Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI MARDI LUHUNG

leave a comment »

Mentari

 

Aku tak pernah mencintai dan dicintai. Sebab,

sebagian hatiku telah hangus. Sebagian yang lainnya ratak dan bolong.

Sedangkan, apa yang menjadi urat-urat pendukungnya pun

tak lebih semacam saluran yang mendengung. Yang ketika

kupingmu kau dekatkan keujungnya, terdengarlah napas itu.

Napas berat yang mendesak-desak. Napas berat yang begitu

menggiriskan. Dan begitu membuat siapa saja yang turut

mendengarnya, akan merasa mendengar lenguh ternak

sebelum dijegal. Dan aku juga tak akan tersenyum. Sebab,

senyum bukanlah bagian dari bibirku. Bibir yang terus

mengetam dan mengeram. Mengeram ketika depa garis

aku tambahkan ke peta siasat itu. Atau ketika depa garis

lawan yang ada di depanku merengsek. Sambil tak lupa

merenikkan apa yang telah aku pasang dengan 20 jari. Terus

menerbangkannya seperti terbangnya serbuk-serbuk mandul

yang akan jatuh di tanah kering. Tanah yang dulunya pernah

menjadi pijakan si ular saat menggoda si pertama untuk

berbelok-belok. Terus menghujah: “Tuanku, Tuanku, betapa

sepinya dirimu. Dan betapa sendirinya apa yang kau miliki.

Tapi mengapa tetap saja kau lemparkan dadu ke arah

mangkokku?”

 

(Gresik, 2012)

 

 

Raja

 

Dan inilah aku si tuanmu! Si duna dunia. Dunia darah: “Hitam

dan putih.” Dua dunia arah yang saling berkacak-pinggang.

Juga saling memanggil dan mengerdip. Melambai dan

berkirim kabar. Tapi tak saling belai. Hanya menjelaskan:

“Jika di antara keduanya terbentang bengawan yang lebar.

Begawan dan dangkal.”

 

Bengawan dengan gelombang tinggi. Juga ikan-ikan

persegi jangkung yang saling selip. Dan saling membuka apa

yang telah terbekas sebagai luka. Sebagai hal yang selalu dan

selalu minta perhatian. Sebab, tak ada yang akan mengobati.

Kecuali diri sendiri. Kecuali apa yang telah lama menjadi

ingatan.

 

Ingatan: “Jika salah satu dari dua dunia arah itu runtuh. Maka

melesap ke udara. Dan meski tak tampak, tetap saja akan

terasa.” Dan tetap menghadirkan batu gelap, di malam gelap,

di bangsal yang gelap. Batu gelap tempat siapa saja bakal

telentang. Dan jika ada untung akan mampu memilih mimpi.

Mimpi apa saja.

 

Juga mimpi ketika Maut mesti datang lebih cepat. Atau

malah menunda sampai semua semuanya bersiap dan siaga. Sambil

memejamkan mata. Dan membau aroma sekian kembang

yang tumpang-tindih. Aroma melati, mawar, kamboja dan

kenanga. Aroma yang tak bosan menyelip ketika tetes air

jatuh di wajahmu.

 

Wajah yang untuk pertama kali tak mau becermin.  Cuma

berharap menghadap ke arah kedalaman. Kedalaman tanah

dan lumpur yang begitu rapat tak berlorong. Begitu sesak tak

berjendela.

 

(Gresik, 2012)

 

 

Empat Kuda

 

Di pelataran milikku yang berdegup kau geserkan benderamu.

Cuaca mendukung. Dan juru ramalmu yang bertopi dan

berteropong kerucut pun menyurut. Seperti akan meminggir.

Seperti akan menyingkir. “Aku bukan ingin menyergapmu!”

teriakmu dari arah yang entah. Dan aku merasa, ini adalah

awal mula kita akan berangkulan dan berkecupan: Memang,

sudah terlalu lama kita menyiagakan apa-apa yang menjadi

siasat. Sampai tak tahu, jika Maut yang bergelantungan di

angkasa itu telah bosan. Dan ingin segera berlalu. Sebab sabit

besar yang selalu diusungnya sudah terlalu kelabu. Perlu

segera dicuci dan dibilas agar balik mengkilat.”Ayo, kemari,

kemarilah dengan kepolosan!” teriakku balik padamu. Dan

bertepatan dengan itu, entah mengapa, pembukaan empat

kuda yang telah lama kita siapkan (dua kuda milikku dan dua

kuda lainnya milikmu), seperti ingin melepaskan tali-tali

kekangnya. Terus menari, mengecak dan meringkin di seputar

unggun yang tersisa. Memanggil siapa saja yang sedang

merapikan denyut-denyut jantungnya. Denyut jantung yang tak bosan

meminta: “Agar langkah rahasia yang akan datang, yang

tersimpan di amplop itu tak akan terbuka. Dan tak akan

terbaca sebagai takwil kejutan yang miring. Semiring tengkuk

si terpilih di hari perayaan korban yang tergenapi.”

 

(Gresik, 2012)

 

 

Sekak Mati

 

“Sekak mati!” katamu. Dan itu membuat dadaku berdegup.

Dan itu juga membuat jantungku mengerut. Terus memipih.

Mengeliat dan menjulur seperti tali yang luwes. Yang jika

boleh disebut, lebih dekat ke ular daripada ke belut.

 

Dan sebagai yang lebih dekat ke ular, jantungku yang

menjulur itu memasuki setiap lubang yang ditemuinya.

Seakan mencari sesuatu. Sesuatu yang dianggap dapat

mengembalikan wujudnya ke sediakala. Tapi apa itu mungkin

bisa?

 

“Sekak mati!” katamu lagi. Dan untuk kali ini perkataanmu

memantul di antara tembok, tiang dan menara. Menimbulkan

kebisingan yang bertumpuk. Yang membuat jantungku yang

menjulur itu tergeriap.

 

Dan berpikir: “Kebisingan apa ini? Mengapa begitu

mendorongku untuk melenggokinya?” Tapi, sebelum antara

melenggoki dan sebaliknya terjadi, jantungku yang

menujulur itu malah melirik ke atah rajaku.

 

Rajaku yang kini sudah seorangan. Rajaku yang membasuh

semua luka ditubuhnya. Rajaku yang telah melepaskan

mahkota dan jubahnya. Juga keyakinan dan segenap

pengetahuan yang telah menjaganya.

Dan pelan-pelan, seperti ada yang mengatur, gerimis pun

Di seputar tempat rajaku berdiri. Berdiri dengan kedua

kakinya yang telanjang. Dan demi waktu, sekak matimu yang

telah dua kali kau katakan itu, segera menggilasnya.

 

(Gresik, 2012)

 

 

Rehat

 

Tak ada yang bisa menduga. Apalagi meramal atau menebak.

Kapan kau akan memainkan lagi permainan caturmu.

Memegang tengkuk cumcum atau punggung benteng. Terus

menyelipnya di lorong yang berkelok dan berkabut.

 

Hanya kabar yang datang-pergi yang menjelma maket.

Dengan garis-garis putus. Dengan petak hitam dan putih.

Petak yang besar atau kecil. Petak yang sendiri atau

bertumpuk. Dan sebuah tanda-tempat: kamar bawah tanah.

 

Dan di bawah kamar bawah tanah itu kau berdoa dan berbicara. Tapi

pada siapa? Mungkin pada hatimu sendiri. Atau pada hati

yang lain. Yang kata sebagian orang, milik para penantang

yang menantang permainan caturmu.

 

Para penantang yang kau libas. Sampai apa yang dipersiapkan

Pun berjatuhan. Seperti berjatuhannya sekian patung berkaki

lempung. Patung dan kepala berhelm dan dada

berseragam. Tanda siaga. Tanda lengah. Tanda jengah.

 

“Aku di kamar ini saja. Biar tak bertambah yang kau libas!”

selamu. Dan di kamar bawah tanah itu, semua pion (tentunya

pionmu) pun merubungmu. Mata mereka meletup. Seperti

letupan matahari yang cuek. Matahari yang melintas.

 

Matahari yang dulunya adalah medali yang disihir. Sebab

membuat setiap yang melihat ingin merebutnya. Lewat siasat

yang gesit. Yang sengit. Yang sengit. Dan yang setiap

menunding selalu ada saja yang terbanting dan terguling.

 

“Sekali lagi, aku di kamar ini saja!” selamu lagi. Dan kamar

bawah tanah tempat kau berada pun terguncang. Seperti ingin

melayang. Seperti ingin menghilang. Seperti ingin melenyap.

Dan seperti ingin tak menempati apa-apa.

 

Padahal, setiap yang di luar kamar (pengagum atau

Pengintai), telah lama menantimu. Dalam antrian yang

Memanjang . yang ketika dilihat dari ketinggian, tampak

begitu warna-warni. Sewarna-warni ular-langit yang turun

dan menggelosor.

 

Ular-ular yang juga berhasrat pada tanya: “Kapan, kapan

kau akan memainkan lagi permainan caturmu?”

 

(Gresik, 2012)

 

 

Mardi Luhung tinggal di Gresik, Jawa Tengah.

Buku puisinya, Buwun (2010), mendapatkan Khatulistiwa Literary Award 2010.

 

KOMPAS, MINGGU, 23 DESEMBER 2012

Iklan

Written by Puisi Kompas

Desember 28, 2012 pada 12:38 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: