Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI ALIZAR TANJUNG

leave a comment »

Rokok, Asap, Api

 

rokok;

asap, kau si senang,

lahir dari tubuhku,

dari tiada jadi ada,

bebas mengembara ke udara,

yang kau inginkan,

aku si celaka,

perlahan-lahan membakar diri sendiri,

lenyap jadi abu.

 

asap;

rokok, kau si senang,

dipakai dan digunakan penghilang suntuk,

pada kepalamu cahaya,

pada pangkalmu ciuman.

aku si sakit yang tak diterima,

dikibaskan dari abu

dan pandangan mengganggu,

terbang ke udara,

lenyap begitu saja.

 

api:

asap, kau si beruntung,

tak perlu sampai ke pangkal bibir,

telah bebas jadi angin,

seperti rokok yang setia,

pada tubuhnya dia menikmati tubuhku,

aku si malang dipaksa hidup

tidak pada tubuh sendiri,

panasku tak sampai,

dinginku tak pucat,

belum samapi ke bibir dimatikan dalam asbak.

 

2012

 

 

Api Pulang ke Suluh

 

api meminta pulang ke suluh,

suluh meminta pulang ke bilah,

sabuk terbuang dari buluh,

buluh terbuang dari bahasa kata.

 

api angin terang jalan pulang,

seterang alif sampai tubuh ya,

tetapi titik ya segelap arang sabuk,

jalan melintang di tubuh alif,

sabuk jadi abu sepanjang pulang.

 

2012

 

 

Pitatah dan Pemiliknya

 

si pemilik pitatah

telah puas belajar pitatah,

“si tuli peletus senapan”

letus itu tak perlu membuatnya menutup telinga,

“si buta peniup salung api”

besar api di tungku tak perlu masuk ke matanya,

“si lumpuh penghalau ayam”

duduk di rumah berselonjor kaki.

 

tapi si pemilik pitatah telah jadi pemilik murung

di jantung yang sesak,

“si tuli telah jadi pelomba lari”

hilang peletus senapan,

“si buta jadi penerka bentuk warna”

siapa penghidup api di tungku,

“anak ayam sudah datang”

hilang sudah pekerjaan si lumpuh..

 

pemilik petitak beralih profesi

pemilik sunyi, bahasa kata tidak pulang ke lidah,

seperti perantau yang merantau seputar di luar

lingkaran dirinya, di sana-sana saja.

 

2012

 

 

Lima Kuku Si Pincang

 

di dalam kamar itu kau menonjok dengan kaki pincang,

lima kuku kakimu menacap daging, menanam gigil,

lima kuku kakimu satu lagi tidak menentu,

sepuluh kuku tanganmu di angkuh yang tak mau tahu.

 

tetapi sebelah matamu mengatakan lima kuku itu

melompat keluar jendela yang kacanya pecah

tepat di depanmu,

sebelahnya lagi hanya mengatakan seperti melihat,

tentu kau tidak ingin berpegang pada si ragu dungu.

 

Mencangkung dengan kaki pincang tak serta merta

membuatmu menjadi si sakit yang dilupakan,

ada sakit yang tidak tertanggungkan di sebelah kakimu yang lain

dan di bibir jendela yang pecah, pada kuku mencakam daging

itu juga.

 

(Karangsadah 2012)

 

 

Benang Celana Robek dan Dengkul

 

benang celana robek:

terlepas dari dengkul itu tidak membuat aku

terlepas dari daging sakit,

pucatnya dingin,

aku si tubuh yang ditanam dalam benang sajak,

lahir  dan gugur dalam sakit sajak.

 

dengkul:

selain tubuh ini apa yang aku miliki

selain pangkal rambut yang sakit,

aku si daging yang dilecuti tubuhmu,

lahir dan gugur dalam ngilu sajak.

 

(Karangsadah 2012)

 

 

Alizar Tanjung lahir di Karang Sadah, Solok, Sumatera Barat,

10 April 1987. Saat ini ia tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan

Pendidikan Agama Islam di IAIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat.

 

KOMPAS, MINGGU, 16 DESEMBER 2012

Iklan

Written by Puisi Kompas

Desember 17, 2012 pada 6:06 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: