Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI HASAN ASPAHANI

with 3 comments

Ia Menulis di Linimasa

PADA usia ke-40 dan beberapa dentang kemudian,

ia menulis di linimasanya, hidup yang baik telah

memberi satu hal: aku telah mampu untuk lupa.

 

Lupa, adalah gudang tanpa pintu, dan di situ,

sejumlah peristiwa terperangkap, berhenti,

bersama beberapa nama, dan segenap perannya.

 

Di gudang itu, tak apa-apa, bila sesekali ia kembali,

misalnya ketika ia perlu satu alasan sangat sepele

mengenang apa saja yang tak memaksa dikenang.

 

Itu bisa ada pada sepotong foto yang terlipat, lengket

Atau bisa pada jam bekas, berhenti berdetak pada 3.50!

 

Atau pada tumpukan acak majalah berita mingguan

yang sebagaian besar halamannya tak sempat dibaca.

*

PADA usia ke-40 dan beberapa dentang kemudian

ia menulis di linimasanya, hidup yang baik tetap

memberi satu hal: aku masih mampu untuk ingat.

Itu sebabnya ia masih menulis puisi: yang dengan

caranya ajaib, pada bait-bait selentur kantung karet,

 

memberi tempat pada segala yang hendak dilupa,

dan segala yang menerus-terus hendak diingat.

 

 

Yang Sembunyi di Dalam Mataku

Yang sembunyi di dalam mataku

Menatap pada tebing punggungmu

 

Karena ia terbuka, maka aku mengira

kau tantang aku berani menebaknya

 

Yang mengarang di tungku diriku

Mengapi tersebab tebas betismu

 

Karena langkahmu semakin tajam

Aku menjelaga, lekat ke silam sepi

 

Yang memelangi di dinding langitku

Cahaya ragu dari kembang gaunmu

 

Karena aku hidup yang tak bermusim

Aku tinggal ladang tak bertanaman

 

 

Aku Tak Akan Menyalahkannya

CINTAKU adalah rasa asin pada lautmu. Matahari mengira ia bisa

menguapkan aku dari engkau, mengawankanku dari langit yang asing.

 

Ia keliru, tapi biar saja, aku tak mau menyalahkannya.

Cintaku adalah hara menyebati di tanah kebunmu. Matahari mengira

 

hanya ia yang menumbuhkan engkau dan memekarkan bunga

bungamu. Ia salah, tapi bisa saja, aku tak akan menyalahkannya.

 

 

Romantisme Badut

APAKAH tangis? Tangis adalah tawa yang jujur. Dan tawa? Tawa adalah tangis yang

berpura-pura. Aku tahu sebab aku badut yang kau larang melucu.

 

Padahal sejak dahulu, aku hanya ingin menjadi badut bagimu, menjadi diri yang janggal, dan

kau tak lagi perlu payah mengerti aku, lau kau tertawa saja dan padamu semua sesal selesai.

*

HIDUP bukan cuma bagi singgah iseng di tenda sirkus. Kau menolak ajakanku, lalu

pergi sendiri, membelu ketegangan dari tubuh-tubuh yang terampil mempermainkan bahaya.

 

Lalu muncullah aku dengan topi yang tak muat, dan hidung merah tomat, di sela-sela tepuk

tanganmu, melemparkan bola-bola yang tak cukup di dua tangan, lalu kau tertawa dan

padaku segala kesal dimulai.

 

 

Ulat yang Rakus dan Embun yang Santun

AKU daun dan kau ulat yang rakus. Aku sudah tak ada, ketika kau

menjelma menjadi kupu-kupu, mengembangkan warna sayapmu.

 

Aku malah dan kau embun yang santun. Aku sudah tak ada ketika di

ujung daun, pagi dan matahari mencemerlangkanmu.

 

 

Gambar untuk Sebuah Petang

KITA memang tak pernah benar-benar siap,

Waktu, dengan tangannya, kita terperangkap.

Kita murid di kelas tujuh, dengan pelajaran

terlambat, atau belum saatnya diberikan.

 

Ada selembar fotografi, gugus geometri, yang

kau curi, dari perempuan lain yang mengelincir,

pada mimpi warna tua, yang miring-licin.

 

Tubuhmu, harus kumengerti sebagai rumus

sudut-sudut siku. Rumit, dengan angka-angka

berbaris lama, panjang di belakang nol & koma.

 

 

Tentang Ular yang Berdiam di Dalam Apel

ADA seekor ular berdiam dalam tiap

buah apel yang dulu kita yang menanam.

Ini sudah musim panen, di kebun liar

kita. Kita masygul, kenapa semakin lebat

kecemasan?

 

Kita tak berani memetik.

Juga tak berani memungut yang jatuh.

karena tak ada lagi, di tangan, tempat

untuk sakit yang lain. Jejak sepasang

taring jadi luka-luka. Tak akan kering.

 

Hati akan jadi keranjang kosong

yang kita seret pulang. Kita sepasang

petani, berselisih jalan di jalan ke rumah

yang berbeda alamat dan arah.

 

Kita tak berani pergi lebih jauh lagi.

 

 

Mengatakan Aku, Mengakukan Kata

Hanya kata. Tapi awal jadi dari segalanya

Hati kubuka dengan kata. Hati bersembunyi dalam kata

 

*

Aku ingin bebas dari kata, tapi aku menjadi kata

Aku ingin bebas dari aku, dibebaskan oleh kata

 

 

 

 

Hasan Aspahani lahir di Sei Raden, Kalimantan Timur,

dan kini bermukin di Batam. Buku puisinya antara lain

Telimpuh (2009) dan Luka Mata (2010)

Iklan

Written by Puisi Kompas

April 30, 2012 pada 10:53 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Akhirnya ada juga Blog yang memuat Puisi-puisi dari kompas, dan seperti blog ini baru di buat. Ok, ini akan sangat bermanfaat. Thanks to Adminnya.

    Suka

    Pilo Poly

    April 30, 2012 at 1:34 pm

  2. Wow. Akhirnya bisa baca puisi kompas secara online sekarang.
    Sudah lama saya nyari puisi-puisi yang di muat dari kompas.
    Selain Cerpen saja.

    Suka

    Pilo Poly

    April 30, 2012 at 1:41 pm

  3. Menyimak puisi-puisi keren di Kompas

    Suka

    Pekik Bayumukti Utomo

    April 30, 2012 at 2:18 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: