Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI CYPRIANUS BITIN BEREK

leave a comment »

Kain (1)

 

Tak usai kutanya kembali.

Mengapa Kau tolak persembahanku?

Gandum ini, anggur dan delima ini

buah sulung terbaik tanah kubanggakan,

ciptaanMu juga bukan?

mengapa mesti selalu hangus lemak domba

boleh semerbak asapi tahtaMu?

Mengapa mesti cucuran darah hanya

mengaliri batuan mezbah?

 

Aku ini petani latah sama niatnya

bersyukur padaMu. Karena

kendati berat gumuli semak duri kutukan,

terselip selalu setia kasihMu.

Memang bukan subur firdausi lagi

tapi lebih senantiasa daripada panen di khayalku.

 

Tapi mengapa domba jua dariku Kau tuntut?

Padahal bukan gembala aku, bukan Habel

bukan tak tulus. Mengapa lain tak boleh

sampai harus kutukar hasil tanahku

dengan domba buat mezbahMu

di hadapan pemuda penjilat itu?

 

Apakah sebenarnya makna domba bagiMu

selain binatang lemah dan lamban,

tak berdaya dan diam selalu

bahkan menjelang digorok?

 

Memang kulitnya Kau balutkan pada telanjang kami

dan lezat dagingnya selalu kudamba.

Tapi tentu bukan alasanMu kan?

Engkau tak pernah mau menjawab.

Tak pernah. Sampai mengental penasaranku

matang bagai kuning dahak.

Tak pernah kumengerti mengapaMu.

 

Maka bersisian mezbah kami menghadap jua.

Aku: yang terbaik dari buah bungaran hasil tanahku

teriring gelagak harap menyenangkanMu.

Tapi domba itu hanya terlalap apiMu

perih belaka kutanggung kecewa

pada korbanku layu, menanti, tersia-sia

sepanjang terik siang tak tersambar jua.

Tuhan, sudah Kau rendahkan diriku.

Sangat, di hadapan adikku.

 

Makassar, 17 April 2013

 

 

 

Kain (2)

 

Apakah sulitnya menukar gandum terbaik

demi tambun domba seekor?

Dengan bebal diciptakan aturan sendiri

lantas memaksa Tuhan menerimanya.

 

-Wahai! Lelaki berhati batu!

Tak usah berjalan di luar pakem.

Ada yang perlu dipatuhi kendati tak mengerti.

Lantaran perintahNya tuk dijalani hanya.

Terlalu langit jalanNya di atas khayalmu.

Terlalu jauh pandangNya daripada rabunmu.

Kini akar sebatang tumbuh di hati

merambatkan salur-salur

dengan umbi pahit jahat dan licik-

akar gatal yang menghasut;

 

-Lelaki malang, nista segala jijik

telah ditolak korbannya di muka adik sendiri.

Lihatlah sumrigah wajah Habel

menoleh sekilas sebelum pulang

Perih tenggorokan tertelan bara!

Perih mata tersiram cuka!

Ejekan itu! Aib itu! Tertakik laksana rajah.

Tipis. Terhapus tidak.

Tetap rahasiakah penolakan ini

sedangkan lidah, betapa liar ditundukkan?

Lalu senyum itu, oh senyum Habel

benih tertawaan keturunan demi keturunan.

 

+ Cukup sudah, cukup untuk diakhiri.

Benih busuk perlu dimatikan.

tawa sumbang wajib dibungkam

sekali dan selamanya.

 

= Kain, mengapa bara hatimu dan pekat wajahmu?

Apakah tak akan berseri mukamu

bila engkau berbuat baik?

Tetapi bila engkau tidak berbuat baik,

di depan pintu sudah mengintip dosa,

sangat menggoda ia,

tetapi harus berkuasa engkau atasnya.

 

Aduh sayat kulit dikelupas.

Aduh rintih luka dipercik jeruk.

Alangkah gelegar teguran itu,

alangkah berat malu ditanggung

bagai pias wajah dara disingkap gaunnya.

 

+ Habel! Habel! Sumber segala petaka.

Sejak semula engkau yang lebih selalu.

Takkan lagi berseri aku

lantaran magma hati hanguskan tubuh.

Terlanjur diriku ditolak, terlanjur banjir benci ini.

Bila sungai perlu muara, kesumat perlu dituntaskan.

Oh, betapa menggoda rayuan dosa

betapa tercium nikmat aroma.

Ya, ya, jangan coba larang aku

kurenangi kini samudera dosa

dan terlelap bius kuatnya.

 

Angin kesiur tujuh arah, terbawa pesan tak sedap.

Dalam muslihat paling hitam dan pukulan teramat ahli

Habel meregang di padang, ditatap

domba-domba merumput.

Gemetar tanah memeluk tubunya dingin.

Raungan darahnya mencabik langit.

Kain terpaku Dia membunuh adiknya.

 

Makassar, 17 April 2013

 

 

 

Kain (3)

 

Pelarian

 

Dendam memang tuntas,

kendati hidup tak lagi sama.

Pada mayat itu dia tahu kini

getir sesungguhnya baru tercipta.

Sayup desis ular menggeletar semak

denting tawa paling sembilu

kekeh ular purba paling jahanam:

Nikmat dosanya! Nikmat pemberontakan!

 

Wahai, betapa dijawab tanya ibu yang rindu.

Betapa membelai masa kecil bersama.

Mengalir kisah bunda berseling isak

Firdaus terhilang dikenang selalu.

Dan dendam sangat pada beludak.

Terbayang kenangan bocahnya

pada mezbah ayah terbaring domba.

Alangkah ingin ia lukiskan dulu

warna lain mezbah sendiri

berhias buahan hasil ladangnya. Indah

tanpa gelepar domba terbantai.

 

Tapi suara itu, suara itu

selalu darah domba diminta

Apakah terkutuk pula segala buah

lantaran terlarang sebuah larangan?

Ia tak mengerti, ia ingin berbeda hanya.

 

-Tapi di manakah adikmu?

Ohoi, alangkah celaka suara itu.

Panik dan marah dia menjawab:

Adakah kau penjaga adikku?

 

Tapi rintih darah terus menuntut.

Hingga lumer keangkuhan di terik padang.

Liar matanya mencari luput. Sia-sia.

Tertutup kelam empat arah

angin menggumpal bagai aspal.

Tiba-tiba ditemukan dirinya asing.

Terkutuk dan terbuang.

Hilang harap dia melolong:

Wahai padaku tanah melaknat muka!

Dari wajahMu aku tersembunyi

dalam duka rinduku

sadar, senantiasa sia-sia.

Pelarian dan buronan abadi aku

sebagai kutuk titahMu.

Dihadang maut di tiap tindak!

Malang diriku! Sebutir dosa berpinak seribu duka.

 

-Baiklah, pelangi kasih Kupatri di dahimu

 

tanda perlindungan ilahi. Karena tujuh lipat balasan

bagi yang membunuh Kain.

 

Ke timur Eden, Kain beranjak. Pergi

Dan kembali tak pernah.

 

Makassar, 17 April 2013

 

 

Cyprianus Bitin Berek adalah Alumnus

Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Pernah bekerja sebagai wartawan di Timor,

kini ia tinggal di Makassar.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 16 JUNI 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juni 18, 2013 pada 6:31 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: