Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI MARDI LUHUNG

leave a comment »

Penyair Tidur

 

Penyair tidur. Tidur di sebelah puisi yang juga tidur. Dan

mulut penyair terbuka. Mulut puisi juga terbuka.

 

Dari mulut penyair bersembulan sekian kata. Sekian kata

yang akan jadi kalimat.

 

Dan dari mulut puisi hadir kampung. Kampung yang

gampang mengubah letak dan penghuninya.

 

Kalimat dari mulut penyair melayang. Kampung dari mulut

puisi merekah. Keduanya saling pandang.

 

Keduanya saling berbisik: “Apa yang mesti dibikin? Kisah

damai, enteng, penuh warna? Ataukah, kisah gempal dan

sesak barut?”

 

kalimat dari mulut penyair mengerling. Terus meliuk.

Meliuk seperti tarian burung gaib berburu bintang.

 

Kampung dari mulut puisi tak mau kalah. Lalu mengigal.

Mengigal seperti gunung lepas pasaknya.

 

Dan keduanya pun terbang. Saling isi dan tolak. Saling

bentang dan lipat. Sedang jejak keduanya pun menyeleret

sampai jauh.

Sampai siapa saja yang melihatnya (siapa saja yang juga

tidur), merasa itu adalah hal-ihwal yang penuh kiasan.

 

Yang jadi kiasan buruk, maka meski segera terbangun.

Tapi jika sebaliknya, malah berharap untuk terus

Menyeleret.

 

Dan terus diburu. Sebab, ada keyakinan yang diam-diam

tersimpan: “Seleret itulah yang akan dapat membantu siapa

saja.”

 

Untuk memahami: “Mengapa dalam tidur, warna dan

Barut lebih mesra dan tepercaya?”

 

Sejurus kemudian (masih dalam tidur), penyair

Mengatupkan mulut dan tersenyum. Begitu juga puisi.

 

(Gresik, 2012)

 

Kapal Selam

di depan wonny

 

Dua menara. Yang satu menjulang. Satunya lagi masih

setengah jadi. Dikurung cetakan yang mirip ramraman.

Atau kandang besi bagi ular besar yang membeku dan

Menegak ke atas. Seperti ingin menyentuh awan di angkasa.

 

Lalu di bawahnya rumah ibadah. Rumah ibadah lenggang

Jam 9 pagi. Dan di depan rumah ibadah orang-orang begitu

bergegas. Seperti ada yang diarah. Padahal, Cuma

berputaran. Dan sorenya balik lagi ke rumah. Rumah

dengan keluarga yang melambai.

 

Apa kau masih menatap rumah ibadah itu? Ahai, lampu-

lampu yang dipadamkan. Kabel-kabel yang dibentang. Apa

kau juga masih membayangkan, jika seluruh tanah yang kita

pijak ini bukanlah daratan? Daratan keras dengan rumput

dan pohon?

 

Lalu, lihat air mancur di kejauhan. Air-mancur yang

sesekali macet. Air-mancur dengan kolam yang keruh. Dan

penuh berudu. Di sanalah pernah kita bicarakan:

“Seandainya, dulu di zaman-air kita dilahirkan, pastilah

tidak begini.”

 

Tapi punya sirip, ekor, insang dan sedikit sisik yang licin.

Sisik yang warnanya gampang dipilih. Juga dua bola mata yang

leluasa melihat, betapa rumah ibadah itu dan semua

perabotannya akan melayang. Melayang dengan luwes.

 

Melayang di kedalaman aor yang biru. Melayang seperti

Kapal selam yang bertenaga ricik dan debar. Kapal selam

yang persis di jantungnya, ada kulit tipis menyala yang

tembus pandang. Kulit tipis yang lebih mirip tirai daripada

sekat.

 

Kulit tipis yang membuat siapa saja dapat keluar-masuk.

Dengan penuh keriangan. Dan selaan: “Inilah zaman-air.

Zaman, di mana kita bisa mengalir dan menghilir ke mana

saja. Dan beribadah pada-Nya, yang juga mengalir dan

menghilir ke mana saja itu.”

 

(Gresik, 2012)

 

Sahabat Laut

 

Seperti manusia, sahabat laut bisa berganti bentuk. Jika

senang akan gemuk. Jika susah akan susut. Terus

memanjang. Seperti pilinan yang terentang dan hidup.

Menelusupi celah, lubang dan kedalaman. Kedalaman

Yang jauh dari pikiran.

 

Dan seperti manusia, sahabat laut pun bisa berbahagia.

Berlarian. Melompat. Tiarap. Dan sesekali meraih kupu-

kupu dan capung. Meski tak pernah bisa. Lalu jika lelah

tiba, pulang ke biliknya. Pulang dengan keringat dan debu

di tengkuk.

 

Dan di biliknya, seperti manusia juga, sabahat laut punya

ayah dan ibu. Ayah dan ibu yang bahagia. Yang tak lupa

dikabarkan selalu membaca koran dan menyulam. Ayah dan

ibu yang bercerita tentang si monyang yang perkasa, sakti

dan misterius.

 

Si moyang yang bekerja sebagai tukang kebun. Yang

menggarapi kebun berdinding tinggi. Dinding yang

terhampar dengan sekian penjaga. Yang konon tak pandai

menebak. Tapi tak boleh bertanya: “Kenapa datang. Apa ada

yang bisa dibantu?”

 

Dan seperti manusia, sahabat laut memang senang menemui

sesamanya. Dan jika sudah bertemu, maka omong-omong

pun tergelar, mulia dari soal parit yang mempet, warung

kopi yang cuek, sampai pada tuhan yang selalu ingin

disertakan.

 

Sebab, merasa: tuhan adalah si penyepi yang perlu untuk

dihibur.

 

(Gresik, 2012)

 

Kuatrin Tapi

 

1/

Kau berjalan ke utara dan lurus terus.

Dan di sebelah selatanlah kau jumpai kemah.

Tapi sewaktu berjalan itu, kau mengira

jika selatan selalu ada di hadapanmu.

 

2/

Kau tertawa ketika menemukan sesuatu.

Tapi sekian tahun ke depan, apa tawamu

itu masih kau ingat? Hmm, kepedihan waktu

yang selalu meniupkan alpamu.

 

3/

Sungguh, kau memang mencintai yang ini.

Tapi kau juga mencintai yang lainnya. Maka,

Bagaimana mungkin dua cincin cinta mengilat kau

lingkarkan di satu jari manis?

 

4/

Kau makan siang dengan secukupnya.

Bekerja, berdoa dan berak juga secukupnya.

Tapi di saat aku berangkat tidur malam, selalu

saja ada sisa tai yang melungker di ususmu.

 

5/

Tapi dan tapi tak bosan kau nyatakan. Seakan

semua bergerak berkesinambungan. Coba lihat,

ketika kerentaan menghampiri rongga hidupmu,

apa gigi yang rontok tersambung balik?

 

6/

Oh, mani, kencing, tai, keringat, ingus dan ludah.

Oh, yang encer seumur-umur yang keluar dari tubuhmu.

Tapi, siapa yang sanggup menakar, berapa

ratus tong jika itu semua terwadahi.

 

7/

Kau berkata: “Betapa bodohnya dia!” Tapi dia

yang cukup bodoh malah tersenyum. Terus menyela:

“Cukup hanya aku dan dia yang tahu bodohku.

Tak ada yang ketiga!”

(Gresik, 2012)

 

Mardi Luhung lahir dan tinggal di Gresik, Jawa

Timur. Buku puisinya, Buwun (2010), mendapat

Anugerah Khatulistiwa Literaty Award 2010.

 

KOMPAS, MINGGU, 22 JULI 2012

Written by Puisi Kompas

Juli 23, 2012 pada 6:36 am

Ditulis dalam Puisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: