Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI Alizar Tanjung

leave a comment »

Gulai Jantung

 

dirimu jantung pisang, diriku seongok danging yang beruas dan

berpilin ujung ke ujung, ditumbuhkan darah jantungmu dan

jatungku. aku menyaksikan jantungku kumpulan darah sedangkan

jantungmu kumpulan warna.

 

jantungmu dari tebasan parang, ke pangkal tubuhmu, tentu saja

luka itu adalah busuk, tumbuh itu adalah pucuk, sebeb itu kau biak

dari dua tubuh, satu dari jantung batang, satu dari urat

pangkal.

 

dalam kelopak bidukmu yang karam ke dalam daging jantung,

dirimu menyimpan anak-anak udang yang bengkok, bercangkang

lunak, hidangan makan malam, menikmatimu di lidah menikmati

bibir. dalam cerup jantungku yang berbibuk bungkuk,

akan aku simpan jantung yang lain.

 

pada bidang meja yang sama, sendok dan garpu tertelungkup,

gelas kristal kosong, serbet melipat ujung ke ujung di kotak plastik,

dirimu menyelami santan menyelami rasa lidahku, menyelami

kenikmatan keluar dubur. diriku menikmati keterasingan makan malam.

 

sebab itu kita berbeda

 

2011

 

Tangga Menuju Ular

 

di kayu kendur aku turun dari tangga cahaya

paling atas, meneruni lereng kerikil terjal perut

ular betina. katanya di bawah jembatan sana,

di penurunan ketujuh di rumpun pisang, seekor

ular siap menghisap selembar kain panjang ukiran

batik, melingkar di balik lapisan batu.

 

konon katanya ular yang berdiam ratusan tahun,

menghisap segala yang lewat dalam tubuh,

dan aku benar-benar sampai di pangkal cahaya.

rumpun batang pisang tua, bunga rumput teki,

jalar akar bunga bakung, hidup di parit batu.

 

entah pada penurunan keberapa lepas

dari cahaya, aku sampai di sarang ular betina,

lapisan-lapisan batu, akar-akar pakis rasan, aku

terlahir baru di rahang ular betina – batu-batu

melengkung dari tangan tetua. ular betina

menghisap daun-daun pisang muda, ular betina

menghisap puting jantung pisang.

 

Padang, 2011

 

 

 

Ruang Rumah Masa Lalu

 

kapan terakhir kali kita bertengkar?

 

aku menemukanmu sebagai batang kayu mati, menjalar

sebagai dinding, lantai, jendela-jendela tertutup, lae.

tubuhmu kumpulan warna kusam rayap di atap, bunyi siul

temali jemuran, denting seng siang hari, lubang atap, sebab itu

kutemukan dirimu adalah cahaya jahat yang menyediakan

lubang hujan. kamu sediakan tubuh bagi angin, masuk dari

lubang dinding, aku sadari ini sudah sangat lama.

 

kita sudah lama tak bertemu, terakhir kali kita ketemu, kau

menjelma akar kayu, membelit masa lalu, akar serabutmu

menjulai ke masa depan, lalu masa depan telah masa lalu.

aku foto-foto di dinding, warna-warna kabur, kaca-kaca

etalase, akarmu membelit akar tubuhku. lalu hujan adalah

tamu kenangan yang menginap minum kopu, tandas candu

itu.

 

kau kemudian pecahkan kayu dalam tungku, yang aku

temukan abu tungku, tiga buah batu, bulu-bulu kucing yang

tidur semalam, kencingnya yang amis, jaring-jaring lawah

tua, nyamuk-nyamuk yang terperangkap, sisa-sisa

penggorengan di kawah kuali. aku masa lalu.

 

2011

Kehilangan Tebu

 

Kas

Kita berbahagia di kilangan tebu, menampung air di

paraku, mendorong kayu bersama sapi gemuk, seperti

mengelilingi lingkaran bumi yang kecil, kita tertawa,

membiarkan bibir kita beruap air tebu, sungt-sungut putih

tumbuh di lengkung bibir atas kita, sampai siang tengah

hari kita berjalan sepanjang putaran sepanjang bundaran.

 

Membesarkan masa lalu membesarkan rumpun tebu dari

potongan-potongan batang tua, menanamnya di tanah,

bertunas dan menjulang ke langit, beruas-ruas buhul, ada

yang begitu ruang di krisik daun. Air-air temu mengangkut

ke kuali, mematangkan gula, kita membuat acuan betung

dan lingkaran daun tebu. Meneteskan gula hangat.

 

Acuan-acuan kecil itu acuan gula-gula tebu mungil di hari

bermain senja hari, menikmati kelereng, gambar, kajai,

tanek-tanek, mobil-mobil kayu, gatal-gatal miang tebu.

melewati jalan-jalan setapak ladang tebu itu kita membau

aroma sepelah-sepelah tebu, lumpur-lumpur sehabis hujan.

 

2011

 

 

 

ALIZAR TANJUNG lahir di Karang Sadah, Solok, Sumatera Barat,

10 April 1987. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam di IAIN

Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat.

 

KOMPAS, 15 JULI 2012

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juli 16, 2012 pada 11:08 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: