Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI KIKI SULISTYO

leave a comment »

Penampakan Piring Terbang

di Atas Ladang Paman Kami

 

kami melihat subuh seperti berlabuh dari arah yang salah

bintik bintang lebih cepat tumbuh tinimbang biji kacang

di sepanjang ladang,

kami berdua – aku dan paman

mendengar, antara pohonan tumbang

dan mesin tua yang lama tak dihidupkan

 

di kejauhan, daun-daun palawija bagai lempeng tembaga

kami kira tuhan telah sembarangan

memutuskan kiamat dipercepat

kami merasakan dingin turun dari angkasa

seakan kutub utara sedang melintas di atas sana

 

lalu kami saksikan sebuah padang terhampar begitu saja

seperti bayangan masa depan setelah kematian

berkas cahaya yang seringan kapas terlepas di udara

mendarat di mata kami yang tiba-tiba buta

 

sebelum fajar kembang dan mata kami kembali benderang

tunas-tunas kacang memanjang, rekah di permukaan tanah

paman bilang, langit mengirim piring sedemikian besar

agar kami tak gusar, agar kami senantiasa sabar merawat lapar

 

2013

 

 

 

Juli Jempana

 

juli jempana si kuda arakan

mengantar pengantin ke bantar angin

agar tersambung apa yang belum rampung

jantung bujang dan denyut perawan

 

kekendangan hingga jelang petang

di bawah naungan langit warna kunyit

langit kemarau tua yang lebih rumit

dari perhitungan sajikrama

 

padi tumbang sebelum matang

dan ladang lenggang tanpa tanaman

masih untung ada lumbung, rumah gabah

yang tabah menanti ditampi

 

nanti malam bakal binar bara bulan

para pawang membuat kalangan

juli jempana si kuda arakan

menyambung murung orang sekampung

 

2013

 

 

Pembayun

 

maka pada hari yang tak terperi datanglah aku

membawa sirih-pinang dalam pinggan

kelon-intim calon pengantin

 

akan dititahkan atas tanah dan tanaman

keris dan warangka sehabis sajikrama

dengan kirangan seekor kerbau jantan

yang punuknya seperti gunduk berjurang

 

empat puluh cambukan dipunggung bujang

untuk tiap peluh yang pulang ke badan

ketika melarikan perawan ke rumah persembunyian

sebelum selabar datang ke kampung seberang

 

aku berjalan paling depan sebab aku membawa kabar

bakal tersiar ke penjuru pasar: dia yang tak pulang

telah terikat benang hasta, benang pengantar pesan

: dia memilih jadi daun sirih bagi pinang di pinggan

 

2013

 

 

 

Kiki Sulistyo lahir di Ampenan, Lombok Barat, 16 Januari

1978. bekerja pada Departemen Sastra, Komunitas

Akar Pohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

 

KOMPAS, MINGGU, 23 JUNI 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juni 25, 2013 pada 5:25 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: