Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI AHMAD YULDEN ERWIN

leave a comment »

Improvisasi

Aku pergi

-Tanza

 

1

Hujan belum turun pada baris sajakmu,

juga ke jalan berbatu dan atap rumahmu.

Malam yang tersangkut ranting kering

 

tak juga bergeming oleh tatap matamu.

Kau tahu, semua mesti berakhir, seperti

bangkai capung yang terinjak sepatumu.

 

Pintu. Debu. Remah roti. Semut-semut

merayap di toples gula. Segalanya adalah

mimpi yang terbakar di telapak tanganmu.

 

Tak ada yang kekal, juga bayangan bulan

yang terpantul pada kedua bola matamu.

Sepatu kautaruh di raknya. Baju, celana,

 

singlet, sempak: kaugantung di samping

jendela. Kautatap tubuhmu di depan kaca:

Bukan sabda. Bukan kata. Bukan tanda.

 

2

Tak ada satori saat kautatap percik hujan

di nako jendela kamarmu. Tak ada kensho

saat petir menyergap gendang telingamu.

 

Kau tersenyum memandang kotak sampah

di pojok ruang tamu. Waktu telah menjadi

segelas air bening yang mengalir perlahan

 

di dinding ususmu. Kau tak lagi menatap

arloji di tangan kirimu. Kaubiarkan saja

detik-detik memercik pada tiga larik haiku.

 

Kautatap bunga-bunga krisan di meja tamu.

Kau tertawa. Semua menjelma metafora:

Bukan suara. Bukan udara. Bukan cahaya.

 

 

 

Perawi

 

Di Portland yang dingin, sepasang gagak

menolak menjadi angin. Matamu tersedak

mencari langit yang lain. Fajar musim semi

 

mematuki embun di putik kuntum cherry.

Hitam paruh gagak mengendap ke batang

pohon oak. Kuning napas waktu merayap

 

di kerah jaketmu. Matamu telah terjepit

di ruang tunggu. Derit kereta menjemput

jerit gagak. Para penumpang menjemput

 

jerit yang lain, senyap yang lain. Tak ada

angin akan menjemput hitam sayap gagak

di bukit hijau itu. Sebuah teluk terbentang

 

ke dalam matamu. Kausesap bau ombak

dengan kulitmu. Kautangkap jerit-senyap

dengan bibirmu. Langit menjadi lidahmu.

 

 

 

Kitab Angin

 

Dharma bermula di sini, di entah yang berujung

di kini. Langit menjelma tulpa: Seorang sadhu

di kuil air mata – duka sebelum sepuluh kalpa

 

biji-biji waktu kini tumbuh di kening sramana,

mekar perlahan menjadi sunya. Setangkai soka

di jantung nebula: Kesatuan dalam setiap benda,

 

urat syaraf semesta. Yang tak dikenal menyusup

sebagai huruf – menjelma taman-taman bunga,

sebelum pikiran tercipta. Biji-biji waktu tumbuh

 

sebagai matamu. Yang terbakar di malam hari

mekar di pagi hari. Yang terbakar di pagi hari

mekar di siang hari. Yang terhapus di batin ini

 

tak lain biji-biji angin, tunas angin, ladang angin.

Putik-putik angin pecah di tepi kuala, melayang

bersama sabda: Advaita! Bukan satu, bukan dua.

 

 

 

Ahmad Yulden Erwin lahir di Tanjung Karang, Lampung, 15 Juli 1972. Puisinya termuat dalam sejumah antologi, antara lain Mimbar Penyair Abad 21 (1997) dan Cetik (1999).

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 21 Juli 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juli 24, 2013 pada 5:50 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: