Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas

Archive for April 2013

PUISI A MUTTAQIN

leave a comment »

Dolano

 

-untuk Abban A Dawann

 

Kuntul kayu, bawa aku ke bumi lain. di bumi ini, burung-burung

begitu berat. Tak bisa menerbangkan aku ke taman teduh, di mana

hari-hari hanyalah pagi, dan kuda odong-odong mengangguk-

angguk sendiri, bukan lantaran dijejak kaki.

 

Bersama empat kuda odong-odong aku akan menyelam lubuk

laut dan bermain perang-perangan bersama ikan, cumi, keong dan

kepiting. Ular yang ikut aku ajak. Juga curut dan coro laut. Sebab di sini, curut

dan coro pemalu dan kotor. Mereka suka bersembunyi dan asyik

sendiri. Tak bisa diajak mandi bola atau kubonceng sama sepeda.

Padahal sepedaku kecil. Di keranjangnya ada kancil mungil. Rodanya

pun empat. Tapi seperti tikus, coro dan curut tetap tak mau ikut.

 

Angsa bulu, seberangkan aku ke bumi lain. Yang langitnya rendah

dan berwarna cerah. Tidak seperti langit yang ini. Tinggi dan tak

tergapai. Padahal aku ingin mengajak kembang langit bermain

denganku. Seperti teman kembang yang kujumpai dalam mimpi.

 

Dalam mimpiku, semua bermain denganku. Kupu-kupu bermain

denganku. Kucing dan anjing bermain denganku. Juga terlewu.

Juga pohon dan rumput hijau. Matahari pun merunduk dan

menebar permen warna-warni. Puji Tuhan, batu-batu dan tanah

juga bermain denganku. Mereka jadi lembek jika aku terjatuh.

Rumah-rumah mengecil dan bermain denganku. Es krim bermain

denganku. Roti dan selai stroberi bermain denganku. Meja dan

kursi bermain denganku. Mereka semua bermain denganku.

 

Ayah dan bunda juga selalu bermain denganku. Mereka seperti

teman sepantaranku. Makhluk-makhluk bersayap lalu datang

dengan kereta kelinci. Mereka membawa aku terbang ke sana

ke mari. Aku pun terbang berbalut cahaya warna-warni…

 

2013

 

 

 

Kubu

 

1

Kau kaku seperti kayu. Kau langgar syariah airku. Hingga airku

lupa yang rendah dan mengalir ke daunmu. Ke pucuk mimpimu.

 

Makhluk kuning yang dikirim mata samsu itu mengubah wujudku

menjadi butiran-butiran hijau dan ditebar ke cabang canggungmu.

 

Sejak itu bunglon bego menuduhku menjadi bagian dari satu kubu.

Tanahlah yang tahu, bahwa aku yang mendewasakan rantingmu.

 

Supaya si ranting tak merasa sia-sia dan menggenggam buah yang

manisnya dikenang ke alam baka. Supaya purna tugas & sunnahnya.

 

2

Dobol betul si codot yang menggondol buahmu dan menjatuhkan

ke gelanggang gelap. Cucumu yang tumbuh dari biji itu jadi kalap.

 

Ia menghuni halaman rumah warisan Belanda, di depan lajur

ruwet jalan raya, di mana udara berat berkat karbon monoksida.

 

Cucumu tak lagi mengenal liku laku yang kau pelajari dari sungai

di hutan itu, tempat kau melanggar syariah airku dan menipu regu

 

Pemburu buaya dengan bebunga. Cucumu memilih tumbuh seperti

lajur jalan macet itu, buntu sudah lubang hijau dan jalan samsu.

 

2013

 

 

 

 

A Muttaqin lahir di Surabaya. Setelah Pembuangan

Phoenix (2010), buku puisinya yang terbaru adalah

Tetralogi Kerucut (akan segera terbit)

 

 

KOMPAS, MINGGU, 28 APRIL 2013

Written by Pilo Poly

April 30, 2013 at 5:13 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI OOK NUGROHO

leave a comment »

Kabar Malam

 

Malam setiap kali datang

Tanpa setahumu, mencoba mengetuk

Kamarmu yang jauh, tapi cahaya

Lelampu menahannya di beranda

 

Ia ingin menemuimu sendirian saja

Bercakap di ruang tamu yang kedap

Katanya ada warta genting, pesan rahasia

Yang sudah lama disimpannya

 

Tapi kau setengaj percaya

Separuh tidak, tak mengurusnya

Membiarkan terlantar di serambi

Depan, dan buyar begitu saja saat fajar

 

Rekah, tapi malam, malam akan sabar

Dan datang kembali setiap kali

Membawa kabar luar biasa penting, yang

Katanya hanya kau berhak mendengarnya

 

 

2012

 

 

 

Tema Jason Bourne

 

Catat dan simpanlah namaku

Sebab tinggal ini saja yang tersisa

Alamat dan asal-usul lainnya

Tertinggal dalam kabut

Mungkin lenyap

Serupa berkas rahasia, kisah busuk

Dalam persekongkolan jahat

 

Karena itulah agaknya

Ia mesti tamat, tak tercatat

Kecuali nama, sepenggal tema

Bersama tubuh ringkih ini, terseret

Dalam pelarian waktu

Pemburuan sengit

Sebab mereka inginkan permainan ini selesai

Sebelum tiba jejakku

Di batas cuaca

Terminal sentra

Dengan karcis tunggal

Menembus ruang penghabisan

Titik asal kekejian

 

Sekali lagi, catat dan simpanlah kisahku

Sebab cuma ini yang kupunya

 

2013

 

 

 

Malam dalam Sebuah Sajak

 

Cahaya tak mencapai

Ujung boulevard itu

Beberapa batang pohon

Yang tak disebutkan jelas

Jenis dan namanya, berjajar

Mengisi baris awalnya

 

Malam mungkin jam 2

Rumah-rumah seolah

Memejam menahankan

Beban langit yang merendah

Dengan bulan separuh

 

Yang mengembang tak acuh

Membiarkan baris dan rima

Bergulir sepanjang boulevard

Yang sudah disebutkan

Pada baris kedua

 

Lalu seorang lelaki

(yang pasti bukan saya)

Melintas mendadak

Melepas bait ketiga

Tapi jika hadirnya diniatkan

Mengembuskan aroma hidup

 

Pada ini sajak redup

Mungkin ia tak cukup bernyawa

Cahaya pada baris pertama

Juga gagal mencapai

Parasnya yang pasi

Bayangnya yang sendiri

 

2013

 

 

Ook Nugroho lahir di Jakarta, 7 April 1960. Buku

Puisinya adalah Hantu Kata (2010)

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 28 APRIL 2013

Written by Pilo Poly

April 30, 2013 at 5:10 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI AHMAD YULDEN ERWIN

leave a comment »

Gramofon Hindia, 2012

 

1

Sepotong cahaya krem perlahan melayang dalam cahaya lembut

matahari senja, angin sebentar singgah menyapa ruang tamu.

Kau pun teringat satu musim dingin paling kejam di Moskow

menggigil dalam selarik sajak Brodsky; warna-warna muram

 

menghantui sepanjang tahun pelariannya: di sana kebebasan

ditumpuk bersama pakaian kotor, dasi merah tak lagi terpakai,

selesai dalam mesin cuci di ruang kusam satu apertemen kecil

di Amsterdam. Di sini senja bulan April, cicit sepasang kenari

 

pada ranting kering petai cina, di seberang halaman tetangga

disahuti lengking rumput liar. Pikiranmu berlompatan seperti

sepasang kelinci anggora: mendung di pelupuk mata putrimu

menjelma hujan saat menguburnya – Mengapa mereka mati?

 

Memang, tak bisa kaujawab pertanyaan putrimu dengan tepat.

Kau memeluknya, berjanji akan membeli seekor kelinci putih di

pasar kaki lima. Kenangan tengah melompat ke sisi beranda

tepat ketika bola matamu mengincar perspektif dingin lainnya.

 

 

2

Di pojok kiri langit utara, warna senja makin mirip susu basi

seperti satu sapuan kuas canggung dari tangan pelukis amatir;

namun aroma rambut basah tak bisa dihapus, seperti bau nasi

matang dikukus. Kini, tak ada yang bisa memaksa kenangan

 

di hatimu, tumbuh diam-diam, persis ketika kau memandang

putik-putik anyelir, seolah muncul gaib di depan matamu –

Kenapa mereka berduka? Kenapa kita ada? Kenapa maut ada?

Dan kau baru akan memulai perjalanan saat mendung terjaga.

 

Gegas kaurapikan seprei ranjang tidurmu, kausapu debu-debu

di bawah pintu lotengmu, langkah kaki turun dari anak tangga

keramik berkilau. Di luar: kepak sayap tekuku menjemput awal

musim kemarau. Buah-buah jambu air di halaman bergoyang

 

dengan merah tua dan merah mudanya, semburat warna hijau

dari ekor belalang. Jejak kelinci hantu melompati sejulur akar

ilalang; segalanya pasti berlalu, dan kau selalu bisa melupakan

desir angin dalam mimpimu, di antara dua jeda, kalimat dingin

 

bersiap mengucapkan sayonara kepada rak sepatu, sandal tua,

dan bacin bau got di depan rumahmu. Kini kau tatap kebalauan

bersinar di bawah sebatang lilin, di meja kerjamu – begitulah

muasal seekor kecoak sekonyong kabur ke kolong ranjangmu.

 

 

3

Tapi perjalanan ini belum juga dimulai. Kautatap peta Hindia

terlipat dalam batok kepalamu, kaubayangkan satu-dua konser

Sweelinck atau keroncong lama menjemput kepergianmu, tapi

detik-detik tersangkut jam dinding, melenting ke percik ombak

 

di laut tak bernama, menyimpan bau bebiji lada, cengkih, dan

manisan buah pala. Apa yang paling penting sekarang? Mimpi

para perompak hantu berlayar dalam catatan sejarah terbakar,

atau sisa nafsu di mercusuar atau asap mesiu di palka perahu;

 

atau benteng dan moncong meriam yang teracu ke hidungmu?

Atau tarian senapan di balik keningmu dengan lagu dansa dari

piringan hitam yang sama? Atau tanduk kerbau dan lidah kelu

kuli-kuli; atau cambuk api – ladang tebu bersepah sisa nyeri?

 

Kini melankoli itu dihiasi tahi cicak, agak berjamur, tersungkur

di loteng berdebu. dan langkahmu tak juga beranjak dari ruang

tamu, dari halaman buku sejarah itu: kutu-kutu yang mencatat

kisahnya sendiri, para budak yang merompak mimpinya sendiri.

 

4

“Cornelis de Houtman, kau hampir tiba di akhir perjalananmu.”

Seperti lolong anjing mengendus jejak malam, memanjang dan

menyusut perlahan, dukejar kilatan cahaya lenyap di bukit batu.

suara-suara gaduh di telinga: gerutu, isak, ampuni bapak saya

 

-dentam peluru, sunyi dinding, piring dibanting, kaing-pintu,

seperti salib sumbu, atau moncong mungil berembun, perlahan

empat kaki mengendap di kebun mentimun, sehingga petani itu

memakinya…. kutu-bagero, luing-inlander, tungau-pencuri

 

berbalik, situasi kini mulai sedingin dinding pagi, damai tanpa

tekanan. Bergantung santai pada jejaring liur berkilau seputih

kuntum lili, menunggu seekor lalat-bangkai terpikat berguling di

ranjang tidurmu: “Kini, kau tak lain seekor laba-laba hantu.”

 

5

Sepotong negeri terbuat dari sobekan peta, kecuali gigi tanggal

nyaris tiada kebenaran di sana, nasib seperti angin dan sengal

jarum jam, pena tak terpakai, membeku – seperti semut hantu

dalam pipa plastik, semua bagai mosaik. Sedengus napas sakal

 

membusuk di celah batu, menunggu malaikat maut menjemput

ampas keju di anusmu; tak berpintu, anyir dan lembab, kuburan

para pencuri dalam amplop tertutup. Langit berkilat: hujan abu

menjemput nisan pahlawan di buku telpon. Tak ada yang perlu

 

diubah, kecuali letak piring, cawan beling, dan garpu makanmu

-gromofon Hindia: menyala. Bayang jendela mulai berdansa:

hanya tungkai hantu dan bangkai belalang, hanya tumit hantu

dan bangkai belalang, hanya negeri hantu dan bangkai belalang!

 

 

Buku Mimpi

 

Menguap ke tebing

cahaya – hiu, cumi, gurita

dilarung ke selat gema

 

Hitam kepiting membuih

ke putih mata, kuning tripang

berenang ke teluk warna.

Tengah malam itu kau bangun

menyapu sehalaman kosong

buku mimpimu. Pikiran sekejap

mendesir lenyap ke pasir waktu.

Bayang menghilir ke lututmu.

 

Sepasang sandal melangkah tenang

menjemput maut di mata kakimu.

 

 

Pulang Pagi

 

Suatu pagi di jalan pulang

Sepasang kelinci berlompatan

Lesap di ladang bunga seruni

 

Sepasang lubang hidung

Mengintip lekuk punuk capung

Penyap di rumpun daun kemangi

 

Sepasang mata telah bersayap

Terbang ke kilau embun pagi

Sepasang telinga telah hinggap

Senyap ke rimbun kicau kecici

 

Ada yang telah pulang sekarang

Bersulih gema paling sunyi

Tiada lagi percik api, tiada lagi

 

Maut adalah cahaya matahari

Berkilau lembut di mata seekor kelinci

 

 

 

 

Ahmad Yulden Erwin lahir di Tanjungkarang, 15 Juli

1972. Ia menamatkan studi di Fakultas Ekonomi

Universitas Lampung. Puisinya termuat dalam sejumlah

Antologi, antara lain Mimbar Penyair Abad 21 (1997), dan

Cetik (1999).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 21 APRIL 2013

Written by Pilo Poly

April 23, 2013 at 8:28 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MARIO F LAWI

leave a comment »

Nazarenus

 

Pelajaran berjalan di atas air selesai.

(Suara angin yang lembut.

Beberapa nelayan melintas dengan perahu menuju pantai.)

 

Narator. “Maka tibalah ia di sebuah tanah lapang.

Di utara, ia menyaksikan kota bergerak lambat ke dalam tanah.”

 

(Awan menutup mata.

Gemuruh tumpah.

Riuh suara dari arah kota.)

 

Langit tak berujung terbelah.

Seorang pria berlari mendapatinya.

 

“Yohanes?”

 

“Kota, Tuan, kota hampir tenggelam.”

 

(layar ditutup)

 

(Naimata, 2013)

 

 

Ararat

 

Kita adalah sepasang awan hitam

Memandang hutan yang memanjang

Di belakang Ayah Kanaan yang belia.

Pasangan hewan yang berarak menumpahkan

Doa dari balik langit ke dalam bahtera.

 

Dengan tatapan, berbicaralah engkau tanpa suara

Kusaksikan bumi dipenuhi orang-orang yang dipaptis.

 

Sang pembabtis menyunggingkan senyum pelanginya

Setelah menumpahkanmu ke dalam legam.

Aku pun lentur menjadi debut berkepanjangan.

 

(Naimata, 2013)

 

 

Magdalena

 

Menangkapmu. Berkali-kali aku harus memastikan agar kau

Tak ikut tenggelam ke dalam nikmat yang mangsi. Bersusah

Aku menyelamatkanmu dari amukan para penyelam, seorang

Muridku justru berniat menggenapimu berulang kali. Sungguh

Pintumu tak hanya menerbitkan birahi atau aroma narwastu

Yang pernah kaulabuhkan di kakiku. Kuharap kau masih

Mengingat ketika pertama batu-batu bersijatuh di hadapanmu,

Si Janggut Putih yang bersikeras mengarahkan rajam tajam ke

Arah lambungku. Kubuatkan sukatan dengan tanah liat dan

Sepotong kayu, tak lebih kelit dari jarak hati dan payudaramu.

Ara yang kupelihara segera mengutuk dirinya karena tubuhmu

Ternyata lebih ranum dari daging pejalnya. Misalkan surga itu

Doa para imam agung, maka lebih pantas kau menghadapku.

Amin. Kukatakan padamu, ia seumpama lemak yang menetes

Dari merpati panggang kini hinggap di tanganmu. Tentu saja

Jauh sebelum aku menangkapmu. Menyelamatkan angkamu.

 

(Naimata, 2013)

 

 

Mario F Lawi lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur,

18 Februari 1991. Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi,

Universitas Nusa Cendana. Bergiat di Sastra

Dusun Flambora.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 14 April 2013

Written by Pilo Poly

April 15, 2013 at 3:27 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MUGYA SYAHREZA SANTOSA

with one comment

Tulang-Belulang Sunyi

 

untuk sebaris puisi

aku kumpulkan lagi

tulang-belulang sunyi.

 

kata yang mengandung nyeri

yang dapat menghantar perih

ke dalam diri.

 

tanpa segan

di tiap lariknya kini

kuremukkan bayanganku sendiri.

 

(2013)

 

 

 

Rajah Lutung Kasarung

 

inilah rajah pembuka,

rajah yang menyingkap kabut

jalan cerita.

pengantar yang terdengar samar

dari juru pantun

pengisahnya, yang gemar

memohon maaf

pada gusti yang sudah

menjagai.

 

membumbunglah dupa ke panggung,

ke panggung menjadi selubung pelindung.

pada raja-raja pintakan suka,

serta pada sri rohaci harapkan suci.

 

aku akan berkidung,

menembang cerita pantun,

mengguar cerita wayang,

menamsilkan lenggam laku dahulu,

merunut perangai lama.

 

tujuh lorong berjajar,

yang kedelapan inilah

sedang kutempuh.

 

alih-alih salah mengecap-ucapkan,

alih-alih keluar garis alur,

lantaran jelas menyusur galur,

tergelar jalan tutur.

 

dari mana asal perjanjian

dari mana bakal cerita

mulailah dari kahyangan.

ditadahi cupumanik,

Cupumanik astagina,

digenggam sepenuh tangan,

ditutupi dengan cadar,

disimpankan di jalan besar,

dibuka oleh orang lalu-lalang,

yang tahu raut mukanya,

yang tahu pertimbangannya,

yang mahir dalam memerankannya,

ketika digelar nyaringlah bernyanyi semua,

meminta dituturkan hikayatnya.

 

maka:

simpankanlah ke rimbun kelam-malam,

simpankanlah ke rindang siang,

tempat mengambil sekaligus meninggalkannya.

 

(2013)

 

 

 

Mugya Syahreza Santosa lahir 3 Mei 1987 di Warungkondang,

Cianjur, Jawa Barat. Buku puisinya berjudul

Hikayat Pemanen Kentang (2011). Kini tinggal dan

bekerja di Bandung.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 14 APRIL 2013

 

 

 

 

Written by Pilo Poly

April 15, 2013 at 3:24 pm

PUISI MARDI LUHUNG

with 2 comments

Bukit Gelap

 

Ada bukit gelap yang muncul di perumahan itu. Bukit gelap

yang tak bisa diam. Bukit gelap yang rasanya ingin berjalan.

bukit gelap yang gelisah.

 

Dan ada kaki yang ke luar di bawahnya. Kaki berjumlah tiga.

Kaki panjang yang lentur. Bergerak-gerak seperti gerakan

belalai gajah.

 

Dan ada sekian orang melihatnya. Salah satunya malah

berkata: “Apa ini yang disebut hari akhir. Ketika yang baik

akan diangkat. Yang buruk disisakan.”

 

Dan sekian orang itu mencari matahari. Menelisik dan

menduga: “Jangan-jangan matahari nanti akan selurup di

sebelah timur. Jangan-jangan.”

 

Ada perdebatan yang tiba-tiba menebah. Tapi bukit gelap

telah berjalan. Tiga kaki panjangnya bergeliyutan. Tapi tak

merusak.

 

Lalu ada sekian orang yang mengikutinya. Menyapa dan

melambai. Dan sesekali mengiba: “Pemilik hari akhir

selamatkan kami dengan sukacita!”

 

Bukit gelap tak menggubris. Tetap berjalan. Bentangan

angkasa pun ditutupinya. Burung-burung yang terbang

digusahnya.

 

Dan waktu itu, sekian orang yang mengikutinya makin

berhasrat. Malahan, ada yang berkotbah. Berkotbah tentang

keselamatan dan kesengsaraan.

 

Juga pahala dan dosa yang tak terduga. Serta sorga dan

neraka yang segera dijelang. Segera dibuka atau ditutup.

Dengan kunci yang mesti dicari.

 

Dan ketika sore tiba, ternyata matahari tetap saja selurup di

sebelah barat. Bukit pun tetap berjalan. Sekian orang

yang mengikutinya bertambah panjang.

 

Padahal, di perumahan yang ditinggal itu, kembali muncul

bukit gelap yang lain. Bukit gelap yang lebih mungil. Dan

berjumlah sebanyak yang kau ketahui.

 

(Gresik, 2013)

 

Maret

 

Pada batu yang bertulis satu nasibnya sendiri

Aku letakkan satu nasibku yang juga sendiri

 

Waktu adalah pipi lautanmu yang membentang

Yang menjadikan aku menyelam dan berenang

 

Dan pada batu itu aku kelupas sekujur kulitku

Juga daging, otot, lemak dan dua-puluh kukuku.

 

Kau: mengapa selalu menjadi jejak-yang-sia

Mengapa pula selalu nganga-lubang-perkasa?

 

Dan bintang-bintangmu yang terbaur di angkasa

Bintang-bintang tang tak mempan diubah paksa.

 

(Gresik, 2013)

 

 

 

Menyapa Mardi

Kembang ganjil yang berkelopak seperti pedang. Merah

merekah di tanah. Di sisinya rumput. Di sisinya lagi kembang

ungu agak wangi. Lalu di atasnya kembang berduri di dalam

pot. Digantung kawat. Dan di atas kawat, ram-raman besi

dirambati anggur.

 

Kembang ganjil menetap anggur. Segera saja menulis sajak

pengharapan. Lalu si peri mungil sekecil kumbang datang.

Sayapnya bening. Punggungnya menyala. Seperti mengusung

nyala lilin. Si peri mungil hinggap di kembang ungu.

 

Juga di kembang berduri. Tapi tak di kembang ganjil.

Waktu itu, angin bertiup agak kencang. Si peri mungil pergi.

Dan waktu itu juga, si empu anggur lewat. “Ahai, menggoda

benar.” Terus dipetiklah anggur. Dipetik sampai habis.

 

Sejurus kemudian, kembang ganjil (yang baru saja selesai

Menulis sajak pengharapan) melihat anggur sudah tak ada.

Terkesiap. Dan kelopaknya yang seperti pedang pun

Menusuk dirinya sendiri. Sekaligus sajak

pengharapan.

 

Dan sajak pengharapan yang tertusuk itu melesat ke angkasa.

Diurai oleh udara: “Hiruplah!”

 

(Gresik, 2013)

 

 

Nanti

 

Kau mendirikan rumah. Aku mendirikan rumah. Rumahmu

dan rumahku berhadapan. Seperti kekasih yang saling tatap.

Dan sesekali merajuk dan melengos. Lumrah.

 

Pintu dan jendela rumahmu terbuka. Begitu juga pintu dan

jendela rumahku. Dan dari sana aku mengintip dirimu. Apa

kau memasak, membaca atau memasang foto? Sayangnya tak

jelas.

 

Dan pernah di suatu pagi rumahmu terkunci. Lampunya mati

sejak malam. Guguran daun dan sampah bertebaran. Kenapa

tak kau sapu? Apa kau sakit atau berpergian? Rasa cemasku

menebal.

 

Ah aku, begitu liar menggambarkan setiap depa dirimu.

Dirimu yang diam-diam ingin aku masukkan ke kotak kaca.

Aku pajang di beranda rumahku. Lampunya aku biarkan

kedap-kedip.

 

Dan aku memutarinya sambil menebak. Tentang waktu

mendatang. Waktu aku sudah tua. Dan selalu gagal menulis

sajak kenangan. kenangan tentang kita. juga tentang

rumahmu dan rumahku.

 

Yang kerap membuat aku menceburkan kepala sendiri ke bak

mandi. Agar dapat melepaskan semua hal yang ada

tentangnya. Sebab nanti, pastilah, akan ada yang menjadi

perhitungan yang tak meleset.

 

(Gresik, 2013)

 

 

Sedap Malam

 

Semalam aku bermimpi memakan sekantung manisan.

Paginya aku benar-benar memakannya dengan lahap dan

hati-hati. Semalam yang lain aku bermimpi pergi ke pasar.

Paginya aku berdesakan di los kecambah dan bawang. Dan

semalam yang lain lagi aku bermimpi mendaki bukit. Paginya

aku melepas penat di antara cemara dan tanda untuk terus

mendaki. Dan semalam, semalam yang lain lagi aku

bermimpi yang lain dan lainnya. Dan paginya semua itu aku

alamai. Memang begitu banyak mimpiku. Begitu banyak yang

terjadi. Semuanya saling terbuka dan terbentang. Dan

semuanya seperti kawan sejalan. Ada yang setia. Ada yang

jauh. Dan ada yang diam-diam membuntut. Tapi seketika

segera menyerimpung ketika ada tempat. Seperti kisah si

pecinta yang menyerimpungi yang dicintai sampai tiga kali.

Padahal sebelumnya berkata: “Aku ingin bersamamu ke

mana saja. Seperti asap yang mengikuti api. Atau api yang

mengikuti minyak.” Semalam, ya semalam aku bermimpi

lagi. Dan kali ini, mimpiku itu juga bermimpi dan bermimpi.

Dan di dalam mimpi-mimpinya mimpiku itu, aku mendengar

sebaris bisik: “Izinkanlah kami terus bermimpi. Sebab di luar

semuanya, kami telah mencucuk kedua mata kami, agar tak

lagi terbangun.”

 

(Gresik, 2013)

 

 

Mardi Luhung tinggal di Gresik,

Jawa Timur. Buku puisinya,

Buwun (2010), mendapat

Khatulistiwa Literary Award 2010.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 7 April 2013

Written by Pilo Poly

April 8, 2013 at 4:35 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI AVIANTI ARMAND

with 4 comments

Buku Harian

 

Selalu ada langit tak berwarna

dan perempuan yang menulis di bawah langit seperti itu.

 

15 Desember

 

Lampu kristal itu menggantung tidak di tengah ruang.

Cahayanya ragu. Di seberang meja, tanganmu yang pucat

langsat memberi kode agar tirai-tirai dibuka. Aku beranjak,

tapi kamu berbisik, “Tidak sekarang.”

 

Di luar, jalan-jalan bercabang seperti argumen yang

membosankan. Sesekali derum mesin mobil menyela ruang.

Gelap menggosokkan tubuh ke jendela. Di sini, akar-

akar pohon menjalar seperti ular dan melilit kaki-kaki kursi

hingga tak bisa beringsut.

 

Makan malam – entah keberapa – dan aku, kamu, masih

Meninggalkan pertanyaan berdenting di atas piring.

 

“Beranikah kita?”

 

Akan tiba satu waktu di mana kita harus menjawab, akhirnya,

sebelum puding pencuci mulut. Sebelum dingin

menyamarkan keriput. Kita telah cukup mengukur hidup

dengan bercangkir-cangkir kopi dan bertumpuk-tumpuk

novel. Lihat, shawl yang melingkar di lehermu sudah

menumbuhkan jamur yang subur. Dan rambutku semakin

tipis.

 

“Bagaimana kita akan menyelesaikan ini?”

Dengan laku? Dengan dusta? Kita belum gila.

 

Kamu kembali menutup semua dengan memesan kopi dan

aku tahu tidak akan ada waktu yang baik.

 

Cahaya lampu menua. Aku masih bisa mendengar musik dari

ruang yang jauh – satu hari tempat kita mulai segalanya.

Bukan dengan firman, cuma kata-kata yang terjepit di antara

lidah dan langit yang tak berwarna.

 

20 Desember

 

Hari ini kita batal menonton film tentang kita. Tak seorang

pun pernah menemukan kita.

 

28 Oktober

 

Hujan mengubah jalanan musim kemarau semacam cermin

yang mengganti namaku jadi Biru.

 

kita adalah sepasang roh yang dikutuk gentayangan

selamanya. Dan hari ini, di tikungan itu, kita kembali

bertabrakan. Tak ada guruh, juga petir. Kita cuma saling

bercakap dengan datar. Dan menatap. Aku menawarkan

payung. Kamu mengangguk. Lalu kita pulang bersama

dengan teduh.

 

Jalan-jalan sempit. Tangga yang sambung-menyambung,

Dinding-dinding yang saling berdesak (tapi telah kebal

Pada klaustrofobia). Polisi yang basah kuyup. Kucing hitam

Yang menggigil di atas tembok. Pintu-pintu yang terkunci.

Apartemen-apartemen kosong. Jendela yang tak

memantulkan apa-apa selain gelap…

 

Tak ada yang lebih jauh dari bentang di balik tirai hujan di

tepi payung.

 

Ketika hujan berhenti, matahari telah pergi. Langit pekat, dan

kita tahu, tak akan ada pelangi.

Kata satu suara dari film lama:
Cinta adalah tentang waktu. Tak baik bertemu orang yang

tepat terlalu cepat atau terlambat.

 

Tapi hujan telah mengubah wajahmu semacam cermin yang

mengganti namaku jadi Biru.

 

7 November

 

Pohon-pohon di depan rumah tumbuh dengan rimbun.

Hari-hari ini, hujan mendesakkan hijau dan biru sekaligus.

 

14 Desember

 

Makan malam itu hanya akan mengoyak satu lembar lagi

dari buku harian kita. Sesudah itu kosong.

 

24 Desember

 

Di musim basah ini tak semuanya basah. Kita mengenal

tanda-tanda bersedia paham bahwa sebuah SMS

adalah jarak terdekat yang bisa kita tangkap.

 

“Mataku tetap kering.” Tulismu singkat.

 

25 Desember

 

Kali ini kamu mengeluhkan Santa Klaus yang tak datang

berkunjung.

“Mungkin kenapa kita terlalu tua untuk orang tua itu.” Aku

mencoba menghibur.

 

Kamu menggeleng. “Mungkin karena ‘kita’ adalah

‘salah’.”

 

31 Desember

 

Mimpi atau bukan, aku melihat bayanganku mengendap-

endap menuju pintu, menuju merkuri lampu jalan yang

menjadikannya. Ia tak berkata apa-apa. Tapi sebelum

mengungkit gerendel, bayanganku menoleh dan dalam

gelap aku melihat: seorang perempuan yang menulis.

Hurufnya luka.

 

Maret, 2013

 

 

Avianti Armand menulis karya sastra dan ulasan

Arsitektur. Buku puisinya, Perempuan yang Dihapus Na-

manya (2010), mendapat Khatulistiwa Literary Award

2011.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 31 Maret 2013

Written by Pilo Poly

April 2, 2013 at 2:28 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 6.423 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: