Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI FAISAL KAMANDOBAT

with 5 comments

Drama Tengah Malam

 

Lihat, bagaimana aku menjadi hantu:

Untuk menjelajahi bumi dan langit,

Jiwaku mesti mengendalikan

Jasa ketakutanku.

Kukenakan jubah putih

Sebagai sayap, sekaligus tanda

Aku berasal dari alam setengah abadi.

Seperti angin, wajahku penuh lamunan;

Aku menghuni dunia yang hampir mustahil,

Dan dari sanalah aku datang padamu.

 

Aku suka berdiam di pohon-pohon

Yang lebih besar dari pikiran manusia;

Atau berkemah di tanah-tanah kosong,

Rumah-rumah kosong, jiwa-jiwa kosong.

Seperti malam kelam tanpa batas,

Tanah airku segala yang membuat

Manusia merasa kecil dan terpencil.

 

Panggil aku dengan mantra dan sesaji!

Kutuk aku dengan mantra dan sesaji!

Aku ratu khayali, antara ada dan tiada,

Menguasai jagad sempit dan sementara

Kejajaan manusia.

 

Lakon yang kuperankan usai sudah.

Saatnya kakiku menginjak tanah,

Turun dari ranjang kecil kamarku.

 

2012

 

 

Kelahiran

 

Aku puisi yang belum dituliskan;

Wujud gaib, tak berwajah, tak berkaki,

Seluruh diriku jantung yang tembus pandang;

Sayapku mengembang penuh cinta,

Sehangat nafas, selembut angin,

Seluruh semesta tempat tinggalku.

 

Lihat, planet-planet tergelincir

Ke dalam nadaku;

Segala apa dan siapa, jejak langkahku.

Aku telah menjelajah wilayah

Yang sama luasnya dengan Tuhan,

Aku ingin berbagi rahasia

Yang sama ganjilnya dengan igauan;

Adakah kau mendengar?

 

Derita ini memanjat menara daging tubuhmu

Hasrat ini menyala di ubun-ubun;

O, neraka di ketinggian!

Kuangkat dunia yang sekarat

Menahan manyat waktu,

Kubungkus jeritannya dengan

Lambang suci kemusnahanku,

Ke dalam sungai darah mengalirlah aku

Ke dalam matamu sirnalah aku.

 

Dan kau bukan sejarah

Aku telah menjelma pagi dalam peristiwa matimu;

Menjumpai setiap wujud, membakarnya,

Menyulut batu matahari di otakmu;

Adakah kau mendengar ledakanku?

 

Aku puisi yang belum dituliskan;

Wujud gaib, tak berwajah, tak berkaki,

Seluruh diriku jantung yang tembus pandang,

Memohon sepotong kata dari jiwamu

Untuk kukenakan dalam pesta

Kelahiran dunia ini.

 

2012

 

Faisal Kamandobat sedang menyelesaikan studi di

Departemen Antropologi Universitas Indonesia. Buku

Puisinya adalah Alangkah Tolol Patung Ini (2007)

 

KOMPAS, MINGGU, 4 NOVEMBER 2012

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

November 8, 2012 pada 4:14 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Aku suka dengan ruang ini, suka dengan karya teman teman penyair yang dapat dibaca, yang tidak tertampung oleh koran. Kompas telah berbaik hati menyediakan ruang ini, sebuah taferil untuk banyak tangan menuliskan kisahnya

    Suka

    alfred pontolondo

    April 21, 2013 at 2:08 pm

  2. berkarya terus bang..aku membacamu

    Suka

    Mamad Apalagi

    Juni 16, 2013 at 2:52 pm

  3. Reblogged this on priyonisme and commented:
    PUISI FAISAL KAMANDOBAT

    Suka

    priyonisme

    September 21, 2013 at 6:30 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: