Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI SAPARDI DJOKO DAMONO

with one comment

The Real Is Silence

River Of Life, 2012/1/

Apakah kau percaya

pada arwah gentayangan

yang ada dan tiada

di sekitar istana? Apakah kau percaya

ada yang baunya sengit

ada yang membusuk

di sekitarmu?

Apakah kau sungguh-sungguh

mencintai ibumu?

Wahai, Perempuan,

kaulah kaum ringkih itu.

 

/2/

Pangeran, lihatlah ke luar.

Orang-orang pulang kantor

berkendara motor:

Satu, seratus, seribu –

ada yang berteriak

mungkin padamu,

“Bagaimana kabar anjingmu?”

Tak ada yang peduli

dengan siapa ibumu tidur

malam ini.

Mereka tak suka nonton

sandiwara sedih –

hujan yang setiap hari

menggigilkan mereka sudah cukup

menjajarkan mereka

di sudut duka yang baka.

“Apa kabar anjingmu

yang suka menggeletak

pura-pura mati

setiap kali kau bicara

kepada dirimu sendiri

tentang bunuh diri?”

 

/3/

Seorang perempuan yang lewat

membuka payung dalam gerimis

tak pernah mendengar

dan mungkin juga tak peduli

bayolan dua penggali kubur

di pinggir liang lahat

yang akan menganga

siap menerima masa lampaumu.

Perempuan itu pingin buru-buru pulang

menonton kisah gadis solehah

agar bisa ikut mengusut

rangkaian pertanyaan sederhana

yang tak ada kaitannya

dengan celoteh dua badut itu,

“Apakah memang cinta

Yang telah mengirim

Perempuan muda itu

Ke jalan sesat?”

Perempuan berpayung

menunggu angkot –

kalau saja ia tahu

kisah cinta tak telarai itu

mungkin akan dikatakannya –

tanpa menimbulkan rasa sedih,

“Itu pasti lebih dikenang

daripada kalau ia masuk biara

yang pasti akan menjadikannya

tak jelas telungkup

atau telentang.”

Sidik jarinya tetap menempel

di sekujur tubuhmu, lihat!

Siut matanya masih terasa

menyambar-nyambar tatapanmu!

 

/4/

Kau mungkin hanya ragu-ragu

untuk tahu bahwa sepasang badut

itu punya firasat buruk

segera sesudah kau mendarat

di negeri ini;

mereka bernyanyi-nyanyi

memain-mainkan tengkorak

melempar-lemparkan kata-kata musykil

ketika menggali kubur

perempuan muda yang bayangannya

meraung dan mencakar-cakar

dua belak otakmu.

Mereka mungkin saja tahu

bahwa kau hanya berpura-pura

gila ketika itu;

bahwa kau memang tak paham

makna cinta yang kaukumur-kumur

tak pernah masuk tenggorokanmu,

“Yang mati bunuh diri

tak berhak dikubur

di pelataran suci ini!”

Tapi, bukankah kau sebenarnya

yang membimbingnya

ke liang kubur itu?

O, ya, Pangeran –  bukankah kau

yang pernah menyuruhnya

masuk biara ketika ia

merasa tak kuasa

menjangkaumu? Padahal!

 

/5/

Bahwa kau memang tak paham

ketika dulu bilang

ibumu pelacur murahan

bahwa kau tak bisa mengurai

simpul yang digulung

ibumu dan perempuan muda itu;

bahwa kau memang tak paham

kasak-kusuk sebelum kau masuk

ke perhelatan agung

yang tak seharusnya

tapi yang ternyata seharusnya

melibatkanmu;

bahwa adu pedang itu

permainan yang lebih perkasa

dari sandiwara akal-akalanmu.

 

/6/

Sandiwara yang kaurancang

hanya sedikit menggoyang mahkota,

yang jelata tak diberi tempat

untuk menyaksikannya;

mereka sibuk berseliweran

naik angkot, bis kota,

boncengan sepeda motor setiap hari

tidak untuk menjawab

pertanyaan yang mungkin kausodorkan

kepada arwah gentanyangan itu.

Sandiwara hanya kenyakinan maya

yang menorehmu, “Hai,

kenapa getar pada api maya?”

Kepada siapa sebenarnya

Kautodongkan pertanyaan itu?

Kepada arwahmu sendiri

yang akan menutup

perbincangan ini nanti?

 

/7/

Underpass macet sama sekali

ketika hujan deras turun –

itu, alhamdulillah, sebabnya mereka

tak pernah sampai di gedung

pertunjukan sandiwara

akal-akalanmu.

Mereka buru-buru

ingin sampai ke rumah

menyaksikan sinetron

yang tak berniat menyodorkan

masalah atau tanda tanya

ke kotak kepala

yang sudut-sudutnya

tak pernah tentram

dan karenanya hanya memimpikan

air mata yang melegakan sukma.

Sialan! Hujan tak juga berhenti

macet di underpass menyebabkan

semua tertunda.

Alhamdulillah, mereka tak ikut bingung

meski mungkin suka sandiwara

yang ada adu pedangnya

yang banyak maki-makinya

yang berkilau gelimang darahnya

tanpa harus mendengarkan

ucapan filsafat yang keramat

di tepi liang kubur itu.

 

/8/

Aku mencintai perempuan muda

yang mungkin bunuh diri itu –

lebih dari segala cinta

yang dimiliki manusia!

 

/9/

Tentu kaudengar teriakan lelaki

yang bapaknya kaubunuh

dan adiknya mati tenggelam itu,

“Tunggu, jangan timbun dulu

liang kubur yang kaugali

sampai kau bisa memeluk

sekali lagi

tubuh molek itu.”

 

/10/

Ada hp bergetar

Di underpass

Sinetron keluarga sakinah

dah mulai mas

km msh di jln

ujan ya

rugi mas ga nonton

haru bgt deh.”

Sialan! Hujan gak juga reda!

Padahal hanya dalam sandiwara

hidup berupa tanda tanya.

 

/11/

Apakah benar itu umpatan

ketika terdengar ucapan

Wahai, perempuan,

kaulah kaum ringkih itu.

 

/12/

Selebihnya; senyap-sunyi semata.

 

 

Nuh

Nuh bilang, kita harus membuat perahu.

Mimpi kita muntah: banjir besar itu

apa sudah direncanakan sejak lama?

Ambil beberapa huruf yang cekung,

 

agar kita semua bisa terapung.

Persiapkan juga beberapa yang tegak

dan miring, dan sebuah titik.

Ke mana kita terbawa muntahan ini?

 

Susun dalam sebuah kalimat yang kedap air

agar kita bisa sampai ke sebuah bukit.

Mimpikah sebenarnya muntahan ini?

Agar kita bisa menelan masa lalu.

 

Senyap Penghujan

:Rendra

 

/1/

Senyap mengendap-endap dan hinggap

di ranting itu. Seekor burung mematuknya –

ia terdengar menyanyikan aroma panda

sepanjang musim penghujan.

 

/2/

Seekor burung menukik dan hinggap

di ranting itu. Sunyi sembunyi di senyapnya –

terlelap di antara bulu-bulunya.

 

/3/

Senyap, burung, sunyi, dan juga hujan

melesat bersama aroma yang kebiru-biruan.

 

 

Sapardi Djoko Damono dalam waktu dekat

akan meluncurkan dua buku puisinya yang

terbaru, Sutradara Itu Menghapus Dialog

Kita dan Namaku Sita, serta sebuah trilogi

novelet.

 

KOMPAS, MINGGU, 3 JUNI 2012

 

 

Written by Puisi Kompas

Juni 3, 2012 pada 4:56 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Asyik🙂

    Suka

    Pilo Poly

    Juni 4, 2012 at 2:03 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: