Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI MUGYA SYAHREZA SANTOSA

leave a comment »

Pemandian Badak Putih

 

Mereka datang tanpa tembang

hanya mengokan senapan

menakuti kami

demi pala, lada dan kopi

 

dengan tubuh jangkung

mereka merasa paling tinggi

membalas santun kami

dengan mendepak kepala berpeci ini.

 

dengan tubuhnya yang putih

dan seragam berdasi.

mereka menumbuhkan kumin

mengusapnya, seraya mendesiskan

bahwa kami tidak lebih berharga

dari pelor panas di atau darah di ujung belati.

katanya, hiduplah dengan berbakti

padanya, demi kehormatan melayani.

 

seperti badak dengan tubuh berpetak

mereka memamerkan diri

setiap hari, di bawah matahari

mandi dari sumur tempat moyang kami

minum dan belajar mengaji.

dan kami tinggal budak, kini

seorang tiri di rumahnya sendiri.

 

dinaungi pohon beringin

mata air itu terus tak pernah kering

bagai sudah terlampau nyeri juga perih

untuk berhenti mengaliri.

 

tubuh mereka yang semakin hari

memutih tersepuh serapah kami.

menggilap disembunyikan jas

dan menghirup cengkeh dari kebun kami.

 

dari jauh kami menatap-nanap

ke arah sumber pembikin pelangi

yang memancar dari lubang sumur itu.

 

tapi mereka dengan kuda-kuda besi

melintasi jalanan yang kami bangun sendiri.

angkuh, tak mau peduli

kalau kami nanti mati

karena haus dan terlindas

kaki-kai baja, tertabrak sengaja

oleh culas-culas mereka.

 

(2012)

 

 

Variasi Pupuh Balakbak

 

/a/

ada geletar sukma ditangan fana; asmara

santun digembalakan ke padang doa; aura

selalu, selalu sampai pada ruang tanpa sisa; niscaya

 

/b/

ada sunyi dijatuhkan dari langit; puisi

sesekali kuas nafsunya meningkahi; pelangi

katanya, katanya berisi ingatan tentang hujan; abadi

 

/c/

ada kamboja jatuh ke dada makan; ingatan

melepas ruap, meletup dari dosa; impian

perlahan, perlahan mencecar kesenyapan; kenangan

 

/d/

ada bara dilipatan ingatan; amarah

seperti dahaga tak sampai tandas; gairah

setia, setia menjaga sekam dalam kenangan; musibah

 

/e/

ada kepak kelelawar langit petang; sengsara

sayapnya runtuhkan pecahan duka; derita

seakan, seakan tak lagi bisa terbang bayang; petaka

(2012)

 

Mugya Syahreza Santosa lahir di Cianjur, Jawa Barat, 3 Mei 1987.

Buku puisinya adalah Hikayat Pemanen Kentang (2011). Kini ia

Tinggal dan bekerja di kaki Gunung Wayang, Bandung Selatan.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 18 NOVEMBER 2012

Iklan

Written by Puisi Kompas

November 19, 2012 pada 3:44 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: