Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI MARIO F LAWI 2

leave a comment »

Perjamuan

 

Sehelai kafan membungkus rotimu. Kami berlatih

Menjinakkan berpasang sumpit demi mangkuk-mangkuk mi

Yang pasrah di hadapan kami. Tiga botol selai berdebar

Di hadapanmu. Coklat. Nanas. Anggur. Tutup pertama

Tersentuh telunjukmu, hatinyalah yang berhak

Bersamamu mengakrabi derita sekaligus keabadian.

Mangkuk-mangkuk kami turut bergetar, menumpahkan

Sedikit kuahnya ke pangkuan kami. Bersitatap kami satu

Sama lain meski telah kuajarkan doa untuk

Menaklukkan muslihat lidah kami yang tiada bertulang.

 

(Naimata, 2012)

 

 

Ruang Tunggu, 1

 

Menahan godaanMu,

Eva dan Ular bersihadap.

Kami mengelus-elus dada.

Entahkah senyum Ular

Ataukah kerling Eva

Mengetarkan belulang!

 

(Surabaya, 2012)

 

 

Ruang Tunggu, 2

 

Buah terlarang ranum

Seperti biskuit hancur

Di lidah anak-anak.

 

Sedang Adam tersedu sendiri

Menyaksikan Eva

Melahirkan bayi-bayinya.

 

(Manado, 2011)

 

 

Roa

 

Sesungguhnya aku ingin terhidang sebagai mataairmu ketika menyembul.

Karena batu di Selatan telah pecah dan Tuhan tak lagi lengkap mengucapkan

kabul. Kecuali pernah kau saksikan pertarunganku melawan musuhmu

bernama Beelzebul. Kuharap kau paham jalan cerita stigmataku timbul.

 

Lalu perahu-[erahu yang kaulayarkan di ujun teluk tak perlu tahu bagaimana

ia kaubentuk. Lautan jiwamu mungkin menjelma aliran yang lekuk. Dan sesajen

yang akan kita labuhkan dalah sumbat segala ceruk. Agar dosa tak terkatakan

terbenam jauh di ufuk, tempat matahari menyembunyikan kelam segalak lubuk.

 

Kematian kita tak akan diingat Mone Kerai, karena sejatinya telinga Mahera

terlampau awas mendengarkan segala doa. Bahkan ketika kita lupa mengurai

kegembiraan dalam Padoa. Kau tahu, telah kutatah namamu dengan gemetar

di pucuk lontar belakang rumahmu enampuluh tahun silam: saat senyummu masih

berupa ikan yang dengan susah payah menyelami lubuk hatiku yang agak dalam.

 

Engkau tujuh, aku sembilan. Waktu seakan berjalan begitu pelan. Tapi kita

mesti berpisah di ujung perjalanan. Bolehkan aku bersamamu mencari Selatan?

Jika inilah masa penantian, kubiarkan kau menyanyikan Pater Noster atau

Kyrie eleison, sebelum usiaku yang habis kaubenamkan ke dalam dadamu:

hulu tempat anak-anak kita menyusu dan menenun keselamatan yang dijanjikan.

 

(Naimata, 2012)

 

 

Mario F Lawi lahir di Kupang, Nusa

Tenggara Timur, 18 Februari 1991.

Mahasiswa Jurusan Komunikasi

Universitas Nusa Cenda. Bergiat di

Komunnitas Sastra Dusun Flambora.

 

KOMPAS, MINGGU 20 DESEMBER 2012.

Written by Puisi Kompas

Desember 31, 2012 pada 1:44 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: