Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI Nezar Patria

leave a comment »

Malin Kundang

 

Bahkan saat dikutuk menjadi kepompong batu, engkau kalahkan suntuk panjang itu dengan menggambar kembali dirimu. Titik demi titik, lalu garis, dan sebuah bentuk. ”Ini bukan metamorfosis yang sulit,” katamu. Mereka tak tahu. Sebelum menjadi batu, jiwamu adalah kupu-kupu.

2012

 

 

Kutaraja, 1874

 

Di Kuala, ada lagu serdadu kumpeni
”Jayalah Willem, sebelum pagi.”

Pada laras senapan yang ria
Ayat-ayat sembunyi
di arus kali,
Lidah naga menari.

Dari Kuala, ya dari Kuala
Kapal-kapal bergerak,
Dari mulut kanon
bau mesiu merambat.

Di Kutaraja, ada doa bergema
”Tuwanku, kami bersiap mati.
Jiwa merdeka, berkalung kenanga.”

Langit gelap
dalam mimpi yang kedap.

Bulan runcing,
berlari di ujung lembing
Pedang kelewang bersijingkat,
dalam khianat.

Siapa menukar sangkur
dengan dusta sungai anggur?

Di jantung Kutaraja
pada subuh hitam itu,
Kumpeni ria bernyanyi
”Jayalah Willem, sebelum pagi.”

2010

 

 

Cinta dalam Setengah Blues

 

Cinta, katamu, adalah tangga nada
dan kau pun mulai menyusun not buta

Kudengar piano itu berdenting, garing
Ada suara saksofon, monoton

Mungkin kau tak mengerti
Cinta bukan partitur biasa

Tak bisa dimainkan dari la
Lalu berhenti sebelum si

2012

 

 

Nezar Patria lahir di Sigli, 5 Oktober 1970.
Ia bekerja sebagai wartawan, dan berkumpul di Komunitas Tikar Pandan, Banda Aceh.

KOMPAS, MINGGU, 16 DESEMBER 2012

Iklan

Written by Puisi Kompas

Desember 17, 2012 pada 2:31 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: