Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI DODY KRISTIANTO

leave a comment »

Jurus Menjelang Tumbang

 

Inilah jurus menjelang tumbang:

 

kau terpuruk di pojokan. setelah terhempas

tonjokan tangal kidal. tapi kau ingin membalas

dengan sisa tenaga selembut tisu

dengan ancangan sekuat lidi

dengan pukulan selesat siput

di atasmu, bintang-bintang datang mendekat

di matamu, bulan merah pudar setengah kelam

 

tapi, kau tak ingin malu oleh pesilat muka tikus

kau tak mau takluk oleh jurus sapuan

bangau ngantuk. kau ingin tetap menghajarnya,

meski wajahmu tak tercetak di depan cermin lagi

berkuda-kudalah. siapkan seribu pukulan

pukulan dua tiga empat hanya lewat di badan

sang penantang. tepatkan juga tendangan,

tendang yang melesat jauh di atas kepala sang penghajar

 

mengertilah, kau hanya tinggal menunggu ia

mendaratkan jotos pemungkas. jotos yang ingin berpulang

tepat di jantung. di tempat yang tak lagi dapat kau lindungi

dengan gelibat bertahanmu

 

(2012)

 

 

Menangkal Sawan

 

Yang kutakutkan adalah kau.

Telah jitu kutangkal gerak gelak naga air.

Juga dapat kuringkus macan geni

yang memberiku seribu tikam pada badan.

 

Tapi untukmu, pergulatan beralih liat.

Kau teramat lihai menaruh beling di perutku.

Atau paku di jantungku. Membuatnya bergoyang,

bergelantungan saat kuancang sebuah tinjuan.

 

Kuda-kudaku bolehlah terpasang tegap,

tapi kau cukup meniup sawan. Anasir angin

akan mengantar yang rawan itu masuk ke dalam,

lalu pencar di luaran. Mereka akan berubah

semacam pendekat ganas yang mengincar.

 

Aih, kau penebar kejahatan di udara.

Petenung yang tak habis kugayang

dalam satu tonjokan tajam.

 

(2012)

 

 

Jurus Menunggang

 

Bahasamu adalah mengangkangi,

menumpangi. Maka tuntaskanlah beberapa

siasat:

 

siasat tenang, siasat mengekang, siasat

diam, hingga siasat berdendang agar tak

sampai segala kesetanan bertandang.

Segalanya tak lebih dari siasat singkat.

 

Semua semata untukmu, yang membuatnya

di bawah dan tertaklukkan. Jangan

menunggunya hingga giras dan

melontarmu ke segala arah.

 

Kuatkan pula ancangan yang telah

diwariskan para moyang. Pandangan ke

depan, sesekali melirik kiri dan kanan.

Jangan pernah kau palingkan muka

ke belakang. Jangan pernah.

 

Semua demi segala demit yang

menunggumu. Demit yang menjebak dan

menyiapkan sial agar kau yang menyimpan

kebaikan gerak tak banyak berlagak.

 

Mulakan semua dengan ketenangan,

mulakan dengan sikap seumpama kapal

karam. Agar ia tak sampai berontak, lagi

tak menyentak dengan lenggam badan

mahagalak.

 

(2012)

 

 

Dody Kristianto lahir di Surabaya,

3 April 1986, dan kini tinggal di Sidoarjo.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 13 JANUARI 2012

Iklan

Written by Puisi Kompas

Januari 16, 2013 pada 1:28 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: