Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI DEDY TRI RIYADI

leave a comment »

Rumah Kopi

 

Rahasia dari bibir kita sederhana: Aku menyeret waktu

yang beku, mirip kabar sendu dari jendela lebar, dari beranda

penuh kursi dan dari tiap daun meja. Sedang kau menyaru

dalam bau yang kuhidu dari asap tipis rindu di bibir cangkir.

 

Dan mata kita diam-diam menyimpan rahasia yang lain:

Hangat tubuhmu menghitam dan sedikit berbuih, seperti

pada sebuah pantai aku menemu bangkai ketam. Sementara

sebentar-sebentar ada kalut yang mengarah ke laut, jauh

dari aku dan sebuah sesal yang dipintal oleh kata-kata.

 

Aku bukan musafir, hanya perut petualang yang tak lapar

benar. Helai roti berselai nenas, bukan sesuatu yang pantas

untuk dihidangkan sebab –  sudah dikabarkan sebelumnya

manusia bisa dipuaskan hanya dengan firman.

 

Maka rahasia-rahasia hanyalah percakapan biasa di tubuh

waktu. Diam-diam di meja seberang ada yang mencuri tawa

kita. Menyembunyikannya pada pekat malam, pada dada laut

dalam, dan juga pada bangkai ketam.

 

Lalu, apakah sesal? Dingin merapat di ketat cangkir.

 

Dan kita hanya bisa saling memandang.

Dan kita merapikan bibir masing-masing.

Sementara meja dan kursi berderet-deret panjang

di beranda, menyebar keharuman sederhana..

 

Keharuman yang belum bisa diucapkan.

 

2012

 

 

 

Di Kedai Bibit Tanaman

 

Yang dipinggirkan daunan adalah anyaman cahaya

menyitas lubang-lubang paranet lalu acuh melintasimu,

tak menyapa juga tak menyentuh rambutmu yang kini

mulai sering dikelabui kenangan.

 

Yang sering disajikan aneka bunga selain harum dan warna

adalah nama-nama dan peristiwa, berkelindan dari

aneka tandan dan buketan. Tanganmu rajin menyibak

dan menyimaknya, meski ada getar halus itu.

 

getar serupa sayap serangga, kepik atau entah apa

tetapi jelas mendengung seolah bunyi dari seberang

gagang telepon begitu pembicarakan kita hentikan.

 

2012

 

 

 

Setelah Kau Mengunci Pagar

 

Malam semakin marak

senapan-senapan sepi

saling menyalak.

 

Dan dia – korban bulan bisu –

baru berwarna biru,

seperti habis ditasbihkan

oleh sepotong lagu,

 

merayu-rayu engkau.

Menyaru aku.

 

2012

 

 

 

Tabah Dahan

 

Dia saksikan embun yang tadi pagi singgah

diam-diam menghilang ke mana entah.

 

Dia saksikan daun yang beberapa waktu

baru tumbuh, tahu-tahu sudah luruh.

 

Dia saksikan juga bunga belum lama kuntum

lalu mekar dan mahkotanya pun tersebar.

 

Adalah angin kerap menggodanya, agar

kelak, dia lebih tabah jadi kayu bakar.

 

2012

 

 

 

Dedy Tri Riyadi lahir di Tegal, Jawa Tengah,

dan kini tinggal di Jakarta. Ia bergiat di

Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar Malam).

 

KOMPAS, MINGGU, 23 SEPTEMBER 2012

Iklan

Written by Puisi Kompas

September 25, 2012 pada 3:44 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: