Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI GUS TF

leave a comment »

Susi Kulit, Susi Nalar

 

Lorong tubuhmu: daging terbakar menuju padam. Ah,

erangku parau, biru lebam, tersangkut di nganga jeram.

 

Lengkung batokku: tebal cangkang tempurung batu. Ah,

nalarmu, Susi, geretak ragu, gorong-gorong di kepalaku.

 

Tulang kayumu: kering berderak melengking tajam. Ah,

igauku galau, layuh-redam, tertatih di bungkuk malam.

 

Tegak batangku: serat mengeras menahan waktu. Ah,

kulitmu, Susi, lapis demi lapis: terus mengelupasku.

 

2011

 

 

Susi Tali, Susi Akar

 

1.      Tali Quipu

Seperti Phaeton yang takut kepada, tetapi selalu mengintip, angkasa,

orang-orang yang takut pada tulisan itu membuat alfabet dari tali Quipu.

Dengan bantuan warna, dan setiap gerak tertentu membikin mata ikatan,

mereka pun kembali kenal bacaan. Dan lihatlah, dewa-dewa yang dulu

marah sesudah wabah, dengan perasaan ajaib kagumnya, serta-merta

lantas menyerah. Maka, kata mereka, Baca, bacalah Susi, yang tak

henti mengerlip, tak henti mengerdip: mata ikatan, tali Bimasakti.

 

2.      Akar

Sebelum burung petir itu datang, engkau beranggapan dunia ini

pipih. Seperti Maliki yang senang setiap menemukan tempat berhenti,

kau pun senang setiap kali tak ada pertanyaan lagi. kautak suka orang

mengutip Mahabarata, mengatakan waktu adalah benih alam semesta,

karena kau tak melihat wujud, tuhan lahirmu, terpampang ada pada

lintas dan edar benda. Maka, betapa gila, memasukkan siang ke

 

malam, memasukkan malam ke siang.* Sebelum Burung Petir

itu datang, engkau beranggapan semua kata menciptakan dirinya

sendiri, kalimat-kalimatnya sendiri; semua hewan menciptakan

dirinya sendiri anak-anaknya sendiri; semua pohon tumbuh,

menyembul, memekarkan bunganya sendiri buah-buahnya

sendiri. Tak ada akar, yang berpilin, menggeliat mendekap Susi.

 

3.      Tak Soal

Si Pengunyah Serta, Si Pemakan Akar, itulah dua nama yang

kauberikan kepadanya sesudah banjir besar itu menjelmakan dia

jadi ikan salem. Kami tahu, tinggal hanya dia yang pernah hidup

di Baalbek dan Tiahuanaco sebelum menjelma jadi reruntuhan

dan kota tua, Dalam air, di dasar Sungai Minish, dia mulai

 

menyingkirkan tiang-tiang dan batu, memanah serat-serat dan

akar kayu. Menyilamkan dendam dan benci, mengangakan cakra

dan Susi. Setiap hari, setiap hari dia hanya berenang-renang. Setiap

hari, setiap hari dia hanya bersenang-senang, melupakan kami dan

pertanyaan sialan itu: mengapa ini terjadi bagaimana ini terjadi.

 

Seperti kauduga, pelan-pelan dia mulai membelah diri, menjadi

dua. Sebagaimana dulu di Baalbek, Si Pengunyah Serat lebih suka

hidup di hulu, di ketinggian, di gunung-gunung, yang membuat dia

merasa dekat dengan semesta. Sementara itu, Si Pemakan Akar,

sebagaimana dulu di Tiahuanaco, lebih suka hidup di muara,

 

di kedalaman, di lembah dan palung-palung yang membuat dia

merasa dekat dengan lempeng tektonik, sumbu-sumbu tanah yang

bergeser. Kami tahu, dua makhluk itu tak soal. Sama saja, karena

itu yang membuat dia selamat dari Baalbek dan Tiahuanaco, dan

lalu banjir besar, dan kini menganga: bergetar bersama Susi.

 

2011

*Dari QS 3:27.

 

 

Susi dari Gilgames

 

Di bawah air terjun, langit berat yang marun, Enkidu membasuh

semak gulma di punggungnya. Mamalia bergantungan, mengelayut

di pundak. Seekor ular melingkar, dari paha ke kelangkang, menjulur

julurkan lidah perak bercabang. “Engkau cabut bulu dari kulitku,”

kata Enkidu. “Apakah kausangka: telah memisahkan manusia

 

dari hewan?” Itu seperti melepas akar dari tumbuhan. Seperti melepas

getar dari Susi; merenggut gerak dari tari. “Buang pikiranmu dari bentuk,

hewan zaman lalu yang kaucambuk; ijab-kutuk makhluk. Air bukan lagi

tempat ikan, udara bukan lagi tempat burung.” Angkasa mengucurkan

sayap dan insang. Telah tak lagi beda: menyelam ataukah terbang.

 

Binatangku, kaulihat spora, dan katak-katak itu, melayang-layang?

 

Enkidu tengadah, memendam anggguk. Langit marun dan perak lidah

bersilih bentuk. Angkasa melingkar langit bercabang, dan spora dan katak

katak, seperti air terjun, seperti senyap dan insang, mengucur deras. “Ayo

Enkidu, tampung dengan tempat minum ternakmu.” Susi berdenyar;

bergetar, dalam tempat minum ternak Enkidu. “Ayo Enkidu,

 

hidangkan pada rumput makan malammu.” Dan Enkidu, dari bawah

air terjun keempat puluh itu, menampung apa pun seperti menanggung

hujan pertama 4,3 miliar tahun lalu. Menampung cambuk dan ijab-kutuk

seperti menanggung makhluk pertama 12 miliar tahun lalu. “Ah Enkidu,

betapa muda DNA-mu. Materi tak Cuma seletup dan antimateri lebih

 

tak bisa engkau ukur dari gema.” Lalu, bagaimana kaubisa percaya

kepada angka? Sungguh lucu. Kaubangga pada bilanganmu yang lima

belas digit saat bilangan tertinggi mereka hanya sepuluh ribu. Maka, apa

yang kini bisa kaukata tentang bilangan tak terhingga? Segala rupa segala

angka yang kaupercayai ada: hanya hitungan sepele dalam semesta. Ah,

 

binatangku, kaulihat klorofil, dan kehijauan itu, tak hanya warna?

 

Enkidu tertunduk, memendam angguk. Segar rumput makan malam

berkilauan, dalam Susi; dalam usus betina dan lambung-lambung jantan.

Betina-jantan masa lalu, betina-jantan di kapal dan banjir-banjir besar itu:

tak cuma Sumeria, tetapi juga Inca, Assyira, Mesir, dan Babilonia; tak

cuma dewa (kaukenang ia: Dewi Iminis), tapi juga semua yang kini

 

tengah melekat pada tubuhmu: serangga, ular, mamalia, pun si kecil itu:

kutu-kutu: Pun si yang lebih kecil: bakteri dan kuman-kuman. Pun si yang

lebih-lebih kecil: amoniak dan methan. Racun-racun itu. semua yang entah

telah sejak kapan (dari zaman ke zaman) jadi alasan kau mencari dan terus

mencari – engkau tahu mereka tak tahu – air terjun baru. Ah, binatangku,

 

Gilgames, akulah semak gulma itu: Susi, hama yang selalu dibasuh Enkidu.

 

2010

 

 

Susi Lubang

 

lubang dangingnya, kaututup dengan dagingmu. Kau

membara, bilah tembaga dalam dirimu. Gelogoh itu,

air mendidih dingin membeku.* Dada yang tumpul,

raga yang mandul, serat menganga usus mengepul.

lubang dagingmu, kaututup dengan dagingnya. Kau

menyala, pohon kosmik dalam dirimu. Zaqquum itu,

serat menganga lambung memompa. Jantung yang

tumpul, jiwa yang mandul, entah sampai kapan –

 

engkau menutup Susi membuka: Lubang Semesta.

 

2009

*Dari QS 78:25

 

 

Gus Tf lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat,

13 Agustus 1965. Buku puisinya yang telah terbit

adalah Sangkar Daging (1997), Daging Akar (2005)

dan Akar Berpilin (2009).

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juni 4, 2013 pada 3:43 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: