Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI M AAN MANSYUR

with one comment

Perihal Tokoh Utama Komik

 

Ia berdiri. Luhur dan hening. Rapuh dalam ikatan yang

rawan putus. Diselubungi jaring laba-laba dan kebisingan

dari kepalanya. Matanya terpejam bagi puing-puing, juga

bencana yang masih rencana.

 

Sepasang tangannya terentang. Lapang bagi penerimaan.

Seperti sayuran terpotong-potong. Mencintai pisau dan api

dapur. Kepalanya menampung penyakit. Sebagian berperang

melawan seluruhnya.

 

Bibirnya dijahit. Perutnya penuh kebakaran dan kelaparan.

Kemauannya lunak bagi kebingungan dan keras kepala.

 

Tubuhnya dicabik-cabik waktu. Berisi sesuatu yang

mengizinkan tubuh lain tumbuh ditubuhnya. Paru-parunya

sering kering. Hatinya kuning. Jantungnya memompa

kehidupan yang ragu-ragu.

 

Bahunya lebih kuat dari batu gunung. Pembuluh darah

menuangkan udara ke dalam suaranya. Menghamburkan

kekuatan untuk setiap ons takdirnya. Ia hidup. Dihiasi

pakaian berbagai warna. Ia bicara menggunakan bahasa roh.

Tidak masuk akal, namun penuh tetapi. Ia kadang meratapi

bebannya. Ia menggantungkan diri di kontrak besar yang

tidak pernah ditandatangani.

 

Hatinya selalu berduka dengan harapan suatu hari ia utuh

kembali. Awan akan hilang. Api yang membakarnya dari

dalam akan dingin. Lengannya terpasang lagi – dan tumbuh

jadi kebun baru. Kepalanya menjadi seluruh. Hatinya merah.

 

Ia cantik. Pemurah dan tidak pemarah. Tak tertandingi

senyumnya. Ia akan menggodamu dengan cerita yang tidak

ada ujungnya. Dongeng dan musik ajaib. Ia waktu. ia seorang

ibu. Ia mengandung dewa-dewa. Ia rahim ribuan

penyembahan dan tarian.

 

Namanya sama dengan nama negaramu. Sepasang lengannya

terentang. Mencintai pisau dan api dapur.

 

2013

 

 

 

Telanjang di Depan Cermin

 

Aku berdiri di depan cermin. Telanjang dan mencari

intim dari seluruh yang tiba-tiba asing dan liar.

 

Rambutku hujan, atau komet di langit malam. Rahang

persegiku mahir menakut-nakuti tangan pencari yang lemah

lembut. Mereka akan melihat benteng kokoh, bukan benteng

pemalu. Bibirku langit dan kakinya pada pukul 6 sore. Atau

teluk yang ditakdirkan tidak dipeluk sempurna.

 

Lekuk teluk bibirku mencibir dua danau di atasnya. Tetangga

yang tak pernah saling mengunjungi. Sepasang kesepian.

 

Masa depan mataku adalah kemarahan. Juga kelemahan

tempat cinta terjatuh. Suatu hari kelak kau akan mengatakan

hal indah mengenai mataku. Mataku kegelapan yang

mengenakan bintang-bintang tidak mati. Gelap seperti dasar

lautan. Seperti pertanyaan yang menolak semua jawaban.

Mataku menyembunyikan rahasia, termasuk dari dirinya

sendiri.

 

Aku mencengkeram wajahku. Menyarankannya pantang

menyerah. Hidungku jalan sempit dan datar. Aku mewarisi

keterbatasan. Modal baik bagi petualangan.

 

Aku menelusuri garis leher hingga pinggang. Tebing gunung.

Para pendaki belum pernah ke sana. Lenganmu masa

Depannya. Juga payudaramu. Kau akan kelelahan menanjak

ke puncak. Di bahuku akan dibangun perusahaan dan rumah

tempat seorang perempuan pelancong akan mampir. Juga

tempat kita berbulan madu selamanya.

 

Meski sudah kuat, tubuhku masih ingat aroma rahim ibunya.

Segera akan datang kau menawarkan rahim berparfum merek

lain. Jahat –  dan murah senyum.

 

Tungkai kakiku sepasang pohon. Berdiri di kiri dan kanan

jalan bersemak. Ia akan mengembalikanmu pada rahim ibu.

 

Aku remaja tiga belas tahun. Berdiri telanjang di depan

cermin. Tubuhku negeri asing. Masih menunggu

masa datang kau.

 

2012

 

 

 

Laut Berparuh Merah

 

Akan kuhentikan tahun-tahun diamku demi mengatakan kau

cantik. Setelah itu, aku bunuh diri. Atau memintamu menjadi

seekor gagak yang mematuk mataku. Aku ingin melihat

perihal terakhir sebagai merah paruhmu.

 

Halaman dan rumahmu penuh langit jatuh. Permukaannya

menyentuh dan menjadi kalung bagi leher kotamu. Laut

merebut kau. Matamu berteman dengan ikan dan terancam

mata pancing.

 

Laut adalah langit, namun sedikit lebih basah. Keduanya

cemburu pada matamu.

 

Waktu jadi siang yang padam berminggu-minggu.

Menggenang seperti kenangan yang ditinggalkan jalan

pulang.

 

Bencana melandai dan jadi tongkat yang menggandeng

Tanganku ke pantai. Dengan gemetar rindu, aku sentuh

alismu. Sesuatu yang asin dan asing menjawabku. Butir-butir

garam yang terbuat dari masa lalu kita. Aku tak bisa

merasakan angin lagi sebagai lagu. Ia menyebut terlalu

banyak nama.

 

Bekas lukaku hidup seperti sisa air yang terperangkap di

telinga usai mandi. Seperti gigi bungsu. Susah payah tumbuh

dan merobek gusiku.

 

Kau kini laut berparuh merah. Tulang rusukku debu. Cinta

jadi lumpur, jika aku menyentuhmu. Aku menyimpan napas

terakhir dalam botol. Aku meletakkannya di rambut-rambut

halus tubuh berombakmu.

 

Kelak jika kau bangkit, lolos dari laut. Aku akan menyusun

debu-debuku kembali sebagai kita. Sebagian kuciptakan jadi

kata-kata yang cuma mencintai mulutmu dan telingaku.

 

2012

 

 

 

Menjatuhkan Bintang-Bintang

 

Aku akan menggulung langit malam seperti karpet Turki dan

menjualnya kepada penawar tertinggi. Akan aku lepaskan

binatang buas dari diriku. Ia pernah tidur berabad-abad di

rumah ibadah. Selalu lolos dari perangkap cahaya.

 

Aku belajar dengan cara mengabaikan. Tetapi, sekarang,  aku

ingin berhenti sejenak. Mengingat nama mereka yang

ditelan di pasir hisap pikiranku tahun lalu. Ada hutan hitam di

kepalaku. Waktuku penuh tengkorak. Kakiku tangga.

Memanjat dan menjatuhkan diri sendiri. Kepalaku pernah

lebih ringan dan bulu burung gelatik. Menggelitik seperti

riak-riak halus di perut perahu yang berbaring di perut telaga.

Menggoyang langitku.

 

Begini ramalan cuaca pekan ini: Besok: Lebih cerah dari

senyum bayi. Lusa: Langit remaja jatuh cinta. Ceria dan

mengumpulkan hujan. Kamis: Penuh awan berbentuk tanda

baca. Jumat: Curah dari awan mirip kebun binatang. Sabtu:

Api dan apapun yang menyerupai itu. Minggu: Tidak ada

cuaca.

 

Hati-hati. Angka bunuh diri langit bisa tiba-tiba meningkat.

Begitu juga dengan kelembaban dan keasinannya. Tetapi aku

akan berjalan-jalan di cakrawala ketika matahari mendarat

di topiku.

 

Aku akan menggulung langit malam seperti karpet. Sebagai

bintang-bintang, kau akan berjatuhan. Di cahaya sekarat

senyum terakhirmu ada sesuatu yang nampak serasi.

Mengerikan dan menantang. Aku untuk pertama kali

kaupahami.

 

2012

 

 

 

M Aan Mansyur tinggak di Makassar, Sulawesi Selatan.

Buku puisinya yang terbaru adalah Tokoh-Tokoh yang

Melawan Kita dalam Satu Cerita (2012)

 

 

 

PUISI, KOMPAS, MINGGU, 19 Mei 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

Mei 21, 2013 pada 8:15 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Reblogged this on basoakbar07.

    Suka

    Baso Bin Fulan

    Desember 1, 2015 at 11:09 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: