Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI ESHA TEGAR PUTRA

leave a comment »

Pada Retakan Patung Singa

 

Pada retakan patung singa, pada porselin gambar naga, pada jendela
sirah penghisap cahaya, pada ambin yang tiap sebentar menjatuhkan
serbuk kayu, aku kenang kau dalam gerak udara masih serupa itu.

Di sini orang-orang masih berdendang tentang sepertiga gunung
diruntuhkan ombak gadang, tentang belasan anak gadis yang hilang
di jalan bersimpang lima, tentang jodoh serta maut yang tak
boleh disebut apabila malam sudah larut, dan kita berembut tempat
berdiam di setiap babakan dendang itu dihentikan.

Pada retakan patung singa. Aku pandang matamu masih sirah begitu
juga, aku rasakan di dadamu masih berisi gemuruh ombak gila.

 

Kandangpadati, 2012

 

 

Melawat Pagu, Merawat Hari Lalu

 

Yang terletak di atas pagu. Cincangan kayu gaharu, patahan tulang
kaki rusa, tebaran biji kapulaga, dan mantera ibu menanak nasi
dengan sugi tersangkut di geraham tepi.

Yang terletak di atas pagu. Pedas bubuk lada hitam, dendeng kering
dari rabu sepi, aroma gula gardamunggu dan pisau berkarat buat
mengerat putus leher ayam jantan.

Aku melawatmu, yang terletak di atas pagu, sisa demam pada hari lalu
seperti gaduh magrib penuh cerita hantu dan peria pahit yang terus
dipaksa untuk digigit. Aku melawatmu, yang terletak di atas pagu, sisa
mimpi buruk pada jalur ladang tempat orang hilang dan rimbun
batang tebu udang yang tak kunjung manis sampai sekarang.

Aku terbayang dentang bunyi sendok panjang beradu dengan kuali
Para ibu dengan lengan jilah sedang menari. Gelakak santan panas
Bergelumbai menyimpan dusta air susu dari bekas uap air menanak nasi.

Aku melawatmu lagi, hari-hari penuh air pencucian perut ikan, hari-
hari penuh dengan patahan senapang pelepah pisang.

 

Kandangpadati, 2012

 

 

Oslan dan Lagu Palinggam

 

Palinggam adalah orkes lama,
dalam lagu berdayung sampan, dalam joget angin selatan.

Bandarnya berair hitam, tepian dengan bangkai kapal dagang
apabila bulan susut dinding gudang-gudang tempah di seberang muara
merupa dahi kulit angkut tua dengan kerutan panjang kait-berkait.

Aku tergiang dendang lama, Oslan memainkan gitarnya, ombak menari
bersibantun di karang bukit Palinggam. Sampan sedang bertaut tenang.

Duhai, tengah hari pekak dalam panas sedang berdengkang
Gadis-gadis bertali kutang genting mencuci periuk nasi. Seakan hari
dada jilah mereka pepaya masak sedang berbuai.

Serasa sampai, serasa sampai

– Kalau Oslan sudah memainkan gitar, pasir basah bakan berderai.

Di Palinggam, roman percintaan 1000 tahun sudah lama dikalahkan
tebing bukit landai berpengang-gadai dengan sisik ikan karang, patahan
tulang ekor pari, dan isi dada penarik pukat yang terbelit selusin peniti.

Duhai, apabila malam naik maka angin samudera mendesir, seakan
serunai dibunyikan tukang dendang paling mahir, seakan dukun pulau
sedang memiuh jantung-hati dengan pukau, “Oslanm mainkan gitar
lagu getar selangkang kuda jantan penarik bendi…”

– Kalau Oslan memainkan gitar, air susut bakal meninggi.

 

Kandangpadati, 2012

 

Di Pagaruyung

 

Di Pagaruyung
langit dengan retakan tempurung

aku mimpi
kerumunan sialang mematahkan kayu gadang
tiga-empat-mungkin lima burung balam
serentak jatuh limbung.

“Asah pisau, anak, asah pisau.
Sampai punggung jadi mata, sampai
mata jadi jantung.”

Di Pagaruyung
barangkali ini semacam permainan tukang tenung

aku mimpi memanjat dinding
bertopangkan kuku sebentuk mata lembing
lima ribu bisa lipan bunting menaikkan bisa
dari tungkai kaki hingga lambung.
“Raut bilah, anak, raut bilah.
Jika tajam pisau akan menusuk ke dalam, jika
ke dalam tangis sudah diperam.”

 

Pagaruyung, 2012

 

 

Makan Gulai Tembusu

 

Telanlah gulai tembusu pedas itu, Abigail
di sini malam akan terus berasap
orang-orang duduk bersila.
sambil meremas kantung kemih dipenuhi uap air

mereka saling berbagi cerita, tentang
kuda besi hitam melintasi kota, naga belang sirih-hijau
bergelung di tiang rumah duka, kucing bermata juling
mencuri ikan kering dari satu kedai ke kedai lain.

Dan tentang lengkisau angin petang
yang merobohkan ketapang gadang
di sepanjang muara jalur peranakan udang.

Tenggaklah air perasan empedu lembu itu, Abigail
sebab apabila jam malam sudah diketuk
dan lampu-lampu sepanjang jalan bergelabau
angin pun tak akan berani mendesau.
Tenggaklah, Abigail, sebelum bulan mengayunkan sabit
dan segerombolan kelelawar berhenti menjerit.

Maka yang termakan bakal mendaging,
yang terminum belum tentu bikin usus mendingin.

 

Kandangpadati, 2012

 

 

ESHA TEGAR PUTRA lahir di Solok, Sumatera Barat,
29 April 1985. Buku puisinya berjudul Pinangan
Orang Ladang (2009)

KOMPAS, MINGGU, 9 DESEMBER 2012

Iklan

Written by Puisi Kompas

Desember 10, 2012 pada 3:54 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: