Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas

Posts Tagged ‘JOKO PINURBO

PUISI JOKO PINURBO

leave a comment »

Surat Batu

 

Maaf, baru sekarang aku membalas surat

yang kamu kirim tujuh tahun yang lalu.

 

Waktu itu kamu memintaku merawat

sebuah batu besar di halaman rumahmu

sebelum nanti kamu pahat jadi patung,

Patung itu kamu ambil dari sungai di tengah hutan.

 

Aku suka duduk membaca dan melamun

di atas batumu dan bisa merasakan denyutnya.

Kadang mimpiku tertinggal di atas batumu

dan mungkin terserap ke dalam rahimnya.

 

Hujan sangat mencintai batumu dan cinta hujan

lebih besar dari cintamu. Aku senang

melihat batumu megap-megap dicumbu hujanku.

 

Akhirnya batumu hamil. Dari rahim batumu

lahir air mancur kecil yang menggemaskan.

Air mancur itu sekarang sudah besar,

sudah bisa berbincang-bincang dengan hujan.

 

Maaf, jangan ganggu air mancurku.

Bahkan batumu mungkin sudah tak mengenalmu.

 

(2013)

 

 

Surat Kau

 

Kau tak ada di kakiku

ketika aku membutuhkan langkahmu

untuk merambah rantauku.

 

Kau tak ada di tanganku

ketika aku membutuhkan jarimu

untuk mengubah gundahku.

 

Kau tak ada di sarungku

ketika aku membutuhkan jingkrungmu

untuk meringkus dinginku.

 

Kau tak ada di bibirku

ketika aku membutuhkan aminmu

untuk meringkas inginku.

 

Kau tak ada di mataku

ketika aku membutuhkan pejammu

untuk merengkuh tidurku.

 

mungkin kau sudah menjadi aku

sehingga tak perlu lagi aku menanyakanmu.

 

(2013)

 

 

Surat Kopi

 

Lima menit menjelang minum kopi,

aku ingat pesanmu: “Kurang atau lebih,

setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.”

 

Mungkin karena itu empat cangkir kopi sehari

bisa menjauhkan kepala dari bunuh diri.

 

Kau punya bermacam-maca kopi

dan kau pernah bertanya: “Kau mau pilih

kopi yang mana?” Aku menjawab: “Aku pilih kopimu.”

 

Di mataku telah lahir mata kopi.

Di waktu kecil aku pernah diberi Ibu cium rasa kopi.

Apakah puting susu juga mengandung kopi?

 

Kopi: nama yang tertera pada sebuah nama. Namaku.

 

Burung menumpahkan kicaunya ke dalam kopi.

Matahari mencurahkan matanya ke hitam kopi.

Dan kopi meruapkan harum darah dari lambungmu.

 

Tiga teguk yang akan datang aku bakal

mencecap hangat darahmu di bibir cangkir kopiku.

 

(2013)

 

 

Surat Senyap

 

Waktumu sebentar lagi habis, hujan.

Malam akan menganga dan kau menjadi gema.

 

Mula-mula kau berjalan rintik-rintik,

bolak-balik antara kepala dan ujung kaki.

Ketika demam berhembus, kau meluncur deras

diiringi tiga tembakan petir. Hatiku banjir.

 

Kau membuat kolam di lambungku dan aku

terdiam mendengar kecipak air di kolamku

 

Kini kau merintik kembali dirintikmu

sebentar lagi sirna. Tinggal gigil penjual sate

yang tiba-tiba berhenti di leherku, mendengar “T”

yang Tuhan serukan di ujung lidahku.

 

Malam mulai menganga dan kau menjadi gema.

 

(2013

 

 

Surat Libur

 

Apa kabar liburan sekolahmu?

Semoga kamu bertambah gemuk dan lucu

dan dikagumi kucing kesayanganmu.

 

Aku juga sedang libur. Aku baru saja

naik kelas. Aku mendapat hadiah

dari Ayah dan Ibu karena aku

rajin belajar. Belajar melamun

dan menuliskan hal-hal yang tak mudah.

 

Ibu memberiku sebuah jendela

untuk mengganti jendelaku yang sudah

usang dan bolong-bolong kacanya.

Dari jendela baruku aku bisa melihat

seekor kucing sedang duduk manis di bulan

sambil matanya menantang mataku.

 

Ayah hanya bisa memberiku sehelai sarung:

sarung cap kucing. Sarungku lebih panjang

dari tubuhku, lebih hangat dari mimpiku.

Aku mau memakainya untuk membungkus

tidurku yang simpel dan murah.

Aku masih menghitung kotak-kotaknya.

Sabar ya. Nanti kuberitahu berapa jumlahya.

 

(2013)

 

 

Surat Pulang

 

Tenanglah. Aku tak pernah mengharap

oleh-oleh dari orang yang hidupnya susah.

Kamu bisa pulang dengan rindu

yang masih utuh saja sudah merupakan berkah.

 

Pulang ya pulang saja. Tak usah repot-repot

membawa buah tangan yang hanya akan

membuat tanganku gemetar dan mataku basah.

 

Aku tahu, kepalamu kian berat

dan hidupmu bertambah penat.  Mau selonjor

dan ongkang-ongkang saja kamu tak sempat.

 

Pernah aku jauh-jauh pergi untuk menemuimu

dan tak bisa menemukanmu.

Di manakah kamu? Ke manakah kamu?

Ealah, ternyata kau sedang beribadah di akunmu.

 

Pulanglah dengan girang jika pulang

adalah menulis ulang sajak yang rumpang.

Jika kau punya banyak kucing tapi tak punya

ngeong kucing, aku punya malam-malam

bertaburkan ngeong kucing.

 

Pulanglah dengan lugu. Masih ada pintu untukmu,

bahkan jika kau pulang telanjang malam-malam

saat aku sedang bertukar meong dengan kucingku.

 

(2013)

 

 

Joko Pinurbo lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962;

tinggal di daerah Istimewa Yogyakarta.

Buku kumpulan puisi terbarunya adalah

Tahilalat (2012) dan Baju Bulan (2013).

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 22 September 2013

Written by Pilo Poly

September 25, 2013 at 7:05 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI JOKO PINURBO

leave a comment »

Hujan Kecil

 

Hujan tumbuh di kepalaku.

Hujan penyegar waktu.

 

Memancur kecil-kecil.

Merincik kecil-kecl.

Dihiasi petir kecil-kecil.

 

Hujan masa kecil.

 

(2012)

 

 

Airmata

 

Biarkan hujan yang haus itu

melahap airmata

yang mendidih

di cangkirmu.

 

(2012)

 

 

Sungai

 

Ibu membekaliku sebuah sungai

yang jernih dan berkecipak-cipak airnya.

Sungai itu ditanam di telapak tanganku,

mimpi ibu terbawa dalam arusnya.

 

Bila aku tidur, sungaiku berkelana

Menyusuri garis-garis nasibku.

Gemercik di tengah hutan.

Gemuruh di malam jauh.

 

Bila rindu meluap dan aku banjir

jari-jari tanganku mengucurkan air.

 

(2012)

 

 

Keranjang

 

Perempuan itu membuat keranjang

dari benang-benang hujan

dan menggantungnya di beranda

 

di dalam keranjang ia tidurkan bayinya,

bayi yang rahim dari rahim senja.

 

Bila malam haus cahaya,

bayi mungil itu menyala

dan keranjang dirubung sepi di beranda.

 

(2012)

 

 

Batu Hujan

 

Menjelang subuh lelaki tua itu

keluar dari tidurnya, kemudian masuk

ke dalam batu besar di depan rumahnya.

 

Di dalam batu ia temukan

bongkahan bening dan biru;

hati hujan yang matang diperam waktu.

 

(2012)

 

 

Petir

 

Petir yang pecicilan itu

terkapar dihajar sepi

yang sedang mabuk

di atas sajakku.

 

(2012)

 

 

Doa Malam

 

Tuhan yang merdu

terimalah kicau burung

dalam kepalaku.

 

(2012)

 

 

Keringat

 

Tiap hari ayah memasukkan

butiran keringat ke dalam botol

dan menyimpannya dalam kulkas.

 

Bila saya dilanda demam yang ganas,

ayah menuang keringat dinginnya

ke dalam gelas, saya minum hingga tandas.

 

Cenguk. Cenguk. Asunya amblas.

 

(2012)

 

 

Mengenang Asu

 

Pulang dari sekolah, saya main ke sungai.

Saya torehkan kata asu dan tanda seru

pada punggung batu besar dan hitam

dengan pisau pemberian ayah.

 

Itu sajak pertama saya. Saya menulisnya

untuk menggenapkan pesan terakhir ayah;

“Hidup ini memang asu, anakku.

Kau harus keras dan sedingin batu.”

 

Sekian tahun kemudian saya mengunjungi

batu hitam besar itu dan saya bertemu

dengan seekor anjing yang manis dan ramah.

 

Saya terperangah, kata asu yang gagah itu

sudah malih menjadi aku tanpa tanda seru.

Tanda serunya mungkin diambil ayah.

 

(2012)

 

Joko Pinurbo lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962; tinggal

di Yogyakarta. Buku puisi terbarunya; Tahilalat (2012). Kumpulan

tweet-nya akan terbit dalam waktu dekat.

 

KOMPAS, MINGGU 18 NOVEMBER 2012.

 

 

Written by Pilo Poly

November 19, 2012 at 3:50 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 6.433 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: