Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI DEDY TRI RIYADI

leave a comment »

Dan Waktu Seperti Tertidur

 

Waktu seperti kasir yang sibuk menghitung

perniagaan kita sehari-hari rugi dan untung

 

Kita bandar besar, kapal dagang dan kapal barakan

berlabuh di dermaganya. Di gerbang, pengemis dan

pelacur menunggu keajaiban datang.

 

Lonceng berdentang. Dupa dan korban barakan

dihidang di atas altar. Mayat gelandangan tergeletak

di trotoar. Pemabuk menyintir khotbah para pembesar:

Kita tak boleh merugi. Rakyat harus dilecut berkali-kali!

 

Waktu lelah. Wajahnya kuyu seperti kurang tidur

dan catatannya kotor, terkena tinta luntur.

 

Kita kubah dan balkon istana. Tambur dan terompet

berkali-kali bergema di sana. Di alun-alun, penjaja buah

dari negeri asing beradu mulut dengan penjual minuman.

Menerka hujan datang tak sesuai musim.

 

Sekawan burung vultur berkerumun. Barangkali

ada sisa makanan di dekat dapur. Seekor anjing

melintasi pemakaman, habis menggali belulang.

 

Dan waktu seperti tertidur. Di sudut kafetaria,

seseorang tampak terpekur. Ada hal-hal yang

belum selesai dia bilang; awan itu biru atau gelap,

dan bayang siapa lenyap pada pintu berwarna

pucat, di sebelah kios penjual jamur.

 

2013

 

 

Piano

 

Kurasa, kau tak akan pernah menduga

apa yang kurasakan saat jemarimu menyentuh.

Aku seperti tangga kecil panjang, merah menyala.

Kau adalah deretan rumah berwarna teduh,

yang membagi dunia dengan tiga lapisan:

awan mendung, pegunungan berwarna pucat,

dan padang pasir dengan benda-benda seperti logam

bertebaran dalam waktu yang semakin larat.

 

Kurasa, kau tak akan pernah mengerti

apa yang kuinginkan ketika angin mengukir

jejaknya di atas pasir, pada rumput teki

yang sejumput-jumputnya di sela-sela pasir.

Aku piano dengan ruang gema terbuka,

kau daun-daun hijau yang mendesak ke langit,

mengundang burung-burung – bahkan jika

mungkin – hujan yang bergulung begitu sengit.

 

Hanya kali ini, aku tak ingin kau menebak. Kubiarkan

kau duduk dengan jenak, sementara ada yang terbang

lebih tinggi daripada burung dan jatuh lebih debam

daripada hujan. Semacam jarak yang kian merapat.

Lalu habis suara.

 

2013

 

 

Dilarang Membanting Pintu

 

Perjalananmu begitu jauh. Dipayungi deretan tiang listrik

dan pemandangan gurun yang kian terik.

 

Kanopi pepohonan di sekitar atap rumah kita tetap rimbun,

bahkan ketika kau pulang setelah mengembara bertahun-tahun.

 

Hanya satu yang aku kuatirkan. Bukit ini masih sakit.

Gerowok besar menyisakan dinding penopang sedikit.

 

Kalau nanti kau datang kembali, berjalanlah memutar.

Jangan lewat dekat sumur. Tali timba itu tak panjang benar.

 

Aku kini kesulitan mengambil air. Dasar sumur itu jauh

dan gelap. Seperti perkiraan harapan yang bakal runtuh.

 

Hanya ada jembatan kecil dekat gurun.

Tempat dulu kita pernah memungut sehelai daun.

 

Dan menuliskan harapan akan hujan.

Perjalanan dari satu ke lain daratan.

 

Seperti bunyi guruh dan awan mendung yang datang.

Kau mendengarnya? Kukira hanya suara derit mengambang,

 

Setelah cahaya itu mencair dan jatuh.

Menimpa sesuatu yang angkuh dan lumuh.

Pintu yang terbuka separuh.

 

2013

 

 

Apel Kedua

 

(1)

Kalau aku terjatuh, bukan karena

kau rapuh, atau tak tabah pada

hal-hal yang membuatmu melepaskan aku.

 

Kau tetaplah pokok yang teguh

dan kurasa begitu teduh, daun-daunmu

lebih dulu mengantarku pada kejatuhan ini.

 

Aku setia pada yang ranum, juga yang alum,

seperti sepasang kekasih yang sama-sama maklum

pada sebuah perpisahan.

 

(2)

Aku tak pernah berjanji,  selain memberi bebiji.

Kubiarkan dagingku hancur dan berjamur,

hingga selalu ada perdu yang bersemi.

Perdu yang berulang kali diceritakan di ambang

tidur kanak, yang digemari oleh ternak, dan

pada sebuah taman, dijagai beludak.

 

(3)

Kalau aku terjatuh,

anggaplah sebagai bagian

dari mimpimu saja.

Dan kau hanya akan

mengingat sebuah kisah

yang mengekalkan

tidur tadi malam.

 

2013

 

 

Berlayar di Langit

Ahmad Yulden Erwiin

 

Di tangan Kush, kapal berlayar

di tengah meja. Taplak putih,

tak berbuih. Kayu keras datar.

Di mata Paz, dermaga adalah tubuh,

melengkung dalam diri. Kau,

penyeberang yang bimbang. Sungguh.

Tapi, tak ada kapal berlayar di

langit. Hanya burung-burung hitam

dalam sangkar mirip kepala seseorang

tengan membaca puisi. Dunia sepi.

Penyair dan pelukis sama-sama diam.

Di kepala meraka, malam berenang.

Ombak adalah tangan terentang,

dan ikan-ikan seperti burung balam,

duduk meratapi seseorang yang mati.

Yang wajahnya tercetak pada uang

kertas, di atas meja loket, di mana

seseorang seperti engkau mengantri

saat keberangkatan.

 

2013

 

 

Sebelum Kita Tertidur

 

Kau memulai dongeng malam ini dengan

pertanyaan, “Sudahkah kau mencuci tangan?”

Aku jadi teringat Pilatus. Dia yang mencuci

tangannya sambil berkata, “Itu urusan kamu sendiri!”

Sebelum kita tertidur, selalu saja ada cerita

bahwa tubuh seperti rumah ibadah di mana

kita tak boleh meniagakan atau menganggapnya

tempat sampah. Dan kau menyanggah, “Mengapa

di lengan kirimu kau rajah simbol derita?”

Bagiku, tidur dan mimpi hanyalah cerita

yang tercipta dari derita sepanjang hari,

sedang kau menganggap semuanya

sebagai harapan akan hal-hal baik, yang belum terjadi.

Karena itu, kau akan mengamini kalimat

di setiap akhir doa yang kita panjatkan

bersama sebelum mata kita merapat

lalu mengalirlah cerita tentang malam

di sebuah taman, di dekat pohon, di mana

Kristus berdoa dan berpeluh, sementara murid-muridnya

tertidur, sedangkan Ia berkata, “Berjaga-jagalah!”

Sebab tidur adalah berjaga dari kemungkinan

mimpi buruk. Dari hal yang kita rasakan begitu teruk.

Maka sebelum kita tidur, kukatakan

apa yang kupikirkan sebagai cerita, teruntuk

kau saja. Ya. Kau saja.

 

2013

 

 

Dedy Tri Riyadi lahir di Tegal, Jawa Tengah, dan kini tinggal di

Jakarta. Ia bergabung di Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSaR

Malam). Buku puisinya adalah Gelembung (2011)

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 14 JULI 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juli 16, 2013 pada 5:55 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: