Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI DEDDY ARSYA

leave a comment »

Kain dari Bugis

 

Seorang Arab penjual peniti

Berkali-kali mendatangi rumahmu

Sebuah pincalang terdampar di utara Tiku, katanya

Ada kain yang lebih lembut dari ujung rambut nona

Lebih harus dari meranti atau kulit lansano

Tapi tak ada kau di situ

 

Kau dibawa samun dari Ujung Gurun

Ke sana ke Bukit Tajadi kampung padri

 

“Ibu, Ibu, aku bawa untukmu

Khusus yang paling baru

Kain yang membelakangi matahari turun

Kain dagangan para lanun.”

 

Seorang Arab pedangan semat

Dengan mata besar bulat dan bibir pepat

Alisnya damar keras dan arang hitam

Berkali-kali lewat di halaman rumahmu

Melambaik-lambaikan selendang itu

Bagai manik-manik pada ekor tenggiri

Berkilat-kilat dari jauh tampak saja sekali

Tapi tak ada kau di situ

 

Kau dibawa karavan Pauh Lima

Naik Sitinju ke Tigabelas Kota

 

“Ibu, Ibu, ini aku tawarkan

Kain pembalut deritamu

Selendang manyang selendang dunia

Sehelai dua boleh kau coba.”

 

Seorang Arab yang rambutnya keriting coklat

Mendatangi ibuku berabad-abad setelah kamu

Setelah pabrik besi di Bekasi berdiri dan kain kami

Didatangkan dari Tanah Abang sebulan sekali

Tapi tak ada kau di situ

 

Kau kini ditumpuk bersama ribuan kodi kordurai warna susu

Kau kini ada dalam truk kontainer melintar Selat Sunda itu

 

Apakah dia masih jua berseru

Dari halaman itu:

“Ibu, Ibu, belilah agak sehelai dua

Biar akan sempurna manis lenggokmu.”

 

 

 

 

 

 

Koin Sepuh Emas

 

Aku abwakan istriku koin sepu emas

Tiga gulden abad kedelapanbelas

“Belilah beras kami ini!” kata kolektor itu

Dia melemparkan dencingan pada tanganku

Loji-loji kompeni terban di pinggir bibirnya

Buaya-buaya raksasa melubangin kanal si sela-sela giginya

Dan seluruh kota seketika itu juga terendam hingga ke mercusuar

 

In koni sepuh emas, tak perak, atau tembaga

Kakek buyutku menambangnya berabad silam

Di hutan-hutan yang tak terdaki oleh kalian

Di hutan yang bermalam-malam ditembusnya

Dengan ini parang, parang berduri dari anyam pandan

Yang dipegang dengan punggung tangan

Parang yang dilehermu hendak ditebaskan

 

Ah, kalian, museum dunia baru yang sendirian

Yang buta peta dan yang tahu hanya berdiam

Kalian memangkas kata sifat seperti aspal jalan membunuh manusia

Sementara aku ingin menumbuhkannya di tiap ujung  kalimat

Ah, kalian, yang menggigil di hadapan hayat

 

Aku bawakan istriku koin sepuh emas

Tiga gulden abad kedelapanbelas

Aku bawakan dia dengan kantong plastik ini

Kantong plastik dari pabrik  dunia baru kalian

Yang sepi tiada berkawan.

 

 

Perdebatan tentang Belacu

 

Kau sebut dia marekan

Kain kasar dari pesisiran

Belacu kadang dia ucapkan

Aku kata biarkan

Dia sutra dari daratan

 

Kau kata dia ikan putih

Ke lambung kapal tersisih

Aku kata diam jahanam

Dia kerapu dari palung lautan

 

Kau bilang dia loyang

Sekali sepuh tembaga melayang

Aku kata apa kau bilang?

Dia emas terakhir penambang

 

Kau sebut dia pahit empedu

Bagai racun dikerongkonganmu

Aku kata tak apa, Cinta

Kau manis paling pangkal

Si tebu udang

 

Deddy Arsya

lahir di Bayang, Pantai Barat Sumatera, 15 Desember 1987,

dan kini bermukim di Padang.

Kumpulan puisinya, Odong-odong Fort de Kock, segera terbit

Iklan

Written by Puisi Kompas

September 11, 2012 pada 5:14 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: