Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI SITOK SRENGENGE

leave a comment »

Kwatrin Himmirsky

 

Kulepas kau lekas,

mumpung hujan murung

dan Laut Hitam, rahim yang membiru karena rindu

masih mau menunggumu

 

Tunggu aku di pantai landai

sebelum berpaut tangan sepanjang pawai

dari istana ke kubur tua pencipta aksara

menziarahi jazirah cahaya

 

Kita simak benua-benua mengeja nama kita

dalam tujuh ribu bahasa

sambil mencari kata paling cermin

yang mempu memantulkan batin

 

Kelak, pada satu malam buta,

mungkin kau terjaga oleh lengking kata

berisak tangis dilepih mendung

sajak yang kautulis masih menggantung

 

Saat itu, kau tahu,

tak ada lagi yang perlu ditunggu

Lekas lepas namaku yang lama kauperam

bubuhkan di larik lumpang itu sebelum kembali pejam

 

Bebaskan beban

biar ambyar menjelma serbuk harapan

yang tiap butirnya berkilau, antara ragu dan risau,

seperti aku dan kau

 

Latu yang meletik sesekali lalu lindap kembali

bagai degup hidup atau kemelut maut dalam puisi

memiuh aku dan kau

terjamah jauh ribuan pulau

 

Metamorfem

 

I
Kata yang urung kauucapkan malam itu

terlunta di entah bagian mana dalam dirimu

lurung gelap yang tak ia tahu pangkal-ujungnya

yang kian kelam tiap kali ia mengharap cahaya

 

Betapa ingin ia lepas dari lembut bibirmu

setelah sekian lama lemas digelayut geragu

mengandaikan diri kekasih dari negeri fajar

mengurai rahasia sedih yang tak berujar

 

II

Jika tak mampu kauucapkan, tulis aku

mungkin sebagai surat cinta yang menyeru rindu

atau alasan yang bagus untuk mangkir dari kerja

demi percumbuan kudus pada sela paha Selasa

 

Sebab bula di pagi itu meriwis garis gerimis

suara-suara yang dipingit langit pun terurai jadi desis

sebagian dari mereka mungkin gema erang Hawa

kala Adam memanggut buah terlarang kali pertama

 

III

Kata yang urung kauucapkan

betapa murung tercurah sebagai hujan

 

Kata Hati

 

Kata-kata ini, cintaku, sangat santun memintamu,

sudi mengantar mereka kepadamu

karena rindu dan percaya betapa

hatimu senantiasa terbuka

 

Sesungguhnya mereka milikmu

bagian paling indah yang, karena malu,

begitu lama sembunyi dan berdiam diri

hingga kaulupa dan muskil kaukenali

 

Sebagai bunyi dan gambar samar

mereka selalu gusar dan gemetar

gugup-gagu, tiap kali hendak menyentuhmu

tepat di selaput lembut paling peka itu

 

Sekian lama menanti

berharap datang saat terbaik, ketika kau sedang sendiri,

membentang kalbu sebagai langit yang telak teduh

bagi segugus planet yang menolak luruh

 

Mereka ingin kembali, turut serta merasai sedihmu

menyentuh yang melepuh, mengelus yang ngilu,

merekatkan yang retak, merawat yang tersayat,

meringankan yang berat

 

Mereka kadang berkhayal sebagai hujan pertama

yang dengan senang hati menjatuhkan diri dini hari

ketika kau kemarau mengerang dahaga

di antara akar dan sumur mati

 

Alangkah ingin mereka melihat

tubuhmu yang likat bangkit menggeliat

bersama pucuk-pucuk daun berseri seusai mandi

kuncup-kuncup kembang berganti gaun warna-warni

 

Sesemarak gelak dan gerak para pencinta

di babak pembuka pesta bulan pernama

di mana nestapa terkapar tak berdaya

dihajar pijar harapan dan cahaya cinta

 

Maka maklumlah jika kepadaku

(penyair daif ini) mereka minta diantar ke hatimu

Sebab, mereka percaya, keindahan bersemanyan di hati yang terbuka

dan puisi adalah jalan sederhana untuk mencapainya

 

Penyihir

 

Sejauh kau pergi, di mana pun kau kini,

kita berada di bawah lengkung langit yang sama

Riak rinduku melurubi seluruh samudera dera

 

Tidakkah kau tahu, dalam buku batinku terguris namamu?

Huruf-huruf pucat yang merembaka sebagai nubuat

 

Kadang, ketika halaman putihku penuh olehmu,

aku ingin meniru pohon yang gugur daun,

mendamba hujan yang meluruhkan kenangan

 

Sampai jiwaku kuyup, kelopakku kuncup

Sedang kau menjelma gema, menggelimang

kesepianku yang menggeliat gamang

 

Kata-katamu, kau tahu, kadang bunga biru rumpun perdu,

sesekali belati yang membelai belikat hati

Membuatku mekar, gemetar

 

Dan bungaku luruh saat belatimu menyentuh

Layu. Luka. Di hatiku kau terpahat, mungkin tak kekal,

tapi biarlah kuingat tanpa sesal

 

Jika kelak kau kembali,

tiap kata telah memilih maknanya sendiri

Mungkin tak lagi kaukenali

 

Kau bukan penyair culas, kekasih

Cuma penyihir yang melintas ketika aku ringkih

 

Atau, kau pengembara yang gampang terkesima

Menyusur lintang bibir  bagai alur sungai di padang pasir

Hanyut aku dalam arusmu

 

Lalu bersama kita menguap sebagai fatamorgana,

mendekap harap sungguhpun fana

Atau terberai jadi kerikil, meratapi yang mustahil

 

Sitok Srengenge, penyair yang juga menulis novel dan

esai. Bukunya antara lain On Nothing (puisi), Meng-

garami Burung Terbang (novel), dan Cinta di Negeri

Seribu Satu Tiran Kecil (esai).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 24 FEBRUARI 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

Februari 26, 2013 pada 3:31 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: