Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI DEDDY ARSYA

leave a comment »

IMG00616-20130122-Tapa Barata Anak Bujang

Setelah masuk ke gua tarikah empat puluh hari di Koto Tengah

Dia pulang mengunjungi ibunya

Ibu, aku sudah bertapa

Kita-kitab segala bangsa telah kubuka

Kucari simpul derita dunia dan kupepat dia

Kalau kukata, matinya mati anjing

Terpenjara ia bersama babi segala celeng

Tidak akan hidup lagi dia abadi dalam sengsara

 

Tapi ibunya bilang: burungmu masih tegak

Hasratmu masih suka berlagak, kerampangmu gelinjang-gelegak

Pergilah ke Gunung Ledang, tempat pendekar pergi bertarak

 

Setelah turun dari Gunung Ledang empat puluh hari kemudian

Dia mengetuk pintu dapur ibunya

Ibu, aku sudah memangkas hasrat

Para gergasi rimba raya dalam tubuhku telah kubebat

Kutemu simpul amarah dunia dan kupancung dia

Kalau kukata, matinya mati pada pangkal

Ke pucuk dia tak akan hidup

Ke urat dia tidak akan tumbuh

 

Tapi ibunya bilang: Neraka dalam dirimu tak kau padamkan

Gerahammu mengunyah bagai pabrik, lambungmu karet gelang terus regang

Bagaimana mungkin petapa gemuk sepertimu sampai pada makrifah

 

Kau loba, Siampa!

 

 

Menjerat Burung Terbang

 

Kau ingin menangkap burung, katamu yang terbang di angkasa itu

Maka kau melompat bagai berkelebat pada pohon tinggi itu

Memanjati rantingnya yang berdaun paling ujung

 

Dari atas sana kau berseru:

Burung-burung bernyanyilah dan daun-daun menarilah

Akan kupasang jerat antara tidur dan jagamu, pada siang dan malammu

Aku seru pada yang hilang akan kembalilah dia padaku selalu

Bercerailah dari tumpukmu dan lepaslah kepakan sayapmu

 

Tapi tiap kau melenggang ketiakmu lepas ke tahan seperti kain basah

Gelengmu lepas dari kepala yang tidak berani tengadah atau bilang ya

Kau lompati pohon tinggi itu hingga tergapai-gapaikau di udara

 

Kau pelihara rasa gamang itu bagai lupa dalam buku sejarah

Tak berani kau menitah pada daun-daun dan burung-burung itu

Kau melompat, tapi tumitmu tidak lebih sejengkal dari tanah

Lalu kau kata hendak menangkap yang berubah di udara?

 

 

Ratap Kapal Karam

 

Kapal karam

menjelang di Pulau Pandan

padahal angin hanya diam

dan langit tampak

tak kusam

 

Mungkin ada tenung

berjalan pada lipatan gelombang

barangkali sumpah

dipesan perantara geram

 

Laut tenang

kalut dukamu

membawa asin garam

dalam pasang

ke pantai-pantai

panas berdengkang

 

Nun jauh di tengah,

paus hitam berjumpai putih

duduk diam

sendirian

 

Laut tenang

dalam deritamu

kapal karam

jadi

silam

 

 

 

Samsinar Pulang dari Pasar

Samsinar pulang

dari pasar

pukul empat petang

membawa santan

berkebat serai

dan rukuruku

 

Untuk menggulai

ikan macoaji

tangkapan bagan

nelayan Purus

mengelinjang

dalam kuali

 

Aku suaminya

tidur bergelung

di tengah rumah

hilang marwah

 

Celaka bapak si anu

kutukmu

dari dapur

yang mengepul

aroma kayu

terbakar basah

 

Celaka dia!

 

Amin semesta

 

 

 

Pacu Sapi di Simabur

 

Di kepalamu ada sapi-sapi besar panjang bertanduk

Berlomba lari di medan pacuan

Membawa karavan yang di atasnya

Masa silam duduk sendirian dengan cemeti di tangan

Sapi yang juga diarak dari masa silammu

Dan orang-orang di sini memancung kepalanya dengan arit

Mengubahnya menjadi sapi buntung masa kini yang berjalan ke depan

 

Turis-turis dari Jepang membawa rombongan tukang foto ke sini

Menggelar tenda di pinggir arena untuk menunggu momen penting:

Ketika sapi itu berak atau terkencing beramai-ramai

Mengangkat sebelah kaki untuk berkata “waw” seperti anjing

 

Di kepalamu ada sapi-sapi besar panjang bertanduk yang berpacu

Di gelanggang berbau pesing yang sudah seperti jamban

Karavan di atasnya telah lepas dari punggung

Penunggang itu terlempar ke pinggir pacuan

Meninggalkan cemeti yang melecut-lecut dirinya sendiri

Dan orang-orang di sini sepakat mengumpat:

 

“Pantat, pantat, nomor empat pantat!”

 

 

 

Dinda Petualang

Fais memotret arca ke muara Baranghari

Menulis tentang tembikar dan ukiran pada batu

Untuk majalah traveling luar negeri

Bodhisatva menyapanya, “Apa kabar, Dinda petualang?”

Anaknya merengek hampir setiap malam

“Abak, Abak!” memanggil-manggil dalam diam

Rindu terkebat pada waktu

Cemburu bersorak ke arah pintu

Sementara musim lepas terus dari tampuknya

Bagai orang tua pikun tersesat di kota besar

Mambang di awan berputar-putar

Fais memotret dari kapan yang berjalan ke depan

Sementara bumi berputar ke belakang

 

 

 

Rosnida Mencari Laki

 

Tidak berfaedah

kerjamu itu, Rosnida

ibunya memekik-mekik

di pangkal jenjang

 

Tapi dia berbedak juga

sore-sore hari

mencari laki

ke Pasar Atas

atau ke Pasar Bawah

bukittinggi sempit sekali

menawar kuini

atau duku Sijungjung

harganya murah

 

Malam baru

dia pulang

membawa lagu

selamat pagi, Ibu

telah kutemu

sumpul lukaku!

 

 

 

Deddy Arsya tinggal dan bekerja di Padang,

Sumatera Barat. Buku puisinya,

Odong-odong Fort de Kock,

akan segera terbit.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 20 Januari 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

Januari 22, 2013 pada 2:27 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: