Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas

PUISI ISBEDY STIAWAN ZS

leave a comment »

Malam dan Hujan

 

1

malam berlabuh di dermaga, menumpahkan laut ke pantai

seperti nelayan memikul ikan ke pelelangan atau ijon

ketika dekat petang dan bulan rembang

 

sudah meliwati separuh usia dari kelahiran dan kematian

malam pun sudah kian beruban, di dekat matamu bulan jadi api

membakar halaman riang yang dulu dijaga sebagai taman

 

2

dan malam mengingsut sangat pelan

hujan menyianginya jadi lara

 

jangan kaulupa

pada peraduan yang selalu lara

 

3

di alis matamu, kekasih

sebaris hujan menulis malam

 

aku membacanya terbatabata

seperti anakanak mengeja kitab lama

 

dan sangat tua

 

4

malam dan hujan

hanya tempias

dari umurmu

 

semakin tipis

serupa kulit ariari

 

31 Desember 2013

 

 

Sebab Ajal Pun

 

malam juga yang berlabuh

saat gelombang laut

bangun tangga di dekat dermaga

seperti mengusir tiap kapal

 

hendak singgah, sesaat

melas sekarat, sekarat

di tubuh nahkoda

 

sebagai yatim

 

di dermaga ini,

tak lagi dibutuhkan

kawan berlayar, sebab ajal pun

 

sudah (pasti) sampai

membelaibelai…

 

09.01.1014

 

 

Isbedy Stiawan ZS lahir di Tanjungkarang, Lampung. Buku puisinya antara lain Anjing Dini Hari (2010) dan Dongeng Adelia (2012).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 13 APRIL 2014

Written by Pilo Poly

April 17, 2014 at 11:04 am

Ditulis dalam Puisi

Dikaitkatakan dengan

PUISI DAHTA GAUTAMA

leave a comment »

Kematian yang Buruk

 

Aku tak pernah benar-benar paham cara memegang belati

tentara. Tepinya rada gundul, untuk menyembelih lehermu

pasti tak langsung robek. Akan aku coba menggenggam

dengan mendekap pangkal pembatasnya, ketika belati itu

kuhujam ke dada sebelah kirimu, pasti jantungmu

tergolek dan kamu mati tanpa sempat menyebut nama

tuhan.

 

Tanjungkarang Barat, 21 September 2013

 

 

Cara Menyembelih Unggas

 

Begitulah. Yang aku paham cuma cara menyembelih yang

benar. Siapkan leher jenjang itu, letakkan di atas balik

kayu berdiameter lima puluh centimeter. Sebelumnya,

perhalus bibir pisaumu dengan batu lempeng. Sebut nama

tuhan tiga kali. Pegang ujung jakun itu, mulailah mengiris

uratnya. Setelah itu, tekan dengan gerakan memutar.

Sisakan kulitnya, agar kepalanya tetap menggantung.

Membunuhlah, ketika engkau masih mampu

 

Tanjungkarang Barat, 4 Agustus 2013

 

 

Jalan Menuju Wanasalam

 

Menuju rumahmu, menyebabkan aku menempuh angin.

Hujan dalam beberapa minggu ini, memengaruhi rasa di kepala

bagian belakang kita. Namun karena kita mesti tiba di Wanasalam

pada malam itu, maka semua hal yang menyebabkan demam,

kita kalahkan.

 

Mendung mengikuti kita dari belakang, ia seperti ingin menelan tubuh kita

dengan jahat. Angin sangat ribut, menghantam daun telinga.

Di jalan panimbang orang-orang menyeret bambu, menimbulkan bunyi

anjing yang lehernya terjepit. Orang-orang takut kepada hujan.

Sebab kejahatan lain membuat mereka kehilangan bahagia

ketika air berburu di kampung mereka.

 

Wanasalam, 16 Januari 2014

 

 

Laut

 

jika engkau tak pulang

kami akan menimbunmu dalam ingatan.

jika engkau tak kembali ke darat

kami tetap menguburmu di Wanasalam.

jasadmu terapung di luas

namun ruhmu, kami tanam di desa.

laut, pada hampar itu, hidup kami timbul tenggelam.

 

Wanasalam, 17 Januari 2014

 

 

Dahta Gautama lahir di Hajimena, Bandar Lampung, 24 Oktober 1974. Ular Kuning (2011) dan Manusia Lain (2013) adalah dua buku kumpulan puisinya.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 13 APRIL 2014

Written by Pilo Poly

April 17, 2014 at 10:49 am

Ditulis dalam Puisi

Dikaitkatakan dengan

PUISI IRMA AGRYANTI

leave a comment »

Pertunjukan Ini

 

siapa memendamkan

mata api sakti limandaru

 

pemain yang mengenakan topeng itu

mengisahkan padaku

 

raksasa tak berdaya

dilenyapkan

di setiap akhir cerita

 

maka cupak gurantang, kesatria-kesatria

yang dibutakan cinta, muslihat dan peragai

yang mengembarai gua-gua dan menandai tubuhku

dengan derita

 

sebentar, babak selanjutnya dimulai

gending ditabuh

panggung hening sesaat

 

seorang lalu berdiri di tepi jurang

dataran kering di bawah seolah-olah membisiknya

cupak yang culas dan busuk itu seperti berkata

 

mungkin pahlawan terakhir akan gugur

 

di pentas ini

gerantang hendak pula dilenyapkan

juga nasib juga penantian

tinggallah aku

 

maka namaku air mata

muncul dari mata paling jahat

mata para penonton yang awas

 

2014

 

 

Upacara Tahun Baru

 

di tempat terakhir berdiri

padam ingatan

separuh umurku memendamkan cinta

maut pertama dari derita

 

duka luka kali ini

meretakkan dirinya

malam begitu riuh

di jalan kota

 

sedang aku bersembunyi

dari angka di kelender, jarum waktu,

catatan-catatan tua

kenangan membuat segalanya abadi

menjelang tiada

 

mereka menyalakan kembang api

ke langit paling kelam

 

2014

 

 

Irma Argyanti lahir di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kumpulan puisinya berjudul Requiem Ingatan (2013).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 13 APRIL 2014

Written by Pilo Poly

April 17, 2014 at 10:27 am

Ditulis dalam Puisi

Dikaitkatakan dengan

PUISI FERDI AFRAR

leave a comment »

Luweng

 

berilah kami sepasang kaki, sergahmu

sebelum kau kian berkibar-kibar menjilat

pantat dandang dan asapmu meninggi

di bedeng utara.

 

menyalalah sebagai api pediangan,

saat remang perlahan langsir ke huma

dan berudul awan itu membuat

dahan dan pedukuhan tampak sekedar

bayang-banyang.

 

maka setiap muslihat hawa buruk

akan begitu mudah masuk dan menyamar

sebagai lelaki budiman dengan karung

dan gunting terkapit di pinggang.

 

bila sunyi kerlip lintang tersunggi di pelataran

dan rembulan seperti pijar kekunang,

tiba saatnya bocah-bocah mengitari pokok gayam

sebagai ular naga penunggu rumah.

 

sebelum para pengusung itu tiba

menuruni lembah sebelah barat dengan

sepasang kaki tunjang, melintasi rincik ngarai

dengan langkah goyah.

 

dua puluh tiga depa sebelum beranda

ketika sepandang pepohonan, reranting daun

tampak seperti kalibut, akar menjuntai

seperti pukat waktu. tanah merekah seperti

lindu. maka berkobarlah membakar setiap

sangsi di pelintasanku.

 

Resapombo, 2013

 

 

 

Sangkal Tulang

dari eyag wage

 

aku memasuki duhai pemilik lara, rebahlah

bayangkan dirimu seolah gombal terhampar

teguhkan badan senikmat kesiur daun pandan

 

ihklaskan sepenuhnya, kau dan aku tertangkup

berpilin ngilu dalam jerit tulang beradu

memiuh lebam, menyelaraskan yang sempal

 

mula urut ini berkisaran pada pangkal cedera,

pada segala yang memuntir dan patah. selingkaran

hitam-getar yang tak lagi berurat pada akar

 

pokok yang telah lama purna tunaikan kodratnya,

pun susunan yang telah remuk muasalnya

goyahlah! genjurlah!

 

suwuk ini tak sekedar berpantang gerak

dan kau seolah menerima sabda mustajab

dari arah kertap atap yang bergoyangan.

 

kau dan aku akan terus sabar terjaga,

menjaga damar yang kian bimbang

antara meredup atau cerlang perlahan

 

dan pekikmu makin aus tersedak

di kerongkongan. aku pun terus membalik

dan memutar menggenapi daya kekar kesembuhan.

 

Resapombo, 2013

 

 

Sambiloto

resep untuk meyda

 

peram tekam seluruhku, resap perih pahitku

hingga cerlang perlahan dalam wadahmu

rupa lumut hibuk terjerang ruap angus.

 

kucak peramuku, kucak segantang pesona

setugal kunyit dan menir moyang susup sudah,

sekuyu seduh sedesir bimbang di dadamu.

 

akan luruh, merupa dahi kuali tanah

dijenjang batu bata berpagut gelembung

membumbung ke udara.

 

lekas gayung siapa yang limbung,

sesap setakar tiga perempat cawan

setelah bersantap riang.

 

diamkan segala yang telah melumat

menyusup redup ke lambung.

susut jadi getah, menanjak jadi tulah.

 

dendang gending pelafal mantra

hadang yang hendak menugal tulang,

menghalau urat sempal.

 

Sumokali, 2013

 

 

Kobra

            Menonton film The Indian Tomb 1959

 

keluarlah dari buntelan gombal tuanmu, merayaplah

pun menyelinaplah ke amben pekebun itu

tunaikan kodratmu menggembur-hangatkan kedalamanku.

 

aku sarang peraduanmu, dengan lebar kepung sisik kerang

pun rerumbai cadar menyimpan rahasiaku terdalam

 

aku ada dua gundukan kembar dengan celah karang yang menghempas

tariklah, tariklah kekang kuda pacuanmu yang trengginas

 

jangkar kencang tampar, bukankah kau kerlap lantang

sesiku kursi temali kusir bendi pejantan pilihan

 

dedangkan bebunyian ritmis kendang dan seruling putih gading

itu membikin malam kian agung. aku pasrah menerima dua kuncup

cucupmu yang libas.

 

Sumokali, 2013

 

 

Tapak Liman

resep dari mbah gito

 

akulah gulma, karib liar tak menjalar

nektar yang mengudup rahasia.

 

batangku mendongak lantak

dendang lebah pantunkan hikayat.

 

pucukku mewiru ungu

si pelantun peruwat nafsu

 

tanganku helai terjerembab tanah

seperti pendoa yang merapal khasiat.

 

genggamlah aku, secupak daun secupak madu

perut aku bersama lesung alu,

 

pelan-pelan seliat sekebat adukan terjaga

bauran kuning telur, adas, dan gula merah.

 

ramu padu, lumat hasrat

dalam setiap ulekan peramunya.

 

peramut terwelu, peramut lembu

siapa merawat pegal di ladang dan bunga

 

cukupkan taguk aku, si pahit-sejuk ramuan lampau

yang akan membuatmu giras, tangkas, dan bergairah.

 

Sumokali, 2013

 

 

 

Nanas Kerang Ungu

setelah berkebun

 

seperti gerumbul penusuk bermata ungu

yang berjubah hijau di sekitar taman.

 

pembiak kuntum berparas kerang

berkulit putih melati semirip helai induk nenas,

 

petiklah bila kamu mengindap rasa panas

demam dengan goncangan di dada.

 

nyeri di hulu paru dan kerongkonganmu

yang membuatmu megap-mengkis,

 

mulut yang tak lagi merawi manis

mulut yang meliurkan aroma amis.

 

segeralah cukil daun dan bunga lantak buluhnya

segera potong-potong melintang,

 

kemudian cebur-kuyupkan di kuali tanah

dengan gelembung sedak air terjaga.

 

hingga matang pulen syaratnya

hingga khasiat tersadap sempurna.

 

sajikan selagi suam kuku,

kucurkan perlahan dengan bauran madu alam.

 

di atas ranjang, di atas talam

panjatkan bismillahisy syafi

 

sebelum kamu menyeruput perasannya

sebelum memamah daun,

yang mencairkan berudul dahaknya.

 

Sumokali, 2013

 

 

Ferdi Afrar lahir di Surabaya, 9 April 1983. Kini ia tinggal di Sumokali, Sidoarjo.

 

PUISI KOMPAS MINGGU, 6 APRIL 2014

Written by Pilo Poly

April 8, 2014 at 11:47 pm

Ditulis dalam Puisi

Dikaitkatakan dengan

PUISI NI MADE PURNAMA SARI

leave a comment »

Kasuari

 

Seekor kasuari mengembara

pada tahun yang belum selesai disusun

Ruhnya piatu, bagai menyusur rimba raya

mencari bulan yang dulu dikenang

ketika terlahir sendirian, dikepung gigil malam

dan ibu mati diburu

 

Bertemu ia dengan kuda-kuda

liar berpacu dari sabana Sumba

Derap derunya serupa pakik monyang kami

melawan laju waktu, terasing dari masa lalu

Tak tercatat pada buku-buku sejarah ini

 

Kasuari merah pualam

pergi ke sungai tanpa muara

Seorang bocah mengurung arus

tawanya nyaring, mengandaikan diri bajak laut

Menyamar ikan-ikan bebatuan

Merompak mimpi segala perahu

yang karam sebelum sampai di Melayu,

Pesisir Madagaskar ataupun tanah janjian nun di mana

 

Pandang kasuari membayang

betapa ingin mengelana jauh

melampaui lembaran kain tenun

menuju hutan seberang pulau

bersarang di tengah kabut danau

memanggil kerdip bintang dan ruh para monyang

yang tak pernah menjenguknya barang sekali

 

Demikianlah saban malam

menyusur tenun yang belum usai itu

ia mencari rumah muasal yang dulu

entah di lembah mana, ngarai gunung yang mana

 

Sementara embun membasuhnya pelan-pelan

serupa air mata para dewata

 

2014

 

Aku dan Jiwaku

 

Aku dan jiwaku

berbaring berdampingan

kami telanjang

Bagai dua kanak remaja

Kami saling tatap

seolah lama tak perjumpa

 

Ia tampak lebih tua

waktu terlalu lekas baginya

Sedangkan aku serupa dulu

waktu telah lama berhenti

sebab ia bukanlah milikku lagi

 

Ke mana kau akan pergi

bila akhirnya kita mati?

 

Jiwaku tersenyum diam-diam

Balik tanya hal sama padaku

 

Aku mau pergi ke bulan

dipuja penyair dan kekasih malam kasmaran

Atau datang ke lain dunia

jadi tukang pos kesepian

tak jemu mengirim surat untukmu

 

Aku dan jiwaku

berbaringan berdampingan

menanti pagi datang

 

Di luar maut menunggu

menyamar hujan semalaman

menyemai mawar-mawar duri

di taman-taman

 

Di taman-taman

 

2014

 

 

Ni Made Purnama Sari lahir dk Klungkung, Bali, 22 Maret 1989. Ia lulusan Jurusan Antropologi Universitas Udayana dan kini melanjutkan studi di Universitas Indonesia. Puisinya antara lain termuat dalam antologi dwibahasa Couleur Femme (2010).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 30 MARET 2014

 

Written by Pilo Poly

April 8, 2014 at 11:36 pm

Ditulis dalam Puisi

Dikaitkatakan dengan

PUISI KIKI SULISTYO

leave a comment »

Melihat Komet

 

kukira ia teluh yang menempuh separuh jalan

dari tempat keramat ke pusat keramaian

yang kalau siang banyak orang bersaing saling serang

dan malamnya cuma udara bau cuka

 

saat itu dianjurkan pada siapa saja untuk meminta

agar ekornya yang cemerlang tak tersesat sembarangan tempat

sebab bisa jadi besok pagi ada yang ditemukan mati

tanpa musabab, jadi pengganggu waktu istirahat

 

kukira ia seperti orang alim, yang lintas sebentar lantas hilang

lalu setiap kami akan bercerita dan merasa paling dekat dengannya

meski di belakang, kami paham setiap bibir punya tabir

selubung rahasia yang terbentang bagai ruang tempatnya sirna

 

aku melihatnya kini, lagi atau untuk pertama kali

tak ada bedanya, ia sepenuhnya dekat dengan detak nyawa

meluncur di ketenangan yang dalam, masuk ke ceruk rusuk

melingkar di sana bagai ular yang ingkar dari kitab ajar

 

(Bakarti, 2014)

 

Ajimat Kuku Mayat

 

mata batu, lenyapkan semua penjuru

burung malam, kurung tiap pejam

ini setapak, buat jadi lunak

ringanlah langkah, pecahlah tulah

penjaga makam, makan malam datang

bunyi kalajengking, denging pucuk duri

sampai, telah sampai

tanah lapis bawah, decis cacing merah

kuku-kuku hitam, ibu kunang-kunang

keruk kian dalam, galian dingin nian

jari pencuri, tergenggam jari penggali

dapat, telah dapat

kentungan sayup, pucuk api meletup

lalu anjing, hijau mata anjing

memanggil, orang-orang memanggil

 

(Bakarti, 2014)

 

Kudabatu, Kudawaktu

 

mereka menemukannya, di kedalaman antara pasir dan tekanan air

seekor kuda beku dengan rongga mata menyala biru

berapa abad ia berkubur di situ, cuma waktu, makhluk bisu itu yang tahu

tapi waktu tak membuat tanda di tubuhnya, seakan ia tak tersentuh

seakan ada perjanjian telah dituliskan dengan cara paling diam

 

mereka membuat peta untuk mengangkatnya, menduga berapa tenaga

bakal terkuras agar impas pencarian ditebus harga dan harum-nama

kuda itu berasal dari kurun waktu tak terhitung, tak dicatat kitab

riwayat mana saja yang pernah mereka baca; kudabatu, kuda tanpa waktu

 

maka sebuah sebutan selalu diperlukan bagi tiap penemuan

sebutan yang bila orang menyebutnya akan bisu seketika

lidah jadi batu dan rahang kaku: rahang fosil yang mati menggigil

di gurun salju, di bukit berhantu tempat sering terdengar angin memanggil

 

mereka mengangkatnya, begitu ringan ternyata bagai boneka mainan

di permukaan, cahaya perak pagi hari menyiramnya, lantas menghisapnya perlahan

kuda itu kudabatu, batu yang menguap apabila ada yang melihat

mereka melihatnya habis di udara, tak menyisakan apa-apa

 

betapa sia-sia semuanya, saat mereka teringat hari itu akhir tahun

tahun yang baru datang mengendara kuda; kudawaktu, kuda yang bisu

 

(Bakarti, 2014)

 

 

Kiki Sulistyo lahir di Ampena, Lombok, 15 Januari 1978. Ia bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 30 MARET 2014

Written by Pilo Poly

April 8, 2014 at 11:30 pm

Ditulis dalam Puisi

Dikaitkatakan dengan

PUISI MARDI LUHUNG

leave a comment »

Telur Asin

Aku memakan telur asin. Dengan kuning yang berminyak.
Dan aku teringat padamu. Yang pernah berseloroh: “Kau
tahu, waktu lahir, aku menetas dari telur asin. Telur asin
yang kebiru-biruan. Agak lonjong. Dan bercangkang kuat.”
Dan ketika telur asin telah habis, aku juga teringat, kau
memang lentur. Dan bagi yang ingin menelisiknya, mesti
diterawangkan ke sinar lampu. Agar terlihat gurat tipis atau
tebalnya urat. Lain itu, pada setiap desirmu, aku mendengar debur
lautan yang riang. Debur lautan yang tak pernah lelah
mengusung bakal garam. Sambil merentangkan apa saja
yang ada. Lalu berkebatan di ujung-ujung ombak:
“Tangkaplah aku, tangkaplah juga asin yang abadi yang melekat
di langit-langit mulutku!” Dan waktu itu, betapa aku (juga
mereka yang sempat melihatmu) menduga, jika kami berani
memasuki mulutmu, pasti keluarnya akan terurai dalam
butiran garam yang mutih. Butiran garam yang kelak
tersaput di setiap kerahasiaan rasa telur asin yang
terhidang. Seperti tersaputnya kabut dalam asap.

(Gresik, 2014)

 

 

Nyala

Di laptop ada yang selalu memanggil nama kita. Dan suara
panggilannya seperti denah rabun. Kadang lurus. Kadang
tebal. Dan kadang tak jelas. Apakah itu garis untuk rel
kereta, arah sungai atau halte bis. Dan di laptop,
sepertinya ada wajah yang nongol. Wajah yang penuh
warna. Dengan rambut kelimis tipis. Terus menyela: Apa
kalian mau menjawab balik atau tidak. Dan menambah:
Sehat juga kan? Memang, ada sebatang lorong. Dan
Wajah yang penuh warna itu berlagak di tengahnya.
Sesekali kukuh berkacak pinggang. Dan sesekali yang lain
pun berlarian ke sana ke mari. Tak lelah menaburkan
noktah pelangi di layar monitor. Agar yang pintar menata
pun dapat menatanya untuk jadi siapa saja. Juga apa saja
yang senantiasa mengawasi tanpa henti. Tanpa kedip. Dan
di laptop, memang ada yang selalu memanggil nama kita.
Dan kita pun jadi terpana, ketika pusat listrik dimatikan.
Tapi layar monitor tetap saja menyala. Dan sebentang
lorong yang ada tadi pun tiba-tiba menyeruak. Gesit, lincah
dan tangkas. Seperti ketangkasan sang tafsir atas
bergulirnya telur-telur unduh yang tak pernah terduga
begitu adanya. Bagaimana ini semua nanti direhatkan?

(Gresik, 2014)

 
Sedak

Penonton gelap. Latar gelap. Lantai panggung mengkilat.
Dan si penari berbaju tipis tersenyum. Mengibaskan
selendangnya yang juga tipis. Dan bibirnya? Bibirnya yang
menyala itu menembangkan sesuatu. Sesuatu bagi si
pengembara. Si pengembara yang baru saja pulang.

Si pengembara yang mengusung karung yang penuh
dengan buah tangan. Bagi siapa saja yang dulu ditinggal di
lubang sumur. “Tapi. Ibu.” kata si pengembara, “mengapa
semua yang ada kini tinggal bekas?” Dan si ibu (yang tak
lepas dari geser sandal itu) cuma terdiam.

Tapi terus mengelus kening si pengembara. Elusan yang
entah kenapa dan untuk apa. Lalu sepasang laron dan tiga
codot terbang. Sedang, lima kambing di kandang seperti
bantal keriting yang bergerak. Tak ditengok. Hanya bibir
si penari menembangkan sesuatu yang kembali terdengar.

Dan kembali pula penonton gelap. Latar gelap. Dan si
waktu, ya, si waktu, tiba-tiba mengurai wujudnya sendiri.
Untuk kemudian menyusunnya balik. Dalam bentuk ember
yang penuh kelenjar ungu. Yang sebelum panggung ditutup,
setiap penonton mencelupkan kakinya ke ember itu.

“Ibu, Ibu, aku melihat, ada jejak-jejak ungu yang tiba-tiba
bertebaran,” potong si pengembara dengan sedikit tersedak.

(Gresik, 2014)

 
Tutul

Dulu, setelah dibersihkan, bumi tampak elok. Air pun
mengalir. Gunung berjejak. Angin bertiup pelan. Dan
yang jalan, terbang dan berenang dibiarkan bertempat.

Dulu, setelah hari berganti, ada juga yang membuang
warna. Semula cuma tutul kecil. Lalu membesar. Dan
berpusaran. Mengingatkan pusaran kaki badai dan topan.

Dulu, setelah pusaran kaki badai dan topan reda, bumi
elok jadi kelabu. Malam jadi agak berat. Relung terbuka.
Dan gua dan terowongan jadi memanjang dan telanjang.

Dulu, yang berdiri tegak, pun segera belajar menunjuk.
Menggaris. Memetak. Lalu menjinakkan si mamalia
untuk dihela dan ditunggangi. Juga dinikmati susunya.

Dulu, dan dulu, dan dulu, mulailah perembutan itu. Dan
bumi elok pun disergap gerhana, gempa, bandang. Juga
bergantinya yang awal menitah dan yang dititahkan.

Atau yang mesti terusir dan mengusir. Atau yang tidak lalai
mengetuki pintu-rumah-depan sebagai pengingat. Tapi,
sayangnya, kami selalu acuh tak acuh, seperti hasrat kisut.

Yang pelan-pelan mengerut. Dan perputaran di punggung
kura-kura tua yang oleng.

(Gresik, 2014)

 
Weton
: cerita mirammastra

Jika esok malam laut pasang datang, tolong pandanglah
dengan jelas. Sebab, pada laut pasang, aku akan
menyerahkan umurku. Umur yang telah terpakai. Umur
yang berkibar. Seperti kibaran bendera yang tertancap di
karang. Karang keling yang disorot cahaya. Cahaya kuning
keemasan.

Dan jangan terkejut, jika di saat yang tak terduga, akan ada
si buaya putih yang menyembul dari laut pasang. Si buaya
putih yang punya kelebat aneka warna. Si buaya putih yang
bahagia ketika memasuki meja pengorbanan. Meja sesaji.
Meja yang penuh dengan bunga, beras, buah dan bumbu.

Seperti kebahagiaan si wanita ketika menyerahkan
miliknya pada si lelaki impian. Meski (setelah itu), arah-
arah ombak tetap saja terambing dan terguncang. Dan para
pelayar, para pelayar yang hebat sekali pun, hanya bisa
melayari sambil menjambaki rambut sendiri.

Padahal, si empu batas-muasal-lautan selalu demikian
dekat. Seperti dekatnya urat pada leher. Urat yang selama
isi perairan dan perabotannya dijaga, tak lelah meniupkan
denyut. Lalu, seperti penanti yang melabaikan sapu
tangannya di pantai, tolong lambaikan juga sapu tanganmu.

Biar nanti setelah aku serahkan umurku pada laut pasang,
selalu ada ingatan: “Jika apa yang ada, tidaklah pernah
cuma-cuma. Meski itu, untuk sebuah penyerahan.”

(Gresik, 2014)

 
Gandum

Dia adalah keturunan kedua-belas dari si penjaga kitab.
Kitab yang mengajari siapa saja agar mempercayai yang
gaib. Juga meluruskan arah kiblat agar sampai pada hasrat.
Dan dia juga yang menyambung bisik. Tentang sepiring
gandum bagi si buta yang galak. Yang tak bosan mencaci
maki si hati dunia. (Padahal, si hati dunia telah menyamar
jadi si lain. dan menyuapinya setiap pagi dengan penuh
adab). Sepiring gandung yang akan ditukar air mata. Ketika
si hati dunia wafat. Dan ketika si buta galak tahu, jika si
lain, yang telah menyuapinya setiap pagi itu, tak lain adalah
si hati dunia sendiri.

Dan aku bertemu dia pada sebuah siang. Di sebuah pantai
tradisional. Dan dari jenggotnya yang lembut, aku merasa,
dia juga yang dulu membuat perahu yang teberkahi. Lalu
mewarnainya dengan hijau, biru dan kuning. Dan
membiarkan buritan agak lapang. Tempat sujud bagi kening
setelah dihantam ombak. Akh, betapa rahasianya jika
sudah di tengah keluasan? “Apakah kau juga suka berburu
ikan?” itu tanyanya padaku. Dan aku mengernyit. Mengapa
kok berburu? Mengapa tidak menjaring atau memancing?
Entahlah. Tapi, aku tetap mengangguk.

Lalu, dia tersenyum. Dari senyumnya, aku melihat seekor
ikan raksasa melompat. Perutnya yang lebar terlihat
tembus-pandang. Dan terlihat apa-apa yang ada di
dalamnya. “Berburulah. Dan cari tahu apa yang ada di
dalam perut ikan itu,” tambahnya. Terus lenyap.
Meninggalkan aku yang sendiri. Aku yang tercekat. Dan
aku yang langsung menebak: Apa sebenarnya yang ada di
dalam perut ikan itu? Makhluk hidup ataukan sekerumunan
renik? Atau cuma semacam sisa makanan yang tak terurai?
Atau malah sebaris doa ampuh, yang dulu pernah
Dilantunkan oleh pelari?

Hmm, ini tentunya tebakan yang tak biasa. Dan barangkali,
si buta yang galak yang dapat menjawabnya. Si buta yang
kini kerap aku temui di sudut kampung. Dengan air mata
terurai. Dan dengan kepiluan seperti ini:

“Wahai, si hati dunia, kapan lagi kau datang padaku dengan
sepiring gandum?”

(Gresik, 2014)

 
Mardi Luhung tinggal diGresik, Jawa Timur. Buku Puisinya, Buwun (2010). Mendapat Khatulistiawa Literaty Award 2010.

PUISI KOMPAS, MINGGU, 23 Maret, 2014

 

Written by Pilo Poly

Maret 29, 2014 at 1:45 am

Ditulis dalam Puisi

Dikaitkatakan dengan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.571 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: