Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI A MUTTAQIN

leave a comment »

Dolano

 

untuk Abban A Dawann

 

Kuntul kayu, bawa aku ke bumi lain. di bumi ini, burung-burung

begitu berat. Tak bisa menerbangkan aku ke taman teduh, di mana

hari-hari hanyalah pagi, dan kuda odong-odong mengangguk-

angguk sendiri, bukan lantaran dijejak kaki.

 

Bersama empat kuda odong-odong aku akan menyelam lubuk

laut dan bermain perang-perangan bersama ikan, cumi, keong dan

kepiting. Ular yang ikut aku ajak. Juga curut dan coro laut. Sebab di sini, curut

dan coro pemalu dan kotor. Mereka suka bersembunyi dan asyik

sendiri. Tak bisa diajak mandi bola atau kubonceng sama sepeda.

Padahal sepedaku kecil. Di keranjangnya ada kancil mungil. Rodanya

pun empat. Tapi seperti tikus, coro dan curut tetap tak mau ikut.

 

Angsa bulu, seberangkan aku ke bumi lain. Yang langitnya rendah

dan berwarna cerah. Tidak seperti langit yang ini. Tinggi dan tak

tergapai. Padahal aku ingin mengajak kembang langit bermain

denganku. Seperti teman kembang yang kujumpai dalam mimpi.

 

Dalam mimpiku, semua bermain denganku. Kupu-kupu bermain

denganku. Kucing dan anjing bermain denganku. Juga terlewu.

Juga pohon dan rumput hijau. Matahari pun merunduk dan

menebar permen warna-warni. Puji Tuhan, batu-batu dan tanah

juga bermain denganku. Mereka jadi lembek jika aku terjatuh.

Rumah-rumah mengecil dan bermain denganku. Es krim bermain

denganku. Roti dan selai stroberi bermain denganku. Meja dan

kursi bermain denganku. Mereka semua bermain denganku.

 

Ayah dan bunda juga selalu bermain denganku. Mereka seperti

teman sepantaranku. Makhluk-makhluk bersayap lalu datang

dengan kereta kelinci. Mereka membawa aku terbang ke sana

ke mari. Aku pun terbang berbalut cahaya warna-warni…

 

2013

 

 

 

Kubu

 

1

Kau kaku seperti kayu. Kau langgar syariah airku. Hingga airku

lupa yang rendah dan mengalir ke daunmu. Ke pucuk mimpimu.

 

Makhluk kuning yang dikirim mata samsu itu mengubah wujudku

menjadi butiran-butiran hijau dan ditebar ke cabang canggungmu.

 

Sejak itu bunglon bego menuduhku menjadi bagian dari satu kubu.

Tanahlah yang tahu, bahwa aku yang mendewasakan rantingmu.

 

Supaya si ranting tak merasa sia-sia dan menggenggam buah yang

manisnya dikenang ke alam baka. Supaya purna tugas & sunnahnya.

 

2

Dobol betul si codot yang menggondol buahmu dan menjatuhkan

ke gelanggang gelap. Cucumu yang tumbuh dari biji itu jadi kalap.

 

Ia menghuni halaman rumah warisan Belanda, di depan lajur

ruwet jalan raya, di mana udara berat berkat karbon monoksida.

 

Cucumu tak lagi mengenal liku laku yang kau pelajari dari sungai

di hutan itu, tempat kau melanggar syariah airku dan menipu regu

 

Pemburu buaya dengan bebunga. Cucumu memilih tumbuh seperti

lajur jalan macet itu, buntu sudah lubang hijau dan jalan samsu.

 

2013

 

 

 

 

A Muttaqin lahir di Surabaya. Setelah Pembuangan

Phoenix (2010), buku puisinya yang terbaru adalah

Tetralogi Kerucut (akan segera terbit)

 

 

KOMPAS, MINGGU, 28 APRIL 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

April 30, 2013 pada 5:13 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: