Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI DODY KRISTIANTO

leave a comment »

PUISI DODY KRISTIANTO

 

Memedi

 

Bissmillahi, aku menunggu dengan tingkah sopan.

Kutaheskan badan lemah gemulai ini agar terbiasa

menerima sembur darimu. Sebagai yang kasat

dan tak kebal dari godaan, kupercaya kegaiban.

Kugedruk bumi tujuh kali dan kutunjuk langit

sesekali.

 

Keluarlah, mentaslah, bertarunglah.

 

Pastinya, aku pantang menyalakan lilin. Tak ada

komat-kamit, bau menyan, hingga darah jago

yang terbelah. Gemetarkah aku? Tidak!

Meski rupamu tak kutangkap dalam cermin

 

Sekali lagi, ini malam Jum’at penghabisan.

 

Kuberucap basmallah pertama. Kusuwukkan

ke dalam kelewang. Agar aku yang lemah belaka

dapat menyigar tubuhmu. Atau jubahmu.

Atau batangmu. Atau segala tampak yang kusangka

kamu. Aduhai, sanak kadang pengganggu.

 

Ingin kutuntaskan kutuk dan sumpah serapahmu dulu.

 

(2013)

 

 

Genderuwo

 

Siapa yang mau menemaniku? Kamu? Atau sesuatu

di luar kamu? Yang menerawang di sebalik kancut?

Yang mengincar dan ingin keluar dari cawat? Serta

menyiapkan kegawatan kunam sebagai serbuan awal.

Ketahuilah, aku perawan yang tak pernah gemetar.

 

Memang, aku pikir pula kita bernama sama. Bertubuh sama.

Dan berasal dari malam sama. Lama aku hindari

segala tarung. Agar tamu malam ini semesra perjamuan lalu.

Kamu peyakin ikhwal awal kewingitan. Aku pemuja yang pasrah

pada yang mengendap. Jangan lagi tergesa. Jangan lagi lewat

dengan cepat.

 

Aku telah mengamankan segala kitab ajian. Aku simpan

agar sempurna semua penyatuan. Serupa sepasang angsa

mengambang pelan. Lepaskan. Lepas segera satu selubungmu

tersisa. Kita akan berjalan berdua. Berjalan menuju pagi

yang tak kembali.

 

(2013)

 

 

Tarung Tenung

 

Puh, berkelit ataukah mengelak, ini hanyalah tingkah sekadar

penggayang yang berserah pada daya kaum gentayang.

 

Kau yang mengimani teluh. Telah pula kau sawur

kembang mawar, melati, kenanga, kantil, hingga

aroma sigaret menyan yang mengundang tentara

tak tampak pandang

 

sebenarnya, ingin kukembalikan semua pada tarung belaka.

Harus melangkah pulang sawan yang kau semburkan,

harus beranjak pisau yang kau tanam dalam badan.

 

Lalu bagaimana semua tuntas bila kita tak beradu?

Tak ada bentur, tak ada gelut, tak ada geliat.

Dan kita serahkan semua pada tiup. Pada anasir

yang menebar ranjau-ranjau di udara

 

Wahai, kau yang menyergap tuba di penghujung liang,

lidahmu berbenih celaka, taringmu mengundang bahaya.

Haruskah kusemayamkan paku ke tengah gedebok pisang.

Agar kelak kau dapat mengerti, tanpa mencakar

dapat tembus logam dalam jantungmu, jantung peniup teluh

yang membangkitkan semut rangrang dalam lambungku.

 

(2013

 

 

Menyambut Jenglot

 

Kamu kelana dan kami menyergap

Kamukah sesungguh jantung hati?

Tak maukan berubah selayak kami?

 

Tapi diammu langgam mengancam

Harus jeli kami memahami perilaku rahasia,

Penganut langkah rahasia dari kitab rahasia.

Juga pengucap doa rahasia dalam ayat rahasia.

 

Kemarilah,

Bersepakatlah dengan sebatang dupa

sebatang yang gemar mengantar

segala rupa tak ada.

 

Kami mengamini. Perjumpaan berdua bukan perkara

menumpahkan darah. Tanpa perlu bimbang, kami rela

bertukar rupa. Masuklah, berapa banyak menyan

yang kami sembahkan agar kamu yang diam

mau bertandang?

 

Kemarilah,

sebelum pagi menunjuk pukul dua.

sebelum kami gedruk tanah dalam gerak

tujuh langkah

 

(2013)

 

 

 

Dody Kristianto lahir di Surabaya dan tinggal di

Sidoarjo, Jawa Timur. Saat ini bergiat bersama

di Komunitas Saparatos

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 12 MEI 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

Mei 13, 2013 pada 6:36 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: