Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI FERDI AFRAR

leave a comment »

Taksidermi Kata

 

–          Meminjam Lukisan Berburu Banteng-nya Raden Saleh

 

keributan dalam celah kalimat sebuah sajak:

 

belum menutup benar matanya yang binal,

ketika kami menohokkan sebuah tumbak

ke pundaknya yang berlemak, seketika badan

segarnya terjungkal ke arah kanan.

dengan gemetar kami seret dagingnya

dari gelanggang, saat petang lenggang itu.

 

dengan kesabaran petapa, antara diam dan mendaras

kami menunggu yang hendak tampak bergegas.

menguar keras dalam bahasa. berkelebat dalam

benak, yang tersembunyi dalam alam rasa.

yang tiba-tiba menyerunduk ke arah muka,

kami mengelak-menjeratnya dengan kelihaian

pencak, sigap kuda-kuda.

 

di pendapa, badan sintanya kami gantung.

kami garit lambungnya agar pisah jeroan dengan

kulitnya. kami samak tampangnya agar bertengger

sangar dalam kaca. mengkilap dalam kalimat,

berkacak dalam sajak.

 

2012

 

 

 

 

Tualang Kopi

 

di lengan dedahan pokok

kami pentil tersabar, mendongak

dan melogok pada tingkap petang atariksa.

sambil merapal doa dan tafakur – akan segera tiba,

akan segera tiba meninggalkan muasal menuju tualang.

sungguh ini tak sekedar perjalanan ketertundukkan.

seperti suratan pengembara tersedak buah

pada jakun dan payudara. atau ngilu leher

kambing kurban pada meja persembahan.

 

akan segera tiba mereka menjemput,

yang mengasah taring dan pisau kuku

dan memburaikan liur geraham.

yang berkelebat pada gelap samar bulan,

seperti mekar kelelawar yang menawar rasa lapar

atau cakar musang mengintip daging merah pilihan.

mencicipi manis-getir sari sari.

 

maka kami jalani kodrat tamasya

dalam kerongkongan dan jeroan.

atau kami akan tengadah dalam jemuran pekebun,

merelakan sebagian dari badan disesap matahari

hingga kisut-kusut langsai. hingga sampai-sampai,

 

di tangan pekebun itu kami tergelincir

di pinggir tubir ujung jari asap limpahan

penuhi wajan penggorengan dan seisi bedeng.

masak-masak! gulingkan gulingkan.

agar bara blarak hantarkan gurih menir,

dan cukilan kambil merasuk ke daging.

sutil yang meratakan uap panas tungku

menguningkan kuku dan mencoklatkan kami,

yang kian renyah terpanggang dan meronggong.

 

adakah gosong telah menjadikan kami hamba

bebijian tabah yang terpilah dalam tampah,

akan sempurna dalam penggilingan atau

tumbukan lesung alu.

 

sungguh kami telah girang terhidang dalam perjamuan,

bersamamu, ketela goreng dan serbuk susu

dan seseorang di seberang yang bersikeras

menulis sajaknya yang kian gagu.

 

2012

 

 

Genduk

 

engkau yang kerap membuat cemas,

gumukmu menyaji lugas

 

kami yang tertahan di ujung ubun,

yang mengencangkan panggul

 

engkau sabetan kuas nan lancip

melengkung ke tingkap birahi

 

kami pemain harpamu,

menyentil senar ke ujung susup

 

engkau gerigi yang diselipi kantil,

juga kenanga yang merawat rahasia

 

kami perajin gerabah,

mengaduk liat hasrat ke ujung mega

engkau selapis ketan,

yang tersaji klimis dengan parutan

 

kami jemari yang mengelus pelan,

lembah bakung mahkotamu

 

engkau irisan pepaya,

yang menghenyakkan watas purba

 

kami pengendara tersesat,

di ujung sempit alis matamu

 

2012

 

 

Ferdi Afrar lahir di Surabaya, 9 April 1983. Buku puisinya

adalah Sepasang Bibirmu Api. Bermukim dan bekerja di Sidoarjo,

Jawa Timur.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 3 MARET 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

Maret 5, 2013 pada 5:00 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: