti ditabur?” Sementara, kenangan dan harapan

pastilah tetap kita genggam. Sedang keindahan? Ya, keindahan,

akan selalu mengabarkan tentang sebuah ledakan yang besar

tapi lembut. Ledakan yang kita berikan lewat pertempuran yang

terakhir.

 

(Gresik, 2013)

Amsal Tidur

 

Aku mencari pantai yang hilang. Ketika cuaca sedap. Dan ketika

aku menemukan jendela di lubang-belakang-kepalaku terbuka.

Dan dari lubang itu, aku berkata: “Wahai, pantai yang hilang.

Pantai yang ingin aku temukan lagi.”

 

Pantai yang ombaknya pelan. Airnya jernih. Dan pantai yang di

atasnya, burung-burung hitam beterbangan. Dan di

dedasarannya, ikan-ikan warna-warni berselipan. Berselipan

penuh semangat. Aku merasa, di sinilah aku perenang yang riang.

 

Timbul-tenggelam. Menarik-melepas. Tanpa lelah. Tanpa bosan.

Dan aku tahu, memang ada tiga sahabatku yang terus

mengikutiku. Mengikuti dengan berlari di atas ombak. Tiga

sahabatku yang saling susul-menyusul. Tiga sahabatku yang

berbeda.

 

Yang pertama si tubuh bening. Yang kedua si punya cangkang

di punggung. Dan yang ketiga, yang mudah bermalih jadi apa

saja. Dan yang sering, bermalih jadi si kucing kecil. Si kucing

kecil dengan bulu-bulu tebal, halus, merah dan agak keriting.

 

“Jangan terlalu cepat, hei!” teriak si kucing kecil. Si tubuh

bening tertawa. Si punya cangkang tersenyum. Dan aku, pun

berhenti dan menoleh. Waktu itu, ada juga benda terbang yang

turun pelan-pelan dari ketinggian. Suaranya seperti dengkuran.

 

Kami berempat menatapnya. Dan kami tahu ada yang terbuka di

satu sisi benda terbang itu. Dan ada makhluk yang menyeruak.

Makhluk dengan perawakan kecil abu-abu. Dengan tiga mata.

Dua hidung. Tanpa mulut. Tapi, kami tahu dia ingin apa. Mau

apa?

 

“Kami cuma bermain-main. Setelah itu pulang. Jadi maaf, tak

bisa ikut denganmu,” ini kataku menjawab keinginan makhluk

itu. Makhluk pun mengangguk. Terus menyentuhkan

telunjuknya ke keningku. Dan seketika segalanya pun jadi gelap.

 

Dan itu membuat jendela di lubang-belakang-kepalaku tertutup.

Aku pun terlempar ke dalam lorong. Lalu muncul di atas

ranjang. Di dalam sebuah ruangan. Dan terdengarlah satu suara:

“Lihat, penyair itu mulai bangun dari tidurnya.”

 

Tapi aku merasa di sekelilingku tak ada siapa-siapa. Ruangan ini

pun kosong. Yang jelas, entah bagaimana, rembulan yang

tinggal setengah pun berputaran di langit-langit. Aku ingin

menangkapnya. Tapi kedua tanganku kaku tak bergerak.

 

“Lihat penyair itu mungkin ingin menulis puisi!” kembali suara

itu aku dengar. Tapi apa yang dapat aku tulis? Taka da. Dan

ahai, tiba-tiba rembulan yang tinggal setengah itu membuka

kantung perutnya. Menghamburkan apa saja yang disimpannya:

 

Pohon, gunung, jalan, rumput, sepur, kantor, kebun, uang,

bengkel, bedug, mistar, obeng, botol, setrika, got, televisi,

sepatu, sisir, kopi, kapas, obat, pulpen, gajah, bunga, koran,

biawak, madu, politik, negara, kapal, mercusuar, hujan dan

panas.

 

Semuanya menghambur. Dan semuanya menguruk diriku. Aku

Megap-megap. Ingin menolak. Tetapi tak bisa. Dan aku terjebak

Di dalam urukan yang tak terkira. Antara bernapas dan tidak,

serasa tenggorokkanku tersumbat.

 

“Lihat penyair itu ingin tidur lagi. barangkali, 3.000 tahun ke

depan dan bangun. Bangun di dalam sebuah hari. Di dalam

sebuah kisah, ketika segala apa yang dipunyainya menjadi kuno.

Dan mestinya hidup di waktu yang berbeda.”

 

Waktu: ketika perairan sudah jadi daratan. Dan daratan pun

Sudah jadi perairan.

 

(Gresik, 2013)

 

 

Mardi Luhung tinggal di Gresik, Jawa Timur. Buku

Puisinya, Buwun (2010), mendapatkan

Khatulistiwa Literary 2010.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 28 Juli 2013

 

 

 

 

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juli 30, 2013 pada 9:04 pm

Ditulis dalam Puisi

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. dunia tak terduga….

    Suka

    nessa

    Agustus 21, 2013 at 2:21 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: