Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI WENDOKO

leave a comment »

Dongeng Sebelum Tidur (15)

 

Kau suka menyelipkan melati ke rambutmu.

Harumnya jadi aneh waktu bercampur bau rambut – lebih

lembut dari sitrun. Tetapi sitrun adalah harum yang paling

lembut, begitu katamu. Tahukan kau, melati selalu

mengambil harumnya dari bau lain di dekatmu?

 

Tentu aku tahu. Saban hari kau yang merawat

bunga-bunga di kebun. Kau menyapu daun-daun prem yang

rontok, menata letak batu-batu, dan membuat gundukan tanah

di rumput. Kau yang menanam tanaman rambat di dinding,

lalu mengatur bambu-bambu menutup dinding yang

menyudut. Kau pintar merawat tangkai bunga atau memotong

batang, karena itu kau akrab dengan bau-bauan itu. Tapi kau

paling menyukai anggrek dalam pot. Itu anggrek musim semi,

katamu. Harumnya tak menusuk, tangkainya ramping, dan

kelopaknya serupa lotus. Warnanya juga putih-keruh. Kau

juga menyukai azalea, yang jarang kaupangkas dan karena itu

tak tumbuh merumpun.

 

Di pondok mungil kita, kau yang menanam bunga-

bunga dalam pot. Sampai tak ada lagi tempat kosong.  Kau

menyusun krisan, selusin atau dua puluh – dalam pola tak

berimbang dan aneka bentuk. Tak boleh terlalu rapat,

katamu, agar bunga-bunga tak berdesakan atau saling

menumpuk. Kadang kau mencampur bunga-bunga, lalu

menyelipkan batang rumput – dan memakai penjepit agar

tangkai tegak dan melentur. Tetapi kadang kau hanya menata

bunga di mangkuk. Kau mengikat beberapa tangkai, lalu

menancapkan pada alas berpaku – sebelum mengisi mangkuk

dengan potongan arang, pasir yang habis dicuci, menuang air

dan melekatkan selapis lumut.

 

Waktu malam kita berdiam di kamar itu. dinding-

dindingnya sudah kaulapis dengan kertas berkarakter Fu.

Dalam cahaya pelita, kamar itu jadi teduh. Kau kerap

menyeduh teh, dan kita memandang ke luar pondok. Di langit
awan merambat dan setiap saat berubah bentuk. Bulan

bersinar di belakang pepohonan pinus. Kita menikmati bulan,

bunyi jangkrik, dan gemulai angin pada daun-daun,. Aku suka

menulis sajak pada waktu-waktu itu. katamu, sajak-sajakmu

seperti gemericik air atau bunga-bunga gugur. Kataku, aku

mencintai matamu yang seolah danau dengan warnanya yang

teduh.

 

Lama setelah kau pergi, aku masih merawat kebun

dan bunga-bunga dalam pot. Aku menyeduh teh, lalu

memandang ke luar pondok. Aku masih menulis sajak-sajak,

dan selalu mengingat harum melati yang kauselipkan ke

rambutmu…

 

 

Dongeng Sebelum Tidur (19)

 

Rambutnya menggunung dijepit tusuk konde perak

Ikal-ikal rambut keperakan,

tergerai sampai ke bahu dan alis mata.

Ia bermantel hitam, gaunnya sutra

-bersulam, berkerah lebar dan ramping di pinggang.

Wajahnya berbedak tipis, dengan perona merah delima.

Ia yang mengangkat tirai di kabin kapal

-di sisi Sungai Shamen, dalam kapal mirip kulit kerang.

Di dalam kabin, ada kursi-meja teh, sebuah dipan

lalu pintunya yang menuju buritan.

Ia pintar bermain bhipa dan menyanyi seperti burung balam.

Tapi hari itu, di sudut itu, ia hanya diam

-menyandar pintu dan memandang diam.

Waktu aku menunjuknya, ia datang

lalu menyodorkan buah pinang….

 

 

Dongeng Sebelum Tidur (20)

 

Bertahun yang lalu, pada bulan ketujuh

 

Kita minum arak di bawah langit hitam.

Kau tak pintar minum, dan setelah

cangkir ketiga wajahmu memerah.

Kau pernah berkata, “Jika ini kehendak Dewa,

bulan akan muncul di langit,

dan kita akan hidup sampai rambut memutih.”

Ah, kukiran tak baik mencobai dewa-dewa.

Tapi setelah itu angin mengusir awan.

Waktu tengah malam, bulan kembali benderang.

Di danau, kita lihat riak air yang keemasan

seolah ada lampu-lampu menembus pepohonan

 

Bertahun yang lalu, pada bulan ketujuh

 

Kau dan aku menggambar ying-yang di kertas.

Kita duduk di muka jendela,

berpakaian sutra dan kipas di tangan

lalu memandang ke kolam, di luar jendela.

Waktu malam angin singgah, dan bulan

bercahaya di daun-daun pisang.

Kau telah menyiapkan dupa dan aneka buah,

lalu sepasang lilin di meja.

Katamu, “Hari ini Gadis Penenun dan Gembala

akan bertemu di Bimasakti,

di jembatan yang dirakit ribuat burung parkit.”

 

Sekarang bulan ketujuh….

 

Aku tahu kau akan datang.

Aku telah menaruh pakaianmu di ranjang

lalu sepasang selop di kaki ranjang.

Ah, ingatkah kau, dengan pakaian itu

kau mengamati bunga prem sehabis salju,

atau bunga krisan waktu embun jatuh

dan anggrek saat hujan mengguyur.

Di meja aku menaruh semangkuk bubur bhitan,

lilin-lilin, cangkir teh dan teko

lalu vas berisi bunga bakung.

 

Di kamar itu aku menunggu.

Waktu malam merayap, lidah api di lilin melompat.

 

Baru aku ingat. Aku belum melayarkan

lentera kertas di sungai, untukmi.

 

 

Keempat Musim

 

(Puisi Kanvas untuk Wang Wei)

 

/1/

Kamelia di dalam pot, bunganya seperti peoni

Merah, merah-muda, dan putih

 

/2/

Cakrawala seperti tak berujung

Kosong, hanya gelombang laut

 

/3/

Pepohonan memaparkan bayang-bayang

Angin musim panas berembus di air kolam

 

/4/

Datang dan pergi seperti camar di atap

Awan menelan matahari yang tenggelam

 

/5/

Basah kuyup waktu musim gugur

Burung meracau, kelopak-kelopak bunga gugur

 

/6/

Pohon prem berlingkar batang tiga depa

Dahan-dahannya memayungi mata

 

/7/

Bunga persik telah lewat musim

Kelopaknya jatuh dan daunnya menguning

 

/8/

Waktu musim dingin hanya bentangan air beku

Yangliu bertengger di muka langit yang kelabu

 

 

 

 

Wendoko menulis puisi dan cerita. Ia telah

menerbitkan beberapa buku puisi, yang terakhir adalah Jazz! (2012).

Sebagian puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa

Inggris dan terbit dengan judul Selected Poem (2010).

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 5 MEI 2013

 

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Mei 6, 2013 pada 2:14 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: