Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI ESHA TEGAR PUTRA

with 3 comments

Tentang Mangkuto

 

Kota lama, kota hitam, malam selalu naik serupa bulan sempatbelas

kita memandang harilalu dari balik jatuhan kersik daun ampelas

ah, lambungku Mangkuto, di dalamnya serasa asam terus diperam.

 

Tapi aku serupa orang kena tenung, gerabah-gerabah berjatuhan dari

Pagu kepalaku, segala api dilarikan jauh dari mataku, siapa kaum yang

Membenamkan tinggam ke dalam ususku! Ah, lambungku Mangkuto

tuah siapa pula yang membuat nasi dingin ditelan serasa sekam tajam.

 

Kota lama, kota hitam, orang-orang berabad memasang perangkap

untuk menjatuhkan kida jantan, menggali lubang untuk merubuhkan

induk harimau, membangun kapal-kapal gadang buat menunggangi

air gila; tapi jantung-hati mereka terus dibuat remuk cerlang suasa.

 

Kandangpadati, 2013

 

 

Ombak Laut Sailan

 

Ombak laut sailan, sibakkan gerbang gelombang

sebab kibaran selempangku akan membuat langit gelap.

 

Dari pusar arus telah aku tunggangi belasan mambang, telah

aku suruh mereka memanggil segala angin segala dingin, aku

seraya mereka meruntuhkan tebing runcing segala pulau.

 

Dari gelanggang penyabungan ayam di Sungai Geringging

aku datang buat merompak urat jantung seseorang dari kaum

penggila selawat, kaum penggila nubuat.

 

“Nan Tongga, aku inginkan seekor nuri pandai bernyanyi

juga sehelai kain cindai berjambul kuning yang tak basah

direndam air, kain yang jika dikembangkan akan selebar

alam, yang jika dilipat seukuran kuku kelingkingku.”

 

“Tapi Gondoriah, telur burung di sarang manakah yang

telah menyembunyikan cindai seperti itu?”

 

Ombak laut Sailan, sibakkan pintu gelombang, berilah jalan

bagi para mambang. Maka aku akan tunai sebagai petualang.

 

Kandangpadati, 2013

 

 

Tentang Gondoriah

 

Telah kusesap pati pangkal tabu agar seketika memicingkan mata

aku tahu sedingin apa dasar terumbu. Aku panggil gelombang, aku

seru limbubu, aku tunggangi air gadang, ddan kubayangkan maut seakan

burung-burung dengan paruh bergetar dihisap samudra hitam.

 

Sebab tak kutakut berumah di pangkal pantai, tidak kukalut karang

membenam. Sebab pasang akan susut dan bulan jatuh ditutup awan.

 

Dendangkanlah lagu itu, lagu tentang beruk pandai berkecapi, tentang

siamang penabuh gendang dan tentang burung kuau dengan paruhnya

lihai menenun selendang.

 

Dan aku tahu, kelewang di pinggang akan patah dengan sendiri

kita akan menjerit untuk maut yang tak sudah. Maut yang terjepit

di antara pasak pintu hari depan dan pasak pintu hari lalu.

 

Kandangpadati, 2013

 

 

Pada Tunggul Terbakar Itu

 

Pada tunggul terbakar itu

aku temukan nasibku, Upik.

 

Seakan kudengar sayup-sampai suara tukang

dendang memainkan lagu tentang para pengilang

tebu di pinggang gunung Singgalang, tentang kuda

pacuan patah pinggang, tentang kisah anak dagang

hidup bergantungan dari kemarahan induk semang

 

Hari ke hari adalah patahan nasib baik

seranting demi seranting, dan aku terus

membayangkan ke depan adalah mimpi buruk

 

Beri aku dendang lain, Upik. Tak ada

maut, tak ada pendakian, tak ada segala

yang buruk. Tapi tunggul terbakar

itu terus aku temukan nasibku.

 

Hari baru barangkali seperti kehendak ingin

ke pasar, membeli seulas kain, lantas

menghantarkannya ke tukang jahit. Hari baru

lebih serupa baju baru, sebab kain lamaku

serasa kian tipis di badan, berhujan-berpanas

terus dibiarkan melekat seperti itu.

 

Beri aku dendang lain, seperti tarian selendang

atau gamad orang seberang dengan lagu

berkasih sepanjang hayat. Oh, telah aku temukan

nasibku di tunggul terbakar itu, Upik. Nasib

tunggul kayu berurat singkat, tidak lagi menancap

tak lagi menggapai.

 

Kandangpadati, 2013

 

 

Lumut Suliki Hijau Sutera

 

Aku ke pasar raya mengasah batu lumut Suliki

corak hijau sutera pemberian seorang kerabar dari darek.

 

Cincin perak seperti biji petai membuat mataku

rusuh di cerlang kilauannya. “Engkau berdada panas,

Tuan. Dudukkan batu lumut Saliki itu dekat dengan

kulit di jari manis, jangan beri jarak sehelai rambutpun,”

seorang pandai perak dalam dialek Kotagadang

menggoda membeli dagangannya berbagai cara.

 

“Engkau sungguh gaga, Uda. Mataku dingin

memandangmu, jantungku roboh menghadapimu.”

 

Berbilang hari kami jalan seiring dan kini

kubayangkan kekasih jantung-hatiku akan

memuji setelah cincin lekat di jari.

 

“Asahkan bapak, aku beli cincin perakmu, dudukkan

Batuku ke liang seperti biji petai itu!”

 

Kandangpadati, 2013

 

 

 

Esha Tegar Putra lahir di Solok, Sumatera

Barat, 29 April 1985. Kini, ia mengajar di Jurusan

Sastra Indonesia Universitas Bung Hatta.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 30 JUNI 2013

Written by Puisi Kompas

Juli 3, 2013 pada 1:58 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. ditunggu puisi-puisi yang lain

    Suka

    puisi cinta

    Juli 10, 2013 at 11:38 am

  2. pak maaf mau nanya kalau mau kirim puisi ke kompas itu bisa tidak ya ? terus kalau bisa formatnya bagaimana ?

    Suka

    ridha

    Mei 5, 2016 at 9:39 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: