Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI KIKI SULISTYO

with 3 comments

Senandung Jagung

beginilah aku sekarang, kering dan pirang, dengan selimut keras bagi cangkang.

semenjak biji disebar di luas ladang. lalu ditinggalkan.

aku kenang saat-saat paling tentram. di antara segunduk teman.

 

mengapa aku yang terpilah. untuk mengulang kelahiran.

bila bisa, aku memilih lunak dan larut di perut ternak.

atau terhidang di piring perjamuan. ketimbang memandang

mata yang berbinar. membayang di ladang dedaun kembali berkibar.

 

tapi tak kuasa aku atas nasibku sendiri. mesti dengan begini

kusaksikan lincir sunyi tersembunyi dari sudut kabut.

menjadi selimut binar yang sebentar. hanya sebatas pagi sebelum tinggi matahari.

memaksa bakal-batang mengeras sebagai tunas yang cemas.

 

beginilah aku sekarang. pirang dan terpanggang. bukan oleh panas dari arang

para pedagang yang menunggu orang begadang. melainkan oleh siang

dan riang tembang penagih hutang. bertebaran sepanjang jalan menuju pemukiman.

 

2012

 

Nirmala

langit sangat bersih. tapi hamba ingin tidur dan merasa letih.

di dunia ini hidup dimulai sebelum pagi. meski hamba

telah lama mati. menyisakan diri yang terlanjur dikenali.

 

sebagai anumerta. hamba tak punya apa-apa.

bahkan cinta yang konon dimiliki setiap manusia.

juga nostalgia. hanya kadang ia kelihatan berjalan-jalan

antara ingatan dan keinginan melupakan.

 

saat itu hamba hanya ingin nirmala. bola mata yang pernah

memenjara. tapi di mana nirmala, hanya citra. tak sampai nyata.

hamba merasa lebih tua dari prasasti tersembunyi. bilamana hari mulai sibuk.

manusia ramai mengutuk. mengetuk pintu-pintu mimpi.

 

tapi hamba sudah penuh. mengelembung bagai balon mainan.

anak-anak hamba berlarian mengejarnya. istri hamba memandang dengan hampa.

lalu hamba melayang tak terjangkau siapapun. ke langit yang bersih.

mencari ia sepanjang usia membuat hamba bergelimang sedih

 

2012

 

Penangkar Bekisar

sudah lama ia berkenan pada yang tak berkandang

mempimpikan biru bulu berkilat itu hinggap

di tiang-tiang kayu. bukan sebab tergoda oleh suara

melainkan karena darah mereka sehitam kesepian yang disimpan

dan dilayarkan bersampan-sampan

 

maka akan ia temukan telur menekur, seakan butir atma lepas

dari tubuh petapa. menunggu moksa.

 

di pulau jauh, sebentang tangkaran dihuni pohon teluh

unggas ekor panjang terbang bergegas. bulu-bulunya ranggas

seakan gentar pada getah pencari damar.

karenanya ia mesti kembali. setelah memasang jerat-tali

dan menerka, apakah datang si jantan tua

atau unggas remaja yang buta sebab birahi pertama

 

keduanya tak berguna bila si betina tak tiba sampai senja

sebab cuma padanya butir telur betul-betul subur

bekerja memasang sayap, menaruh paruh, menanam taji

jadi bakal sulung yang tenang melengkung

hingga suatu petang menendang dinding cangkang

 

sudah lama ia berkenan pada yang tak berkandang

membayangkan telur-telur berserakan seperti jamur

bukan sebab tergoda oleh harga. melainkan karena tabiat mereka

serumit kesedihan yang menjelma linang

di mata penghuni hutan

 

2012

 

KIKI SULISTYO lahir di Ampenan, Lombok Barat, 16 Januari 1978.

Ia bekerja pada Departemen Sastra, Komunitas Akarpohon,

Mataram, Nusa Tenggaa Barat.

 

KOMPAS, MINGGU, 1 JULI 2012

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juli 3, 2012 pada 1:38 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. heiii, klo boleh tau Departemen Sastra, Komunitas Akarpohon,

    Mataram, Nusa Tenggaa Barat itu dmn ya???

    Suka

    ria

    Oktober 18, 2012 at 11:28 pm

  2. Aku suka puisi KIki Sulistyo

    Suka

    Usman Wiryanto

    Januari 29, 2013 at 11:38 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: