Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas

Posts Tagged ‘A Muttaqin

PUISI A MUTTAQIN

with 2 comments

Percakapan Bolong

 

Aku bangkit dari demam

agar bumi bebas dari belatung kelam.

Kuperam asam, garam dan cukak legam

dan kau sebut aku kuntum zakkum jahanam.

Tidak. Wujudku alum dan aku bukan bagian

kuntum zakkum. Kubuang luka dan lambungku

supaya mataku terbuka seperti malam

yang merembyak rambut rahasia.

Bintang bunting, Bulan bunting.

Seribu belatung melompat dari bulan itu

dan menyerbu lubang punggungku.

Bersama belatung itu kurawat lapar sejati.

Yakni, lapar yang kuwarisi

dari nabi dan orang-orang suci.

Tidak. Tidak. Lapar ini tidaklah

suci seperti lapar para nabi.

Wahai kaum kolot penganut otot,

tak usah kalian kebakaran jenggot.

Jangan marah agar doa-doa kalian tak sia-sia.

Tenang. Jangan mengangkat pedang untuk menebas

wujudku yang pasti jauh dari jangkauanmu.

Laparku hanya lapar iblis

yang (pura-pura) melengos saat dipaksa

bersujud pada selain Maha Wujud. Laparku lapar ular

yang terus menjalar oleh geletar gatal tak terbayar.

Tidak. Tidak. Tak hendak kudekatkan diri

pada yang suci, walau – seperti jubahmu –

dasterku juga putih. Kuramut curut dan tikus got

sebab kami sama-sama makhluk kendor dan kotor.

Kusimpan burung hantu di jantung suwung,

seperti cinta buta yang telah menyatu dengan raga

kosongku. Kucintai burung penyair pemalu itu

agar aku betah merawat insomnia

di mana para pawang dan petualang

mencari sumpal bagi lubang sepi, lubang perih

juga lubang birahi. Itulah tiga

lubang keji,  seperti lekuk lapar ini.

Tidak. Tidak.  Lapar dan lubangku tidaklah keji

biar keduanya tak kunjung tertambal

oleh raga, ragi, apalagi basa-basi.

Mungkin ini lapar tertinggi

yang membuat tubuhku ringan

melayang dan tertawa

menahan gatal gawat

tersebab tabiatmu.

Tidak. Tidak hanya tabiatmu, tapi juga

tabiat sekalian kawanmu yang serba palsu.

Sebut aku sundel bolong, sebutlah,

agar doa-doa kaum palsu pemuja basa-basi itu

tak melayang kosong.

 

 

 

Burung Hantu

 

Aku melihatmu

terbang, melayang, tanpa beban.

Sayap dan bulu bukan bagianmu

tapi kelebatmu lebih ringkih dari buih dan mimpi.

Aku mencintaimu sedalam malam,

seluas insomnia, sebab kau wujud yang

mengajari aku menjauh dari bias cahaya.

Tidak. Tidak. Aku barangkali tidak mencintaimu.

Tapi mencintai sebagian diriku yang terangkut

lubangmu. Yakni, wujud busuk, tawa buruk

juga belatung penguk yang membuat bangkai

dan sampah-sampah di bumi terurai.

Aku bersyukur kita lahir dari kaki dan kotoran.

Agar yang suci terlindung

dan yang bersih terpalung.

Maka, seperti dirimu, diam-diam

kubenamkan bulu-bulu putihku

pada asap gelap, meniru Eyang Sumirang

yang dibuang ke kobaran api.

Tidak. Tidak. Tak berhak kubandingkan diri

dengan Eyang Sumirang yang teguh dan tenang

menggenggam tarkhim Ibrahim yang goyang.

Tarkhim itulah yang terus kulagukan

tak peduli bulan terang atau tak terang.

Aku terus melagu, walau laguku terdengar buruk

dan membusuk di kuping kaum pengkuh.

Aku terus melagu, bahkan ketika kawanku

anjing-anjing pincang dan kucing malang itu digiring

regu berseragam karena meniru laguku kelam.

Tidak. Tidak. Tak ada yang lebih kelam dari tawamu.

Aku mencintaimu dan mencintai tawamu

yang hitam. Aku menepi ke tempat-tempat tinggi

dan sepi, agar bisa terus mencintai tawamu

yang merawat tarkhim yang ditekuk kawanan

serigala berbulu unta. Maka teruslah tertawa.

Datangilah orang-orang malang

dan tak berdaya dengan tawamu.

Boleh kau ajak kolega atau kawan kentalmu,

misalnya gunderuwo, wewe gombel, gendul pringis,

memedi, banaspati, demit, pocong, jenglot,

jerangkong, kemamang, oyot nimang, kubur bajang,

begejil, tuyul, weleg, kuntilanak dan sikil telu.

Bimbing orang-orang susah menertawai dunia.

Ajari mereka meniup lapar dengan

harapan dan nomer-nomer semu.

Ajari mereka menertawai diri

agar tak gampang pura-pura

menjadi suci atas segala tipu-daya busuk itu.

Tidak. Tidak. Tak boleh sekali-kali

mengutuk dan menyebut mereka sebagai busuk

hanya karena tabiat mereka makin bikin geli.

Bukankah yang demikian itu membuat kita

kuat menertawai diri dan mencintai

dengan cara sembunyi?

 

 

 

Rumah

 

Kutampung burung hantu itu, seperti anak malang

yang pulang dari rantau. Ia piawai menggubah

lagu merdu, pelipur luka kayu dan tanah

yang kini menjadi bagian badanku.

Kayu dan tanah – remah yang telah dibakar

jadi batu bata itu – adalah penyangga hidupku.

Dari mereka aku tahu tentang hutan,

tentang petapa, dewa dan sedikit rahasia.

Dari mereka pula aku mendengar kisah

tentang kesucian perawan,

yaitu pacar si burung hantu itu

yang kini kerap gentayangan

mengitari tubuhku.

Tidak. Tidak. Perempuan itu

tidak gentayangan.

Dengan daster melati ia memberi

wangi seliat langit sepi.

Tidak. Tidak. Perempuan itu

tidak gentayangan dan menyeramkan,

apalagi jahat, seperti dongeng

yang dikarang-karang tetangga sekitarku.

Benar kata penghuniku, perempuan itu

memang menyimpan bau wangi dan busuk.

Ia merebakkan melati bau liar

pada orang yang tak menyerah pada lapar.

Tapi ia juga menebar bau busuk,

lebih busuk ketimbang bangkai munyuk

bagi orang yang suka pura-pura suci.

Rupa-rupanya penghuniku yang sepuh itu

orang baik dan bijak. Seperti anak angkatku

– si burung hantu itu – ia begitu rendah hati

dan tak suka bersaing dengan matahari.

Ia memang tak suka keluar rumah siang-siang

apalagi mengumbar cerita kacau

dan menjual khutbah yang tak perlu.

Tapi mengapa penghuniku

malah dituduh sebagai dukun gendam

hanya karena ia suka berdiam menderas diri

dan menghuni aku yang, kata mereka,

berbentuk muram. Tak sama

dengan bentuk tetanggaku yang

berwujud gendong angkuh dan seragam.

Beruntung Tuhan pengasih-penyayang

mengirim burung hantu

yang telah kuanggap anakku.

Puji Tuhan yang mengutus

perempuan bolong itu,

yang tawanya begitu jujur melipur

malam dan sepiku.

(2014)

 

 

 

Tukang Sulap

 

Kubuka topi keramat

seperti membuka pagi dari jerap mimpi.

Kurahasiakan mawar, telur, roti, dan korek api.

Juga ular, merpati dan tikus putih ini,

agar mereka percaya yang gaib masih tersisa

di bumi yang kian brutal dan bebal.

Lihatlah ular ini. Ia tahu, di atas sana

seekor burung hantu dan sundel bolong

bercinta dan bersembunyi dari hari-hari

yang lebih buruk dari dengkur babi.

Tidak. Tidak. Mereka bukan burung hantu.

Bukan sundel bolong. Bukan.

Ketahuilah, si burung hantu

adalah punggawa yang memilih menepi

setelah si paduka membakar petapa

yang dituduh menyebar bidah.

Sedang si sundel bolong

adalah perawan yang memilih mencebur api

meniru si ratu ketika didakwa membuka

gelambir sorga dan bulu-bulu cinta. Begitulah.

Sejarah adalah serangkai rahasia, darah dan api.

Maka dengan gemetar dada dan sangsi

kumainkan sekian atraksi sepi.

Kusembur minyak ke kobar api

agar ia mengembang seperti geletar lapar.

Yakni lapar yang membuat gajah, harimau

ular dan marmut rela menjadi badut. Lapar

yang membuat segala yang liar

jadi jinak dan jamak, seperti para hadirin

yang duduk manis menikmati segala tipuanku itu.

Tak tahu jika menjadi lugu dan tolol begitu

mereka hanyalah bahan lelucon dan tertawaan

sekawanan kelelawar dan burung hantu.

Juga sundel bolong yang tawanya

kian mengerikan itu.

 

 

A Muttaqin tinggal di Surabaya, Jawa Timur. Buku puisinya yang segera terbit bertajuk Kerucut Rumah Eyang.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 9 FEBRUARI 2014

Baca entri selengkapnya »

Written by Pilo Poly

Februari 12, 2014 at 10:57 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI A MUTTAQIN

leave a comment »

Dolano

 

-untuk Abban A Dawann

 

Kuntul kayu, bawa aku ke bumi lain. di bumi ini, burung-burung

begitu berat. Tak bisa menerbangkan aku ke taman teduh, di mana

hari-hari hanyalah pagi, dan kuda odong-odong mengangguk-

angguk sendiri, bukan lantaran dijejak kaki.

 

Bersama empat kuda odong-odong aku akan menyelam lubuk

laut dan bermain perang-perangan bersama ikan, cumi, keong dan

kepiting. Ular yang ikut aku ajak. Juga curut dan coro laut. Sebab di sini, curut

dan coro pemalu dan kotor. Mereka suka bersembunyi dan asyik

sendiri. Tak bisa diajak mandi bola atau kubonceng sama sepeda.

Padahal sepedaku kecil. Di keranjangnya ada kancil mungil. Rodanya

pun empat. Tapi seperti tikus, coro dan curut tetap tak mau ikut.

 

Angsa bulu, seberangkan aku ke bumi lain. Yang langitnya rendah

dan berwarna cerah. Tidak seperti langit yang ini. Tinggi dan tak

tergapai. Padahal aku ingin mengajak kembang langit bermain

denganku. Seperti teman kembang yang kujumpai dalam mimpi.

 

Dalam mimpiku, semua bermain denganku. Kupu-kupu bermain

denganku. Kucing dan anjing bermain denganku. Juga terlewu.

Juga pohon dan rumput hijau. Matahari pun merunduk dan

menebar permen warna-warni. Puji Tuhan, batu-batu dan tanah

juga bermain denganku. Mereka jadi lembek jika aku terjatuh.

Rumah-rumah mengecil dan bermain denganku. Es krim bermain

denganku. Roti dan selai stroberi bermain denganku. Meja dan

kursi bermain denganku. Mereka semua bermain denganku.

 

Ayah dan bunda juga selalu bermain denganku. Mereka seperti

teman sepantaranku. Makhluk-makhluk bersayap lalu datang

dengan kereta kelinci. Mereka membawa aku terbang ke sana

ke mari. Aku pun terbang berbalut cahaya warna-warni…

 

2013

 

 

 

Kubu

 

1

Kau kaku seperti kayu. Kau langgar syariah airku. Hingga airku

lupa yang rendah dan mengalir ke daunmu. Ke pucuk mimpimu.

 

Makhluk kuning yang dikirim mata samsu itu mengubah wujudku

menjadi butiran-butiran hijau dan ditebar ke cabang canggungmu.

 

Sejak itu bunglon bego menuduhku menjadi bagian dari satu kubu.

Tanahlah yang tahu, bahwa aku yang mendewasakan rantingmu.

 

Supaya si ranting tak merasa sia-sia dan menggenggam buah yang

manisnya dikenang ke alam baka. Supaya purna tugas & sunnahnya.

 

2

Dobol betul si codot yang menggondol buahmu dan menjatuhkan

ke gelanggang gelap. Cucumu yang tumbuh dari biji itu jadi kalap.

 

Ia menghuni halaman rumah warisan Belanda, di depan lajur

ruwet jalan raya, di mana udara berat berkat karbon monoksida.

 

Cucumu tak lagi mengenal liku laku yang kau pelajari dari sungai

di hutan itu, tempat kau melanggar syariah airku dan menipu regu

 

Pemburu buaya dengan bebunga. Cucumu memilih tumbuh seperti

lajur jalan macet itu, buntu sudah lubang hijau dan jalan samsu.

 

2013

 

 

 

 

A Muttaqin lahir di Surabaya. Setelah Pembuangan

Phoenix (2010), buku puisinya yang terbaru adalah

Tetralogi Kerucut (akan segera terbit)

 

 

KOMPAS, MINGGU, 28 APRIL 2013

Written by Pilo Poly

April 30, 2013 at 5:13 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 6.422 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: