Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI FITRI YANI

leave a comment »

DUA PENARI PUTIH

PUISI FITRI YANI

 

Sebuah Pengakuan

 

benar, bahwa aku yang lebih dulu menggodamu di bawah pohon

itu. sebab kau musafir kelaparan yang hampir mati berperang

melawan cuaca. dadamu berlubang, aku bisa melihat lorong gelap

sepanjang perjalananmu. aku tak tahu, mengapa persimpangan ini

diciptakan sehingga kita berjumpa dan semuanya bermula,

mengapa aku merayumu berhenti dan berteduh di bawah pohon

rindang. mengapa kau tergoda sehingga tumbuhlah kata-kata yang

menjalar di mata, telinga dan bibirmu. kau sendiri tahu, seberapa

jauh jalan yang telah kau tempuh dan kau memerlukan sesosok

tubuh, untuk sekedar mengusap bulir peluh di keningmu, bahkan

lebih dari itu. aku tertegun heran karena setelah itu kau selalu

kembali mencari-cari tubuh yang pernah memelukmu begitu erat

dan matamu menjadi kian sekarat.

 

2012

 

 

Malam di Jalan Ali Pitchay

 

keramaian yang menarikku dalam alam bahasa yang sukar kuterka

ketika kudatangi kotamu, akan menjadi satu-satunya ingatan yang

membuat dunia, bagiku, menjadi lebih luas dari yang kuketahui.

sudut-sudut kota yang lengang itu akan memulangkan ingatanku di

suatu malam yang lampu-lampunya berwarna biru. juga percakapan

tentang masa lalu usai makan malam di sebuah restoran melayu,

yang kemudian membuat kita sama-sama menyimpan rasa haru

seakan malam panjang tak akan pernah membuat kita kembali

bertemu

 

lantas kurekam semua lekuk jalan dan kita beranjak meninggalkan

sisa-sisa makan yang membuat perasaan kita kembali menjadi

lengkap satu sama lain. bukit-bukit kapur diterangi cahaya ungu,

jalan-jalan hidup dan ramai dikunjungi tamu, cerita-cerita saudagar

cina dan india tentang negeri perak tersusun si dinding-dinding rumah-

rumah batu. di kejauhan, cameroun highland menghembuskan

aroma daun teh sepanjang higway utara dan selatan. aku

terkesima, kubayangkangetar pertemuan seperti sebuah kebetulan

yang kadang-kadang membuat kita menangis di atas tangan-

tangan takdir

 

hingga akhhirnya kita akan dipisahkan oleh jalan-jalan dan harapan-

harapan yang membuat kita saling mengingat atau barangkali

perlahan melupakan. maka apa yang tengah kukatakan melalui

sajak ini, barangkali hanya akan menjadi gema di antara ruang

yang terbentang begitu panjang, yang membuatmu sejenak terdiam

sebelum akhirnya rindu menjadi patut diucapkan.

 

Ipoh-Perak-Malaysia, 17 Desember 2012

 

 

Penggali Sumur

 

ia menggali sumur, katanya ia ingin meminum air murni itu. aku

senang sekaligus berduka. karena musim sedang kemarau. ia

percaya bahwa sumur di mata tak lebih dalam dari tanah yang

tengah ia gali. maka ia terus menggali. hingga tubuhnya hilang di

dalam gelap, hingga suaranya hanya berupa gema. berminggu-

minggu. aku berprasangka baik-seorang penggali tak akan mati di

dalam lubang yang ia gali dan kedalaman mesti melahirkan

gaungnya sendiri. aku menantinya di pinggi sumur yang hampir

menyerupai jurang. tapi suaranya tak terdengar lagi, hanya

gemericik yang menyerupai suara air.

 

 

Fitri Yani lahir 28 Februari 1986. Alumnus FKIP

Universitas Lampung. Buku kumpulan puisinya adalah

Dermaga Tak Bernama (2010)

 

PUISI KOMPAS, MINGGU 27 Januari 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

Januari 29, 2013 pada 2:51 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: