Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI F AZIZ MANNA

leave a comment »

Perempuan Tanggul

 

/I/
perempuan yang berdiri di pinggir tanggul malam-malam,
adakah yang kau tunggu, pangkalan telah sepi, pengemudi
berselonjoran dan bermimpi dalam lagu fangdut yang sedih,
pemanggul dan penarik melengkung dalam sarung yang penguk,
adakah yang kau tunggu, hai, perempuan yang berdiri di pinggir
tanggul malam-malam, angin mengalir seperti lumpur mencair,
menepuki pipimu nyempluk, nggegoyang rambutmu pirang,
nyenyusup di kekain penutup tubuhmu yang siap meletup,
adakah yang kau tunggu, seorang malaikat merayap, hinggap
mendekap, pada mulut setengah terbuka kau berkata: aku tidak
sedang bekerja, apakah yang kau tunggu, hai, perempuan yang
berdiri di pinggil tanggul malam-malam, kau merekok, kau
pandang hamparan hitam dalam sesedotan begitu dalam,
hembusan kencang dan panjang dengan mata memejam:
seseorang telah mengambil hatiku, aku tak tahu namanya, di
mana tinggalnya, apakah shalat, apakah bejat, kami hanya
bertemu begitu saja dan tawa pecah di mana-mana dan hanya
ada pesan setelah persetubuhan: akan selalu ada waktu, akan
selalu ada bagi yang setia, segera, secepatnyam entah kapan
waktunya, entah di mana

 

/II/
matahari angslup seperti matamu yang surup, angin membuat
bayangan rambutmu kian panjang, aku sekarang bersama
tanggul melayang di depan rumahmu, rasanya ingin jatukan
di ke hamparan berbayang hitam, aku ingin menyati
denganmu seperti gerbong kereta yang dilahap terowongan,
tapi apakah lelahku kan sudah, kau berkata seperti bertanya
sepertu berkeluh-kesah, bibirmu bergetar menahan sumpah-
serapah, hanya tuhan yang tahu dan hana tuhan yang punya
jawab bagi yang ingin tahu dalam keluh, air matamu jatuh
seperti embun subuh, aku merindukanmu, sangat, demi masa-
masa sulit yang kulalu tanpamu, aku merindu, sungguh, dan aku
cuma bisa berlari, lari, jauh, menjauh, matamu seperti
pancuran, lembab dan sembab, langanmu putus asa, pijakanmu
kian lemah, ingin saja lungkrah, aku ingin ke arahmu, sungguh,
tapi pintu tak pernah terbuka untukku, kau yang di dalam, apa
mendengar suaraku, apa menangkap teriakanku

 

 


Percakapan dalam Lumpur

 

ketika hujan badai menerpa, kau tak perlu sembunyi, tak perlu
menggali, hujan tak akan menggedor dengan lembing
gelagarnya di atas genting pintu, dan jendela, bukankah tak ada
itu semua di rumah, hujan hanya merembes dan mengusap,
seperti sapu tangan yang menyesap keringat dan sisa isak, kau
tak perlu berteduh, tak perlu, matahari selepas badai tak akan
mampu membakarmu, lengan apinya tak akan mencapaimu, dia
akan padam dibiakkan rerumput dan bebatuan, hanya
menguapkan berbintik lembab jadi hangat, seperti pelukan, tapi
mengapa kami tak bisa melihat apa-apa, ibu, apakah mata kami
buta, ataukah dunia gelap gulita, pandangan bisa menipu, bisa
menipu, dengarlah: bulan hitam mengelinding dihembus angin,
beburung berayun di bebayang rimbun pohonan, kami tak lagi
bisa mendengar, ibu, seluruh suara telah kehilangan telinga,
dengarlah dengan pikiranmu, dengan pikiranmu dengarlah:
bulan hitam mengelinding dihembus angin, beburung
berayun di bebayang rimbun pohonan, pikiran, di mana
pikiran kami, ibu, di mana kami temukan pikiran, mata yang tak
melihat, telinga yang tak mendengar, ini kelapa bukan kepala,
ibu, dunia ini tak seperti dunia itu, dengarlah dengan pikiranmu
jangan dengar pikiranmu dan lihatlah dunia baru di mana bulan
hitam menggelinding dihembus angin, beburung berayunan di
bebayang rimbun pohonan

 

 

F Aziz Manna bermukim di Sidoarjo, Jawa Timur. Buku puisinya berjudul
Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang (2010) dan Wong Kam Pung (2010)

KOMPAS, MINGGU, 2 DESEMBER 2012

Iklan

Written by Puisi Kompas

Desember 3, 2012 pada 6:05 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: