Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI DODY KRISTIANTO

leave a comment »

Mengamati Tiga Jurus

kau yang belia, pendaras kitab yang setia

tidak sia-sia jika jawara tua itu

menghardik namamu dengan lantang

sembari menunjukkan tiga ancangan

menghajar

 

agar kau yang muda senantiasa berjaga

dan menerka mana jurus yang kelak

dapat kau ikat dalam raga

 

dia guru dan seteru yang sempurna

persiapkan dirimu

sebab kau akan tahu

bagaimana cakaran elang

kehilangan koyakannya

atau ketenangan siasat ular

tak berdaya di depan kekangannya

berjagalah, buat tatapanmu siaga

dan menerka kuda-kuda apa

yang ia tunjukan

 

mungkin ancangan ekor naga

gerak gelebat gesit liat

yang tak mudah dibebat

meski tombak terpanjang

mengancam di hadapan

ia sunggu tak dapat diredam

dan diredakan

gerak yang sungguh tangguh

yang dipungkasi dengan sekian

rangkai tinju

 

bisa juga, ia membimbingmu

dengan kekukuhan tapak beruang

geraknya yang lambat, yang amat

mengingat langkah dengan cermat

percayalah, segala pukulan tak berdaya

di depan tubuh maha kuat,

dengan urat-uratnya yang tegap

yang sanggup melumpuhkan

tindakan segerombolan penyerang

 

tak akan lengkap jika tak kau tangkap

satu jurus pamungkas: tingkah lihai kera

yang tangkas dan sukar ditebak

kau tak akan tahu dengan cara apa

tiba-tiba dia mengelak

kemudian tanpa duga melakukan hentak

kau tak akan mengira, sebab inilah siasat

yang mahir menyimpan segala gamparan,

tendangan, atau pitingan

kala cecunguk yang sesumbar

mencoba menyerang, menusukmu

dengan sebilah kelewang

(2012)

 

Di Depan Petarung Tanggung

Tahan. Redam ancangan dan jurusmu menjelang

sabetan pertama itu tiba. Jangan lupa menyimpan satu

pitingan secepat kerjap yang membuat para jawara

 

terbangun dari tidurnya. Kuda-kudamu tentu matang

sungguh. Kau yang telah menjalani pertarungan tanpa

jeda dengan pesilat berjurus munyuk dan pendekar

bertoya buluk

 

telah kau jalani

hingga kau mengerti benar arti menerima pukulan atau

bagaimana menjamu tendangan yang bertandang telak

di tepi wajahmu. Kau yang belajar

 

tentang sakitnya kalah. Tentu bukan ancaman,

sekumpulan cecunguk dungu yang mengumbar

kelewang dan sesumbar menyeru namamu.

(2012)

 

Kunyuk Melempar Buah

yang tentu matang

bersama kuda-kuda

adalah segala tenaga

yang berlintasan

di sekitar

 

yang tak diurai

yang telah dipecah

dan siap dihempaskan

di depan jemawa

yang menantang

 

kau yang mengenal

segala ihwal pencak

dari kembaran gila itu

juga satu siasatnya

yang dapat melumpuhkan

para penyerbu dari langkah

sekian jauh

 

tentu ia tuntunkan padamu

putaran untuk menjinakkan

angin

ia ajarkan perihal memutir

gerak tiba-tiba itu

lantas amati bagaimana

sepasang kaki melangkah

lincah

memijak dan mengentak

tanah

 

agar yang di bawah

mengirim dayanya

daya yang memberi

sebuah kekukuhan

pada lesatan pukulan

yang akan diarahkan

ke semua arah

(2012)

 

Dody Kristianto lahir di Surabaya, 3 April

1986. Saat ini tinggal d Sidoarjo.

 

KOMPAS, MINGGU, 12 AGUSTUS 2012

Iklan

Written by Puisi Kompas

Agustus 15, 2012 pada 3:39 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: