Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Puisi HASAN ASPAHANI

leave a comment »

Di Depan Teater Chaplin

 

ADA berapa teater untukmu di kota ini, Chaplin?

 

Aku seperti pengembara, dengan sedikit waktu malam,

dan ingin masuk, mungkin untuk sebuah peran  sebagai

kucing jenaka, bernyanyi untuk Cinderella yang lupa.

 

Kalau kita bertemu, malam itu, aku sudah berlatih

untuk bercakan-cakap seperti adegan dalam film bisu.

Dengan begitu, kita tak perlu saling menerjemahkan.

*

Beberapa kali, Chaplin, seseorang harus menjadi yatim?

 

Teater, mungkin sejenis rumah penampungan juga,

untuk keinginan-keinginan yang tak punya tempat.

 

Ini bukan lagak, bukan soal kepandaian berpura-pura

 

Panggung, mungkin sejenis tempat pindah dan singgah,

dari satu lakon ke lain lakon, dalam takdir yang kekal,

apapun peranmu, loper surat kabar dalam kisah

detektif, menemukan berita yang tak ada, atau badut

malang pada sebuah sirkus: terusir dan teringkus!

*
Berapa lama aku harus berdiri dan bertepuk padamu?

 

Tak ada makammu, di sini, Chaplin. Aku ziarahi saja

Keinginanku yang tak mati dan belum ingin aku kubur,

dalam senyap hati setenteam udara Danau Jenewa,

toh tidak akan ada yang akan ingin mencurinya.

 

Dan kau tetap hidup di kota ini, dalam cahaya proyektor

yang berisik, dan kami masih akan tertawa, bagi pejalan

dengan sepatu bertelapak besar, celana gembung, dan

jas sesak, serta topi yang melindungimu dari salah-duga,

bahwa engkau tak pernah bisa sekadar berbahagia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di Sebuah Restoran di Pinggiran Kota Koln

 

YANG jauh pada jarak dan langkah telah didekatkan

oleh lapar. Tapi lidah yang penuh jejak rempah, tak

mengatakan apa-apa pada kentang, dan ikan berserat

merah. Aku bercakap-cakap saja, dari bangku restoran ini,

dengan bocah memancing, dan anjing yang bosan, pada

lukisan Norman Rockwell, dalam sebuah reklame lama,

minuman bersoda.

 

Yang dingin pada musim dan malam, telah

dihangatkan oleh teh Britania. Dan gol yang dirayakan, tak

peduli ke gawang mana dalam siaran langsung sepakbola,

entah dari liga apa. Selalu tampak berat hati, ketika

mereka harus bubar, dari barisan kursi di depan bar, dari

barista yang sabar, dan dapur, dengan perabot tua, radio

Grudig yang tak lagi menangkap gelombang suara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tentang Angsa di Kanal Amsterdam

 

KAMI tak akan ad di kartu-kartu pos yang

Dipajang di toko sovenir di Amsterdam. Seperti merpati,

dan jalak, juga camar di atas papan nama dermaga. Kami

tak pernah punya masalah dengan kota ini. Kota yang tak

pernah ingin sempurna ini. Kami hanya ikut bertahan dan

menjadi apa adanya. Dan itu memang bukan segalanya.

 

Amsterdam, adalah liuk suara saksopon pada sebuah

komposisi jazz yang lekas. Kami adalah nada kosong

ketika kota kehabisan napas. Amsterdam adalah lalu-

lalang sepeda, dan padanya kau belajar tentang ketekunan

menerbitkan harapan. Nanti kau akan putuskan kau telah

lulus sebagai apa., di sebuah museum tak berpenjaga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Misalnya Aku Membaca Namamu

pada Grafiti di Lorong-lorong

Stadion Itu.

 

:dd

 

AKU membayangkan, akulah remanaj dengan

menutup wajah, tandel penuh kaleng cet, bersekutu dengan

malam,  dan sedikit keberanian. Sepi seperti gemuruh

penonton, pada pertandingan final antara dua klub satu

kota. Aku berkeringat pada subuh yang dekat. Melukiskan

rindu dengan cepat, dan lekas. Lebih dari sebuah gol

penentu kemenangan, ketika terakhir kali, kuterakan huruf

terakhir namamu. Lalu aku lari, selekas aku menyelinap

tadi, sambil membayangkan engkau membaca namamu

pada grafiti yang diam –diam kuterakan pada lorong-lorng

di stadion itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Poster Pertunjukan Dario Fo

di Sebuah Jalan di Milan

 

MILAN, benarkan manusia tak dilahirkan untuk

berbahagia? Di jalanmu, Milan, ada sebuah cafe, dengan

remang lampu, mesin judi, televisi, dan kursi-kursi kayu

sewarna pekat buih cappucino. Aku kira harimu tak

pernah sempurna, Milan, meskipun dari kecemasan orang

aeasing aku padamu.

 

Milan, ingatkah engkau pada seorang dari Sangiano?

Belajar ilmu bangun ruang dan tampaknya dia tak

berbahagia? Aku tak tahu, dimana persisnya teater itu,

milan, dan naskah lakon apa yang kini sedang dimainkan,

dan siapa yang sedang memerankan apa.  Aku sedang merasa

angat asing dengan siapa yang sedang  kuperankan,

Milan. Aku mungkin perlu poster, seperti Dario Fo yang

Kulihat, sekilas di jalan-jalanmu, Milan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekilas Napak Tilas, pada

Cappuccino Segelas

 

SEKELAM engkau, warna jubah para rahib,

Selembut doa-doa pada pagi yang rutin.

 

Seakan menawar pada lidah lelaki Turki,

Tertuang pada madu dan hangat susu.

 

Seramah barisata, dia lelaki muda Italia,

Sekarib jarak dari kisah gembala Afrika.

 

Sesia-sia rapat para penguasa fasis

mengabaikan kecup suhu dan sentuh busamu.

 

Sehangat semi musim udaramu, Milan

Seteguh gagang pada gelas tembikar.

 

Sesementara gambar di rapuh limpah buih,

sekelebat kibas duyung berekor kembar.

 

Seingkar harum kopi pada sarapan pagi,

Seakrab bunyi mesin espresso sepenuh hari.

 

Seberani engkau di gerai gula bersoda,

sesetia engkau di kafe, kebab, dan pizzaria.

 

Sekecewa aku yang mengecewakanmu

Lidah siap saji, ayam jantan tak tumbuh taji.

 

Seperti telah kuselesaikan saat-saat sesat,

dosa itu tetap dekat, tapi tak lagi memikat.

 

 

KOMPAS, MINGGU, 2 SEPTEMBER 2012

 

 

Hasan Aspahani lahir di Sei Raden, Ka-

limantan Timur, dan kini bermukin di Batam.

Buku puisinya yang terbaru adalah Mahna

Hauri (2012)

 

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

September 4, 2012 pada 4:59 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: