Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI MUSTOFA W HASYIM

leave a comment »

Makam Penembahan Sinopati

 

Berlayar di antara batu putih batu merah batu hitam,

pohon beringin, kanthil gondhok, kenanga, sawo

kecik, nagasari, pasir rumput pakis dan endapan

waktu. Gerbang luar, dibuka, gerbang dalam sedikit

menganga. Asap mengalir harum, mawar tersaji.

Tenteram. Bangsal-bangsal sunyi. Cungkup-

cungkup agung. Nama-nama dimakamkan

membentuk jejak dalam, tak bisa dihapus. Burung

gelatik wingko, burung mayar, musang dan

kelelawar, tokek purba. Pohon puring dan bunga

selasih. Dingin nisan membekukan kata.

Para penziarah menyerahkan mimpi pada udara,

dijawab arus angin dari dalam. Mereka menjajakan

masalah remeh rumah tangga dan kegamangan

pribadi dalam meniti jembatan peristiwa. Ada duka

sudah diolah menjadi doa, ada amarah dikemas

dalam paket harapan dan ketakutan yang

disembunyikan dalam gerak mata. Langit tidak

terbaca, daun-daun kering gugur. Dan pemandu,

para abdi dalem terus menikmati keheningan ruang.

Pagi hangat, siang menyengat, tak terasa

perubahannya. Pertanyaan memantul kembali. Tidak

ada yang berani bersin atau batuk. Semua seperti

memasuki mesin penghalus jiwa. Kegaduhan dan

gelisah telah dibayar dengan senyuman. Asal usul

tidak lagi penting. Tempat kembali tidak menjadi

penjara. Di sini semua sudah tanpa baju, hanya

kemaluan yang terlindungi agar tidak mengganggu

kepala. Semua sudah menunduk. Menunggu suara-

suara gaib yang belum tentu mereka dengar.

Di tempat parkir di bawah kerimbunan daun pohon

raksasa, para sopir bercanda. Minum es teh dan

mengunyah gorengan sambil melirik isteri penjual

warung yang lupa merapikan daster. Mereka tidak

memaksakan kehendak. Di antara kerdipan mata,

ada yang ingin menerjang celah terbuka. Dan

gemuruh pun menuntun kamar rapuh di dalam

angan. Para sopir menggeleng. Ingat angsuran

rumah belum lunas. Mereka tersenyum, dengan

suara lirih, gemetar, ramai-ramai memesan mie

instant rebus pakai cabai iris tujuh buah. Mereka

menunggu, perut butuh kenangan.

 

Yogyakarta, 2012

 

 

 

Makam Sunan Kudus

 

Batu merah menata benteng, menara dan gapura.

Siapa yang menyusuri lorong, berkelok dan berhenti

di denap nisan? Air kolam masih menetes di dahi,

jejak rumput sampai udara. Gumam-gumam jauh,

dan ucapan, lafal doa yang dalam. Menembus diam,

sendiri dan bersama. Bersimpuh ke arah keabadian.

Yang terbaring di balik barisan batu, mungkin

menyapa, mungkin meneteskan airmata. Kebodohan

dan kekonyolan perjalanan masih dibawa sampai

sini. Bagi yang kenyang nasi jangkrik bisa berbagi

kepada langit dan lembah pantai. Tapi ini adalah

pusaran kota. Pedangang tidak mau rugi dan penziarah

meniti kerumitan masa silam dan hari ini. Pada

seekor kerbau yang dapat mengurai zaman dan

mengutuhkan pesan, “Berjagalah terhadap badai

yang berasal dari satu angin. Bukalah setiap gerbang

dan lepaskan daun pintu karena jiwamu akan

terbebaskan kalau masih ada rindu.” Kemarau

adalah persoalan, cinta akan mengatasi jarak mata

dan jiwa. Bersyukurlah, masih ada sunyi. Jejak

menegas atau mengabur sama saja. Manusia. Terus

berdatangan dan pergi. Bunga harum, dan sampah

menjadi permadani. Para penginjak luka mencoba

merasakan manisnya darah tetapi yang ketemu

hanya asinnya siksa. Lupakan. Mulailah mencari.

Makna cemeti dan keris purba, mirip berita yang

dilipat oleh malaikat i persembunyian semesta.

 

Kudus, 1994

 

Mustofa W Hasyim tinggal di Yogyakarta.

Kumpulan puisinya antara lain Ki Ageng

Miskin (2007).

 

KOMPAS, MINGGU, 7 OKTOBER 2012

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Oktober 8, 2012 pada 2:47 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: