Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI LAKSMI PAMUNTJAK

leave a comment »

Image

Cerita Perjalanan

 

Tiap perjalanan mungkin bermula

dari tangga

 

atau dari kaki yang terseret

sepanjang lorong

 

di rumah nenek yang tua, di mana

pintu terbuka, mungkin ke bayang

 

& bekas tinta. Ada pediangan dengan

sisa arang. Sering orang tak bisa tahu

 

mana ruh mana hantu, dan seperti kunci

yang jatuh ke pasir, kita tertegak

 

ke arah pusaran, tapi lupa seseorang

yang di sana. Nyanyi terjahit pada langit,

 

jauh sebelum kota-kota didirikan

dan tanda jalan dan jarak dipasang

 

Bisa saja angin khianat, ketika sinar

memilih celah,

 

mungkin kita puji Tuhan yang salah

dan hanya ingat apa yang membuat ladang bercahaya

 

bagian yang lekat pada peta. Kita tinjau bentangan

dari arah kerak bumi, seakan-akan planet ini

 

hanya tumpahan kosmis yang tak sengaja.

Gunung mengeriput di bawah matahari, dan laut

 

cuma air yang merembes de dalam ruang.

Tapi akhir-akhir ini panas jadi perak,

 

ketika pulau tenggelam dan ikan terengah

dalam liang hari yang hitam, yang meranggas tak biasa.

 

Apapun kisah yang kita bayangkan di jalan ini

terkubur di dada si mati, atau selamat karena bulan

 

dengan wajah sesat seorang dewi. Begitu rupa kiranya,

hingga halaman yang melompat dari kitab

 

terasa menyentak lembut, mengisyaratkan sesuatu

yang akrab ke kulitmu: sidik jari ibu, tetes peluh bapak

 

yang lepas dari leher yang menjulur di garis yang sama,

membawanya pergi ke sebuah tempat,

 

ke sebuah penjuru, di mana burung-burung

terbeliak, menatapmu.

 

 

 

Tentang Cahaya

Yang ia percakapkan hanya cahaya.

Ketika ia berikan kepadaku buku tentang seorang penulis

yang mengucilkan diri di rumah rahib Cappadocia,

rasanya ia berharap aku juga akan berpikir

tentang cahaya yang jatuh ke batu-batu tertentu,

di pagi-pagi tertentu.

Baiklah, kataku, tapi warna putih

adalah malam. Bukan matahari yang

mengantarkannya, melainkan caha bulan

pada karang. Ia mendengarkan.

 

Lalu ia sarankan agar aku lebih menyimak pagi

Anatolia. Sebab di sana ada getar kecil

pada cahaya terang, pohon-pohon birka

berbercak kapur dan coklat muda

yang memangar tebing, burung air yang

meloncat-loncat.

Ketika si penulis di biara itu mati

belum sebulan semenjak ia berikan buku itu kepadaku,

diam-diam ia runtuh.

Lalu ia tulis semacam obituari

yang akan membuat yang mati,

bahkan Narcissus, tersipu-sipu.

Sementara ia menangis dalam kepedihan Virgilius,

aku datang kembali ke jajar sinar

yang jatuh ke dadaku siang itu.

Tiap kali pandangnya menatap sepasang lonceng

di kedua ujungnya, puncak yang lunak

dan menyerah itu,

aku tak tahu adakah ia tengah menikmati

warna jingga gardu-gardu yang menegaskan

pertigaan itu,

atau menjilatkan matanya

ke warna susu, warna bundaran pada menara

dongeng Rapunzel.

Aku tak tahu adakah

cahaya tubuhku yang ia tatap

atau cahaya sekitarku

yang tak ada hubungannya

dengan diriku.

 

 

 

Bhisma: Di Siang Terakhir

Suatu hari kulihat seorang lelaki terantuk-antuk melintasi padang;

matanya tetap saja menunduk. Seakan dalam badai yang

menghimpun hujan itu, setelah menerobos celah semak. ia akan

menemukan cahayaalit di rahim ibunya.

 

Seekor burung terjun ke dalam liang di tanah yang kini gelap – aku

tak tahu rumah siapa neraka siapa –  tapi ada sesuatu pada lelaki itu

yang tersentuh dalam-dalam, seolah hanya dengan satu gerak

tangan telah terhimpun kembali kepercayaan, di seluruh hidupnya,

dan ia biarkan ujung anak panah perempuan itu terbang sendiri,

menusuk.

 

 

 

Putus

Tentu aku telah melihat ini dalam mimpi:

kita mulai dengan makan, dan

kita lirik tiap gerak yang lewat pada gang.

Lalu kita beringsut pergi

dengan diam, pulang pada segelas anggur ringan.

Aku ingin katakan sesuatu padamu, tapi kau telah tahu.

Dan sesaat tertangkap: sunyi dan senja. Lalu:

Sunt lachrimae rerum. Dengan nada

yang tak akan meyakinkan bulan.

Ternyata airmata ada, pada tiap benda. Sekejap

kucoba berkata, tidak, tidak,

kita lebih baik kembali pada yang tadi,

kepada pikiran yang pertama. Tapi begitulah.

Tiap kali kita bertanya-tanya,

dalam kabut macam ini, yang lebih berat

ketimbang gelap, yang lebih gelap ketimbang angan,

mengapa pada akhirnya

semua terhenti, di titik ini.

 

 

 

Laksmi Pamuntjak telah me-

nerbitkan dua kumpulan puisi,

Ellipsis, (2005) dan The Anagram

(2007). Empat puisinya di atas

adalah versi Indonesia dari sa-

jak-sajak berbahasa inggris yang

akan ia bacakan dalam poetry

Parnassus di London, Inggris,

akhir Juni ini – bagian dari Cul-

tural Olympiad dan London Fes-

tival 2012, mengiringi Olimpiade

2012. Laksmi diundang ke acara

tersebut sebgai wakil dari In-

donesia.

 

KOMPAS, MINGGU, 24 JUNI 2012

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juni 25, 2012 pada 2:49 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: