Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI MARDI LUHUNG

with 2 comments

Bukit Gelap

 

Ada bukit gelap yang muncul di perumahan itu. Bukit gelap

yang tak bisa diam. Bukit gelap yang rasanya ingin berjalan.

bukit gelap yang gelisah.

 

Dan ada kaki yang ke luar di bawahnya. Kaki berjumlah tiga.

Kaki panjang yang lentur. Bergerak-gerak seperti gerakan

belalai gajah.

 

Dan ada sekian orang melihatnya. Salah satunya malah

berkata: “Apa ini yang disebut hari akhir. Ketika yang baik

akan diangkat. Yang buruk disisakan.”

 

Dan sekian orang itu mencari matahari. Menelisik dan

menduga: “Jangan-jangan matahari nanti akan selurup di

sebelah timur. Jangan-jangan.”

 

Ada perdebatan yang tiba-tiba menebah. Tapi bukit gelap

telah berjalan. Tiga kaki panjangnya bergeliyutan. Tapi tak

merusak.

 

Lalu ada sekian orang yang mengikutinya. Menyapa dan

melambai. Dan sesekali mengiba: “Pemilik hari akhir

selamatkan kami dengan sukacita!”

 

Bukit gelap tak menggubris. Tetap berjalan. Bentangan

angkasa pun ditutupinya. Burung-burung yang terbang

digusahnya.

 

Dan waktu itu, sekian orang yang mengikutinya makin

berhasrat. Malahan, ada yang berkotbah. Berkotbah tentang

keselamatan dan kesengsaraan.

 

Juga pahala dan dosa yang tak terduga. Serta sorga dan

neraka yang segera dijelang. Segera dibuka atau ditutup.

Dengan kunci yang mesti dicari.

 

Dan ketika sore tiba, ternyata matahari tetap saja selurup di

sebelah barat. Bukit pun tetap berjalan. Sekian orang

yang mengikutinya bertambah panjang.

 

Padahal, di perumahan yang ditinggal itu, kembali muncul

bukit gelap yang lain. Bukit gelap yang lebih mungil. Dan

berjumlah sebanyak yang kau ketahui.

 

(Gresik, 2013)

 

Maret

 

Pada batu yang bertulis satu nasibnya sendiri

Aku letakkan satu nasibku yang juga sendiri

 

Waktu adalah pipi lautanmu yang membentang

Yang menjadikan aku menyelam dan berenang

 

Dan pada batu itu aku kelupas sekujur kulitku

Juga daging, otot, lemak dan dua-puluh kukuku.

 

Kau: mengapa selalu menjadi jejak-yang-sia

Mengapa pula selalu nganga-lubang-perkasa?

 

Dan bintang-bintangmu yang terbaur di angkasa

Bintang-bintang tang tak mempan diubah paksa.

 

(Gresik, 2013)

 

 

 

Menyapa Mardi

Kembang ganjil yang berkelopak seperti pedang. Merah

merekah di tanah. Di sisinya rumput. Di sisinya lagi kembang

ungu agak wangi. Lalu di atasnya kembang berduri di dalam

pot. Digantung kawat. Dan di atas kawat, ram-raman besi

dirambati anggur.

 

Kembang ganjil menetap anggur. Segera saja menulis sajak

pengharapan. Lalu si peri mungil sekecil kumbang datang.

Sayapnya bening. Punggungnya menyala. Seperti mengusung

nyala lilin. Si peri mungil hinggap di kembang ungu.

 

Juga di kembang berduri. Tapi tak di kembang ganjil.

Waktu itu, angin bertiup agak kencang. Si peri mungil pergi.

Dan waktu itu juga, si empu anggur lewat. “Ahai, menggoda

benar.” Terus dipetiklah anggur. Dipetik sampai habis.

 

Sejurus kemudian, kembang ganjil (yang baru saja selesai

Menulis sajak pengharapan) melihat anggur sudah tak ada.

Terkesiap. Dan kelopaknya yang seperti pedang pun

Menusuk dirinya sendiri. Sekaligus sajak

pengharapan.

 

Dan sajak pengharapan yang tertusuk itu melesat ke angkasa.

Diurai oleh udara: “Hiruplah!”

 

(Gresik, 2013)

 

 

Nanti

 

Kau mendirikan rumah. Aku mendirikan rumah. Rumahmu

dan rumahku berhadapan. Seperti kekasih yang saling tatap.

Dan sesekali merajuk dan melengos. Lumrah.

 

Pintu dan jendela rumahmu terbuka. Begitu juga pintu dan

jendela rumahku. Dan dari sana aku mengintip dirimu. Apa

kau memasak, membaca atau memasang foto? Sayangnya tak

jelas.

 

Dan pernah di suatu pagi rumahmu terkunci. Lampunya mati

sejak malam. Guguran daun dan sampah bertebaran. Kenapa

tak kau sapu? Apa kau sakit atau berpergian? Rasa cemasku

menebal.

 

Ah aku, begitu liar menggambarkan setiap depa dirimu.

Dirimu yang diam-diam ingin aku masukkan ke kotak kaca.

Aku pajang di beranda rumahku. Lampunya aku biarkan

kedap-kedip.

 

Dan aku memutarinya sambil menebak. Tentang waktu

mendatang. Waktu aku sudah tua. Dan selalu gagal menulis

sajak kenangan. kenangan tentang kita. juga tentang

rumahmu dan rumahku.

 

Yang kerap membuat aku menceburkan kepala sendiri ke bak

mandi. Agar dapat melepaskan semua hal yang ada

tentangnya. Sebab nanti, pastilah, akan ada yang menjadi

perhitungan yang tak meleset.

 

(Gresik, 2013)

 

 

Sedap Malam

 

Semalam aku bermimpi memakan sekantung manisan.

Paginya aku benar-benar memakannya dengan lahap dan

hati-hati. Semalam yang lain aku bermimpi pergi ke pasar.

Paginya aku berdesakan di los kecambah dan bawang. Dan

semalam yang lain lagi aku bermimpi mendaki bukit. Paginya

aku melepas penat di antara cemara dan tanda untuk terus

mendaki. Dan semalam, semalam yang lain lagi aku

bermimpi yang lain dan lainnya. Dan paginya semua itu aku

alamai. Memang begitu banyak mimpiku. Begitu banyak yang

terjadi. Semuanya saling terbuka dan terbentang. Dan

semuanya seperti kawan sejalan. Ada yang setia. Ada yang

jauh. Dan ada yang diam-diam membuntut. Tapi seketika

segera menyerimpung ketika ada tempat. Seperti kisah si

pecinta yang menyerimpungi yang dicintai sampai tiga kali.

Padahal sebelumnya berkata: “Aku ingin bersamamu ke

mana saja. Seperti asap yang mengikuti api. Atau api yang

mengikuti minyak.” Semalam, ya semalam aku bermimpi

lagi. Dan kali ini, mimpiku itu juga bermimpi dan bermimpi.

Dan di dalam mimpi-mimpinya mimpiku itu, aku mendengar

sebaris bisik: “Izinkanlah kami terus bermimpi. Sebab di luar

semuanya, kami telah mencucuk kedua mata kami, agar tak

lagi terbangun.”

 

(Gresik, 2013)

 

 

Mardi Luhung tinggal di Gresik,

Jawa Timur. Buku puisinya,

Buwun (2010), mendapat

Khatulistiwa Literary Award 2010.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 7 April 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

April 8, 2013 pada 4:35 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. hehehe…. tengkyu… tengkyu….
    akhirnya bisa nglanjutin baca. kemaren sore baru baca setengah, eh…. koran na udah raib.

    Suka

    Denok Anna

    April 8, 2013 at 4:39 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: