Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI KIKI SULISTIYO

leave a comment »

Mata Hijau Anjing Danau

 

terang yang sepasang bila tiba air

taring yang bimbang antara berjaga atau menerjang

mereka melihat lidah danau menjilat paras cadas

melam pelarian dan kelam berhimpitan di sela pepohonan

 

bulan tak bulat saat mereka berhadap-hadapan

lapar, gemetar, dan gusar. bau pertempuran berpendar

tepi ini seperti teritori bagi yang menolak mati

sebab keduanya pantanglah kembali, enggan memulai lagi

 

bila kabut surut para penakut turut beringsut

mata itu semakin hijau, semakin kilau bagai mata pisau

tenang dan dalam seakan maut yang datang

begitu terkaman pertama termakan tipudaya lawan

 

danau sedikit amis, bau kematian tercium dari gerimis

tanah melepaskan debu ke udara, getah terkelupas di batang tua

perlahan hijau matanya meredup seperti terbalut selaput lembut

lalu berubah pucat dan pecah seperti serat pada jubah orang dulu

2012

Kemidi Rudat

 

lewat gerak rampak dan music rancak kita bacakan hikayat

musafir persia yang tiba pertama di pelabuhan kota

berdagang sembari bermain gambus dengan topi tarbus

kita tak tahu siapa nama abah yang tabah itu. barangkali seorang habib

orang yang semar berharum dan beriman pada yang gaib

 

kita sebut dia saudagar saja, sebab tak banyak pula yang mau bertanya

para hadirin hanya memperhati kaki-kaki yang tak bersandal,

kilau rumbai emas pada ujung baju yang sebenarnya sudah kumal

sesegera mungkin kita lunaskan syair supaya tak kentara ini getir

kacamata hitam telah sempurna menyembunyikan luka di mata kita

 

bila telah rampung semua dan sorak mebahana ke udara

kita rapikan lagi semua kesedihan yang berserak di jalan-jalan kota

sebagai penyapu jalan, penjaga malam, buruh pelabuhan, juga pedangang asongan

talah kita perankan segala hanya dalam satu jam

semalam di pasar malam saat serombongan otang berusaha lari dari diri sendiri

 

atas nama kemidi dan makam gaib saudagar habib

kita akan datang kembali

dengan hikayat yang terus diulang

seperti berulangnya azan.

2012

 

 

Zirah Adawiyah

 

terbuat dari kelembutan musim semi, tipis dan lentur seperti janji

aku menjahitnya untukmu, dengan tangan seorang penimbang

setiap kali tubuh langsingmu menyingsing di ufuk mataku

 

kau selalu berkemas, seakan ada perang yang tak mungkin lunas

hanya dengan keramas atau berbincang di bawah cecabang

tentang kekasih yang sama sekali tak mengerti bagaimana cara bersedih

 

cincin batang rumput, ikat rambut sewarna kabut, aku cukup salut

pada caramu memainkan jurus, seperti penakhluk pura-pura mabuk

agar tak bersalah jika lancang mencium pipimu yang ranum

 

aku jahit dengan sedikit niat jahat

untuk kau pakai nanti manakala mata panah dari mata lelaki

semakin deras meluncur ke dadamu yang subur

2012

 

KIKI SULISTYO lahir di Ampenan, Lombok Barat, 16 Januari 1978.

Ia bekerja pada Departemen Sastra, Komunitas Akarpohon,

Mataram, Nusa Tenggaa Barat.

 

 

(KOMPAS, MUNGGU, 21 Oktober 2012)

 

Written by Puisi Kompas

Oktober 30, 2012 pada 7:57 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: