Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI JOKO PINURBO

leave a comment »

Hujan Kecil

 

Hujan tumbuh di kepalaku.

Hujan penyegar waktu.

 

Memancur kecil-kecil.

Merincik kecil-kecl.

Dihiasi petir kecil-kecil.

 

Hujan masa kecil.

 

(2012)

 

 

Airmata

 

Biarkan hujan yang haus itu

melahap airmata

yang mendidih

di cangkirmu.

 

(2012)

 

 

Sungai

 

Ibu membekaliku sebuah sungai

yang jernih dan berkecipak-cipak airnya.

Sungai itu ditanam di telapak tanganku,

mimpi ibu terbawa dalam arusnya.

 

Bila aku tidur, sungaiku berkelana

Menyusuri garis-garis nasibku.

Gemercik di tengah hutan.

Gemuruh di malam jauh.

 

Bila rindu meluap dan aku banjir

jari-jari tanganku mengucurkan air.

 

(2012)

 

 

Keranjang

 

Perempuan itu membuat keranjang

dari benang-benang hujan

dan menggantungnya di beranda

 

di dalam keranjang ia tidurkan bayinya,

bayi yang rahim dari rahim senja.

 

Bila malam haus cahaya,

bayi mungil itu menyala

dan keranjang dirubung sepi di beranda.

 

(2012)

 

 

Batu Hujan

 

Menjelang subuh lelaki tua itu

keluar dari tidurnya, kemudian masuk

ke dalam batu besar di depan rumahnya.

 

Di dalam batu ia temukan

bongkahan bening dan biru;

hati hujan yang matang diperam waktu.

 

(2012)

 

 

Petir

 

Petir yang pecicilan itu

terkapar dihajar sepi

yang sedang mabuk

di atas sajakku.

 

(2012)

 

 

Doa Malam

 

Tuhan yang merdu

terimalah kicau burung

dalam kepalaku.

 

(2012)

 

 

Keringat

 

Tiap hari ayah memasukkan

butiran keringat ke dalam botol

dan menyimpannya dalam kulkas.

 

Bila saya dilanda demam yang ganas,

ayah menuang keringat dinginnya

ke dalam gelas, saya minum hingga tandas.

 

Cenguk. Cenguk. Asunya amblas.

 

(2012)

 

 

Mengenang Asu

 

Pulang dari sekolah, saya main ke sungai.

Saya torehkan kata asu dan tanda seru

pada punggung batu besar dan hitam

dengan pisau pemberian ayah.

 

Itu sajak pertama saya. Saya menulisnya

untuk menggenapkan pesan terakhir ayah;

“Hidup ini memang asu, anakku.

Kau harus keras dan sedingin batu.”

 

Sekian tahun kemudian saya mengunjungi

batu hitam besar itu dan saya bertemu

dengan seekor anjing yang manis dan ramah.

 

Saya terperangah, kata asu yang gagah itu

sudah malih menjadi aku tanpa tanda seru.

Tanda serunya mungkin diambil ayah.

 

(2012)

 

Joko Pinurbo lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962; tinggal

di Yogyakarta. Buku puisi terbarunya; Tahilalat (2012). Kumpulan

tweet-nya akan terbit dalam waktu dekat.

 

KOMPAS, MINGGU 18 NOVEMBER 2012.

 

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

November 19, 2012 pada 3:50 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: