Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas

PUISI INGGIT PUTRIA MARGA

leave a comment »

Sesaat Sebelum Pergi

 

usai mengucapkan beberapa kalimat padaku

ia ajak aku ke batang jati yang tepekur tak jauh dari tempat kami berdiri

di dahan terendah dan terkokoh ia ikatkan tali, melingkarkan ke leher

seperti memakai sehelai kalung emas yang tak pernah mampu ia beli

 

aku tak mengerti apa yang terjadi, yang kutahu saat itu

merah fajar yang mengenang di langit telah abu-abu

merah fajar yang kerap menitik di sudut bibir ibuku yang batu

merah fajar yang mengalir di tubuhku seketika mendebu

 

anak, tubuh fajar yang terbelit tali malam telah terlepas

di depan rumah yang bukan rumah kita, tubuh merah itu tergelepar; membesar

lalu bangkit. ada seperti sepasang sayap menyeruak dari bagian tubuhnya

yang entah apa namanya. ia pun terbang, begitu tinggi, seperti harapanku

pada kehidupan saat tangis pertamamu kudengar di suatu pagi

 

di gerbang cakrawala ia berhenti, semacam berharap aku tau kamu

menyusulnya ke kerajaan tuhan, yang mungkin tak sesempurna dalam mimpi

lama ia mengambang di sana, tubuh merahnya makin nyala

bagai warna darah pertama yang keluar dari kakimu, saat tajam batu-batu

adalah kenyataan pertama yang mesti kau temui, di langkah pertamamu

di atas bumi

 

bias merah tubuh sang fajar membuat laut awan cemar, bintang pudar

bulan sabit samar. seluruh tali malam terbakar, tapi ruang pagi

rapat tertutup layar. di atas ubun-ubun kita segalanya merah, segala darah

mengapa kau memelukku? jangan takut pada darah, jangan pernah takut

sebab bila aku hilang, kau masih dapat terus hidup dan memiliki darah di tubuhmu.

tapi jangan darahmu hilang, tak ada hidup dan tak ada aku untukmu

 

berdirilah di sampingku, namun jangan genggam tangaku

 

lihat tubuh fajar yang perlahan lumer dan menggenang di langit, darah hari

yang sesaat lagi kering oleh satu makhluk yang disebut matahari

bila fajar yang menggenangi langit itu telah pergi, lihat fajar yang lain

yang kerap menitik di sudut bibirku, darah dari mulut istri yang setiap malam

terhantam tangan satu makhluk yang disebut suami

lalu andai fajar yang menitik di sudut bibirku pun pergi

ingat fajar lain pula dalam tubuhmu

 

miliaran keping darah yang tak henti mengalir

tempat cintaku padamu tiap hari terlahir

 

jauh di atas kepalaku, bagai kelopak teratai hampir mekar

matahari sedikit berpijar. di sekeliling kakiku, embun di rumput-rumput teki

bersinar.

 

2014

 

 

 

Selain Empat Burung Gereja

 

persetubuhan rel dan roda kereta melahirkan sekaligus mengusir debu-debu

angin sore pertengahan tahun mencampur mereka dengan udara

menyesakkan paru-paru siapa saja, namun gagal mengusik

ia yang duduk di beranda, melihat empat burung gereja hinggap

di setumpuk pecahan bata. seperti tata kota di tanjungkarang

begitulah bata-bata itu tersusun

tumpang tindih: satu menumpang, yang lain menindih

 

empat burung gereja hingga di posisi berbeda

 

yang pertama di tumpukan tertinggi, kepala menoleh ke sana ke mari

kaki sesekali bergerak ke kanan ke kiri. sepertinya, ia jenis burung gereja

yang kurang punya ketetapan hati. agak jauh, di sebelah kanan burung yang

labil ini, burung kedua mengambil posisi, kepala lebih sering menunduk,

kepada kaki, paruh kadang mematuk. tampaknya, ada sejumlah perjalanan

yang sungguh terkutuk

 

yang ketiga dan keempat, hingga di pecahan bata yang paling dekat

dengan bentala. mereka berhadapan, mengangguk-anggukkan kepala

beradu ricau tanpa jeda. entah bertengkar entah bertukar cerita, keduanya

mengingatkanku pada aku dan anakku. sengit pertengkaran atau

riuh percakapan: tanda kami sedang jumpa: jiwa raga

 

hari kini warna kopi. empat burung gereja pergi meninggalkan tahi

di setumpuk rekahan bata. bagai rel yang diam menunggu cumbu roda kereta

lelaki itu tetap duduk di beranda. ia lihat dua lelaki berseragam dan berpentungan

melintas, menoleh sejenak padanya sambil tetap berjalan entah kemana.

sepasang suami istri menggotong kasur, malam ini entah di mana mereka tidur

satu per satu rumah di tepi rel jadi puing. tempat tinggal bagi kenangan, kini

barangkali hanya di darah, cuma di daging

 

di sela tidur panjangku

di bawah rengkahan bata yang tertumpuk

di depan rumah tua itu

selalu kusempatkan waktu untuk melihatnya, sekadar memastikan bahwa anakku

(setidaknya sebelum rumah kami pun berlalu) baik-baik saja

 

2014

 

 

Inggit Putria Marga lahir dan menetap di Bandar Lampung. Buku puisinya bertajuk Penyeret Babi (2010).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 12 OKTOBER 2014

Written by puisi kompas

Oktober 14, 2014 at 10:25 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI HASAN ASPAHANI

with 3 comments

Aku Si Dungu

SIAPA sembunyi pada jejak sendiri

Siapa lari dari kejaran kehendakan

Akulah ini si dungu tak berjawaban

Penunggu yang Baik

TUBUHKU peti mati bagi jiwa hidupku

Aku hanya menunggu mautku sendiri.

Aku penunggu yang baik. Dan amat sabar.

Dari Mana Aku Menyapa

AKU mencintai peti matiku: ini tubuhku sendiri

Halo, aku menyapa semua kalian, dari peti matiku

Sekilas tentang Nasib

NASIB kita lembar tak berhalaman, Kawan!

Lepas dari eksemplar liar, kitab orang lapar.

Bait Suara Muara

JIWA singaiku surut pasang

Kuala keruh hidup

Dendam keombakan

Mau mempertemukan:

hujan rampaian

dan lumpur endapan

 

Di Kaki Gunung Lakon

: dahlan

TINGGAL sebentar waktu

menunjuk pucuk gerbang

pura cemara sepasang

Awan seakan-akan masih enggan

jauh menjauh dari lingkar puncakan

 

Hasan Aspahani lahir di Sei Raden, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, 9 Maret 1971. Buku kumpulan puisinya antara lain Mahna Hauri (2012).

PUISI KOMPAS, MINGGU, 12 OKTOBER 2014

Written by puisi kompas

Oktober 14, 2014 at 10:06 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DEDY TRI RIYADI

leave a comment »

Ninabobo

 

1/

Tidurlah, Lautku,

jenak ombak teduh badai

dengung angin setelah rinai.

 

Aku camar pencari ketam,

ingin terbang dari sarang ke lautan,

menyuruk ke tubuh gelombang.

 

2/

Tidurlah, Lautku,

jadi latu hilang bara

hitam arang tanpa nyala.

 

Aku jejak terik di pucuk waru

ingin berteduh pada bayangan,

O, betapa memabukkan cahaya!

 

3/

Jika kau tertidur, Lautku

mimpimu hanyut perahu

jala yang dibiarkan mengembang

dan menjaring ikan-ikan.

 

Jika kau tertidur, Lautku

malamku kalut kulit gaharu

dahan yang menguar heharuman

dan menahan sarang balam.

 

Kita tak saling mengenal,

bahkan tak akan mengekalkan.

 

4/

Pada suatu masa,

kau dan aku sama merasa

: bagian dari semesta.

 

Maka, malam ini,

kita mencari makna jauh

ke dalam diri.

 

Mengasingkan yang akan kita cari,

dan yang telah kita sangka

sebagai lagu menjelang bermimpi.

 

2014

 

 

 

Lagu Pantai

 

Irikah lidah ombak

pada lentik embun

di daun waru?

 

Bahagiakah

ketam yang basah

di ceruk karang?

 

Di pantai ini, kerinduan harum pasir.

Di pantai ini, kebekuan gagal berdesir.

 

Sebuah pulau terpencil memanggil.

Elang laut mengepak hal-hal yang mustahil

dimengerti awan jauh.

 

Di cakrawala, cinta seperti rona senja

yang mampir. Sebentar lagi gelap, katamu.

Dan aku menurut pada rentang dekap dermaga.

 

Di mana perahu dan jukung seolah kanak yang manja.

 

2014

 

 

 

Embun

 

Akulah embun, jeritnya

memekik di atas daun.

 

Pada pagi buta, dia menuntun

ke ujung lamun.

 

Bukankah, kau, cahaya?

Yang disembunyikan mata

 

dan disentuhkan ke telapak ini.

Sejak pagi menjadi dalam diri.

 

Akulah embun, jeritnya

seperti menolak ditenun

 

waktu. Aku setuju.

Sebab nanti, di siang hari,

ada yang mesti pergi.

Atau kembali?

 

2014

 

 

 

Falseto

 

Pergilah, Tuan, karena pergi

adalah cara terbaik untuk kembali.

 

Jangan dengarkan kata-kata dan

bahasa cinta yang berguguran.

 

Tapi lihatlah dataran yang murung

dan langit yang selalu mendung.

 

Perhatikan juga tunas-tunas hitam

dari pengharapan yang tak lekang.

 

Mereka yang tumbuh seolah tak

ingin lurus, tak ingin berjarak.

 

Merapatkan diri seperti makna

yang menjaga kata-kata kita.

 

Meratapkan mimpi-mimpi sepanjang

lagu dari pikiran kita tentang

 

bagaimana seharusnya cinta diungkapkan

dan ditangkupkan dalam suara yang sopan.

 

Dan kerinduan adalah cara paling halus

untuk membentang jarak dengan tulus.

 

Karena itu, pergilah Tuan, pergilah!

Jangan lagi dengarkan aku yang resah

 

dan membuncahkan kata-kata seperti

bunyi yang keluar dari gramafon tua ini.

 

2014

 

 

 

Membaca Buku di Perpustakaan

 

Seperti menguliti apel dengan pisau,

sebuah buku kau buka dengan risau

 

“Bukan makan malam mewah, jika kau tak

sediakan pisau, garpu, dan sendok perak,”

gerutumu pada sebuah halaman persembahan.

 

Barangkali, aku harus angkat topi,

pada semua tindakmu yang begitu hati-hati.

 

“Ah, ini sekedar perayaan sebelum pergi.

Jubah panjang musim dingin tak lagi

pantas kukenakan saat tidur,” celotehmu.

 

Seperti mereka musim di mana apel itu jatuh,

pada halaman berikutnya, jemarimu terasa rapuh.

 

Saat itu aku mengira: perpustakaan adalah

sebuah kafe mewah untuk lapar yang begitu sederhana.

 

2014

 

 

 

Mencintaimu

 

Mencintaimu adalah berpikir bagaimana mendirikan

sebuah tongkat kayu yang berat. Dan bila aku memandang

persis di tengahnya, dunia seolah terbelah dua. Kiri dan

kanan. Baik dan buruk. Masa lalu dan masa depan.

 

Mencintaimu adalah memandang ke depan. Melihat langit

dengan awan menyisih, di bagian atas, dan juga melihat

jalan berbatu, di bagian bawah. Memandang apa yang

sebenarnya hanya dugaan dan perkiraan. Meskipun

tongkat kayu itu seolah telunjuk yang mantap menuju engkau.

 

Mencintaimu juga berarti membicarakan bunga dan tunas.

Sekaligus. Bunga, betapa merah dan berduri, kadang

tampak pongah dengan selubung yang hijau. Sedangkan

Tunas, pucat dan ingin segera masuk dalam ruang berwarna

seperti otak. Dua gambaran yang begitu abstrak namun semarak.

 

Mencintaimu, sebenarnya lebih menyoal aku. Menyoal cara

berdiriku yang agak miring, menyoal warna kulitku,

menyoal di sisi mana aku berdiri di depan tongkat kayu

yang berat itu. Tongkat yang serat kayunya seolah tengah

dipelintir waktu.

 

2014

 

 

DEDY TRI RIYADI adalah seorang pekerja iklan. Ia tinggal di Jakarta dan bergiat di Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSaR Malam).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 10 AGUSTUS 2014

Written by puisi kompas

Agustus 12, 2014 at 1:56 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI M AAN MANSYUR

leave a comment »

Mengunjungi Museum

 

1.

Ada remaja abadi yang tidak kaukenal dalam diriku.

Selalu, di museum yang sama, ia seperti patung

belum dirampungkan pahat. Ia tak mampu

membedakan antara menghadapi lukisan dan berdiri

di puncak tebing. Ia menjatahkan diri ke semesta

benda-benda di bingkai ketika belum jadi bangkai

atau hantu.

 

Tempat tidur dan segala yang tertanggal di atasnya

masih pepohonan. Bekas luka dan kesendirian

perempuan itu masih kuda muda liar dan

senyuman. Dan lain-lain yang hanya terlihat jika

kausentuh. Waktu, umpama, sebelum terkutuk jadi

kalender atau jam dinding yang ketagihan

mengulang hidup dan tidak menyelesaikannya.

 

Dunia lama selalu baru terjadi di hadapannya. Ia

menjauhkan diri dari segala yang ada di luar pintu

museum. Ia merasa terjebak di antara doa dan

ciuman pertama. Jika ia menganggap lukisan

sebagai keindahan, semesta itu memudar. Ia tidak

ingin aman dan tercatat sebagai penghuni masa

lampau terlalu cepat.

 

Ia dan seorang gadis di sekolahnya pernah saling

jatuh mencintai. Semua pria dewasa, termasuk guru,

hanya orang bodoh di depan gadis itu. Ia ingin gadis

itu tumbuh lebih nyata dari kecantikannya. Ia ingin

menjadi sihir dan gadis itu percaya pada keajaiban.

 

2.

Ia ingin sihir tampak nyata dari lukisan atau

lebih hidup dari seluruh yang sibuk di luar museum.

Tapi ia tak ingin cinta jadi tangga yang mengangkat

merendahkan diri sendiri.

 

3.

Ia setuju, dan ia tak setuju. Ia melihat gadis itu tak

mampu menerima hidupnya sendiri sebagai

kesibukan yang lumrah dan boleh ditunda. Ia

mengejar dirinya sebagai karir, mengubah

kecantikannya jadi jam kerja.

 

Di museum, ia ingin mengembalikan bekas luka di

punggung perempuan itu jadi senyuman. Ia ingin

meniupkan apapun yang mampu mengubah ranjang,

selimut, dan pakaian perempuan itu jadi serat-serat

pohon. Ia ingin menjadi penyair atau, setidaknya,

kembali jadi seorang yang belum pernah bercita-cita

mengenal kuas dan warna. Ia ingin jadi pencuri

takdir sendiri, pulang ke sekolah yang tidak kenal

ujian dan acara penamatan.

 

4.

“Setiap orang adalah lukisan, jika tak membiarkan

diri terperangkap bingkai,” kata pelayan toko buku

itu pada hari terakhir bekerja, hari terakhir sebelum

jadi hantu lain di pikiran remaja abadi dalam diriku.

 

 

 

Menyaksikan Pagi dari Beranda

 

Langit menjatuhkan banyak kata sifat. Tidak satu pun

ingin kutangkap dan kuingat. Kubiarkan

mereka bermain seperti anak-anak kecil sebelum

mengenal sekolah. Mereka menyentuh pepohonan

dan membuatnya berwarna-warni. Mereka

memanjat dinding dan jendela bercahaya. Mereka

mencelupkan jemari di kopi dan mimpiku meluap

jadi mata air di halaman.

 

Orang-orang melintas membawa kendaraan.

Mereka menyalakan radio dan tidak mendengarkan

apa-apa. Mereka pergi ke kantor tanpa membawa

kata kerja. Mereka tergesa, tapi berharap tidak tiba

tepat waktu.

 

Jalanan keruh sekali setelah pukul tujuh pagi. Satu-

satunya jalan keluar adalah masuk. Tutup pintu.

Biarkan jalanan tumbuh dengan hal-hal palsu.

 

Aku ingin mandi dan tidur siang berlama-lama. Aku

mencintai kemalasanku dan ingin melakukannya

selalu. Pada malam hari, aku ingin bangun dan

mengenang orang-orang yang hilang.

 

Sudah tanggal berapa sekarang?

 

 

 

Mengamati Lampu Jalan

-Kepada Eka Wulandari

 

Mereka lebih teratur daripada hukum. Mereka lebih

kuat daripada perasaan orang-orang kota. Mereka

setia dan tidak pernah memilih kepada siapa mereka

ingin tersenyum. Mereka tidak ingin terlalu terang

agar kau tidak malu pada kelelahanmu pulang kerja

– atau demi menyembunyikan ciuman entah siapa.

 

Lampu jalan di dekat pohon yang baru ditebang itu

mencintai lampu jalan di depan rumahmu. Lampu

jalan memiliki kekasihnya masing-masing –

sebagaimana hati manusia.

 

Lampu jalan depan rumahmu mati – dan bukan

hanya dirimu yang sedih. Lampu jalan di dekat

pohon yang baru ditebang itu seperti ingin menelan

cahayanya sendiri.

 

Jika kesedihan lampu jalan itu sampai menyentuh

lampu jalan yang lain, mereka akan sepakat berhenti

menyala. Jalan-jalan kota gelap. Lampu-lampu yang

lain – lampu di kamarmu dan di kamarku – juga

merasakan kesedihannya dan ikut memadamkan

diri. Kota-kota akan gelap dan bahkan kejahatan

takut keluar rumah.

 

Bulan dan matahari akan ikut memejamkan cahaya.

Kau tak pernah tahu berapa orang yang mati.

 

Tapi lampu jalan di dekat pohon yang baru ditebang

itu merahasiakan perasaannya. Ia tetap

menunggumu di sana dengan cahaya yang sama.

Kau seperti biasa berjalan pulang kerja

melewatinya, juga melewati lampu jalan depan

rumahmu yang mati, sambil berpikir betapa

berbahayanya kesedihan.

 

 

Menyimak Musk di Kafe

 

Tidak ada yang istimewa dari kafe itu. Minumannya

biasa-biasa saja. Lampu-lampunya terlalu terang.

Dan para pengunjung ribut membicarakan negara

yang sedang tidur.

 

Panggung dan alat-alat musik di panggung kafe istirahat

setengah jam. Pukul 2 tiba dan seorang perempuan

menyanyikan lagu favoritmu. Aku menikmati tiga

hal dari lagu itu. Gempa waktu, rasa sakit, dan

sesuatu yang belum kutahu namanya.

 

Aku pulang dan jalan beraroma kampung

halaman terbakar. Aku berhenti setiap ada pohon

mengucapkan terima kasih sebelum tiba pada

jam-jam tidak bisa tidur di kamar.

 

Lagu itu belum berhenti. Rasa sakit tumbuh seperti

kalimat-kalimat indah di buku-buku puisi Sylvi

Plath. Aku mencintaimu dan mencitai

kehilanganku atasmu.

 

Di kafe itu, orang-orang berbahagia demi mengibur

kesedihan mereka. aku berbahagia karena selalu

bisa sedih pernah memiliki.

 

 

 

M Aan Mansyur bekerja di Komunitas Ininnawa, Makassar. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Aku Hendak Pindah Rumah (2008) dan Tokoh-tokoh yang Melawan Kita Dalam Satu Cerita (2012).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 15 Juni 2014

Written by puisi kompas

Juni 21, 2014 at 3:00 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI ZELFENI WIMRA

with 6 comments

ode liris inyiak guru

 

jalan ini tak lagi sunyi, nyiak

langkah kami kadang mirip derap duka perang yang berlari kencang

tapi jiwa kami, entah mengapa, memendam rintihnya sendiri

meredam ringkihnya sendiri

 

melengkapi hidup di sini adalah menyulam wajah iba guru tuo

menggenggam gigil di ujung jarinya

denyut yang canggung

kitab-kitab kuning telah memutih

gema suara debat mengabu di rusuk surau

tahlil dan kunut ditabukan

segalanya bertaburan jadi bid’ah

memenuhi udara bagi paru-paru kami yang sesak

dan dongeng tentang surau yang roboh menjadi dendang

menghiasi irama siul menjelang kami membuka pintu toko

 

seperti eskalator yang kami tapaki setiap berkunjung ke pusat perbelanjaan

madrasahmu berputar-putar mengantar santri mengaji laba-rugi

gambar mihrab hangus terbakar menato kuduk kami

lalu namamu terukir di buah kalung yang kami pakai ketika bernyanyi

dari panggung ke panggung

dari televisi ke televisi

di dada dan punggung kaos oblong kami

dari situs ke situs

dari dinding ke dinding

dari halaman ke halaman akun sosial kami

 

ya, jalan ini memang tak lagi sunyi, nyiak

kami sudah pandai meramaikannya

dengan desiran rintih dan ringkik

pada artefak akal kami

 

2014

 

 

 

menu kandang tiga binatang

 

kucing tanahdata:

di ranahku, menu ayam berserakan

menu itik dalam peraku

menu anjing tersaji depan pintu

menu kelinci langsung ke dipan

hanya menu untukku yang bisa berdekatan

dengan wajah makanan majikan

 

harimau agam:

sejak dikandangkan, aku kehilangan petualangan

aku tak lagi sempat menunjukkan martabat raja hutan

bertarung di rimba raya memburu santapan

di kandang kebun berbintang ini makananku selalu disediakan

aku tinggal meladani pengunjung dengan auman dan taring disunggingkan

agar mereka mengira itulah senyuman

 

kambing limapuluh kota:

mengumpulkan makanan bagiku gampang

tanah di ranah ini menumbuhkan seribu satu daun untukku

daun di ladang, daun di hutan,

daun di jalanan bahkan daun di halaman

tidak pantas ada cemas, selama masih mampu mengayuh tubuh

sedikit pun aku tiada ragu

aku akan terus menjelajah

mencari dan mencuri daun demi daun

 

2014

 

 

Zelfeni Wimra lahir di Sungai Naniang, Luak Limopuluah kota Minangkabau, Sumatera Barat, 26 Oktober 1979. Buku puisinya berjudul Air Tulang Ibu (2012).

 

 

PUISI KOMPAS, MINGUU, 8 JUNI 2014

Written by puisi kompas

Juni 11, 2014 at 8:05 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI RAMOUN APTA

leave a comment »

Menuju Rendang

 

jalan menuju rumahmu tinggi mendaki

sedang langkahku tersandung di ceruk kuali.

 

di atas papan racik ini

rempah-rempah tinggal sampah

 

santan pecah

kayu ditinggal api.

 

denting kelaci tak ada lagi

waktu habis di janji.

 

aku daging puisi

di baskom ini sapiku melenguh lagi.

 

Muarabungo, 2014

 

 

 

Jalan Tikus

 

kau memasukiku seperti memasuki lorong waktu

setelah menikung di simpang-simpang

mengecoh anjing-anjing putih yang dalam episode sebelumnya

telah memenjarakanmu di bilik berdinding rotan itu.

 

di dalam diriku, adakah kau bawa peta?

sebab di dalam diriku, diam-diam, juga terdapat simpang.

yang satu mengarah ke detak jantung.

sedang yang satunya lagi jalan menuju dubur.

 

di salah satu antara dua jalan itu

seekor singa siaga menerkammu.

 

Muarabungo, 2013

 

 

 

Angin yang Santun

-Kiyomi Shinju

 

akulah si penipu!

yang merayu setangkai daun berusia seratus tahun

agar sedia gugur.

 

akulah si perayu!

yang menipu setangkai daun berusia seratus tahun

demi tunas baru.

 

Muarabungo, 2013

 

 

 

Tawar-Menawar di Pasar Pagi

 

Pembeli:

seperti solar yang berlari ke kedai kaki lima

puan hargai bawang sekebat angin ini.

alamat gugur daun ke unggun api.

sedang ranting dan tampuk di ujung masih hijau.

selera masih semburkan getah putih berseri.

 

kami membeli untuk kembali menjual.

di Pasar Gendang lapak datar kami gelar.

tapi pembeli di sana melambai seperti nyiur kelapa ini.

hujan lebat bibir mereka bila tinggi cabe

lebih rendah dari kuduk bawang ini.

 

kalau kami boleh menawar, puan penjual,

mengingat sesama pedagang,

setali bawang tolong lupakan.

 

Pedagang:

kami orang datang di pasar ini.

tebu bertunas di kampung kami.

telur berbagai unggas bergerilya di ladangnya.

 

ini bawang bukan sembarang bawang

Jambi bukan Minang tidak.

naik kapal besar mereka merapat.

ladangnya seluas kubur di masa lampau.

perih takdirnya membogem-mentah ini mata.

orang Batanghari senang menjadikannya lalapan.

 

bawang ini mampu memerdukan desah suami di ranjang

meski kuduknya lebih tinggi dari cabe di sela pahamu

sebab segala sambal dan gulai hilang marwah

bila mereka tiada.

 

Muarabungo, 2013

 

 

 

Ramoun Apta lahir di Muara Bungo, Jambi, 26 Oktober 1991. Aktif dalam LPK (Labor Penulis Kreatif). Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas, Padang.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGU, 8 JUNI 2014

Written by puisi kompas

Juni 11, 2014 at 7:59 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI AJI RAMADHAN

with one comment

Monogram Dua Huruf

 

Meski kau menuduhku sebagai penyamun, tetap

aku berpaling darimu. Dan meski tujuan kita sama,

aku mencoba pikiran kita bertolak belakang.

 

Aku ingat, kau tiba-tiba bertanya padaku:

“Jalan apa yang kau loncati. Bagaimana. Dan

Apakah kau tak terjebak untuk mabuk? Kenapa?”

 

Barangkali kau keliru merabai aku, jika aku ternyata

dapat menjadi si buas yang sopan ketika mendung

belum tercatat sebagai perih. Mungkin kau hanya

 

membaca di sisi luarku, lalu menduga bahwa aku

adalah si kecil yang berlindung di batu gelap sembari

berdoa dijauhi hari sial. Memang tak salah ketika

 

kau menuduhku, sebab kau berkeyakinan seekor

harimau yang kencur belum bisa membedakan

antara mangsa dan kawan. Tapi aku menganggap:

 

Seekor harimau, meski kencur, tetaplah harimau.

Apalagi taring harimau merupakan ruang kerja bagi

dewa maut untuk memulangkan jiwa yang buram.

 

Dan aku akan menjawab pertanyaanmu: “Sebuah

jalan merupakan buku semu. Dan aku tetap selalu

mabuk, meski jalan kita bertolak belakang.”

 

Surakarta, 2014

 

 

Handuk Hangat

 

Uap yang mengepul menandakan

aku telah siap melumat kaku dagingmu.

 

Tujuanku hanya satu, membuatmu

tenang dengan sedikit kejutan tak terduga.

 

Dan keluarlah kotoran lewat pori-porimu,

seperti lava dingin yang merembes.

 

Bahkan, aku tak memaksa kotoran

keluar, tapi aku memanfaatkan tarikan.

 

Dan bersikaplah seolah kau melakukan

kelahiran kembali, biar kau tak sia-sia.

 

Benar, syarafmu akan mengembang dengan

detak jantung melamban secara berurutan.

 

Jika kau mau menjawab, apakah kau

setuju aku akan mencuri keterjagaanmu?

 

Begitu, sayang sekali jika ternyata matamu

tak menyukai kelelapan semurni licinku.

 

Sekarang minumlah susu itu, lalu duduklah

dan pikirkan kenapa kau melewati kilauku.

 

Gresik, 2014

 

 

Dinding Sekarang

 

Aduh, saya tidak asli sini, Mas. Semua orang

di sini kebanyakan berasal dari luar. Cuma,

saya dan semua orang di sini bisa tinggal

 

karena kakek buyut kami pandai membuat

tuan besar senang. Padahal hanya membuatnya

kenyang dan tenang.

 

Saya dan semua orang di sini tahu, jika

tuan besar sangat berjasa. Untuk menghormati

jasanya, tempat ini kami buatkan dinding dan

di dinding itu kami beri tulisan:

 

Kami bahagia

dan tuan besar semoga diberkati Tuhan.

 

Oya, sudah dengar belum, Mas, jika tuan besar

turun tahta? Kami tidak khawatir meski

nanti kami diusir. Kami akan tetap menyambut

tuan besar dan menjamunya hingga muntah.

 

Surakarta, 2014

 

 

Tak Bertuan

: Bawah Tanahnya Dostoyevski

 

Jangan kalungkan koin emas

di leherku. Aku puas dengan deheman palsu,

timbangan keruh dan pergulatan gelapmu.

 

Bahagiakan saja aku, demi

sentuhan tak terarah yang bersembunyi

di kedipan matamu. Tapi simpan dulu

 

serabut hasratmu dan jangan gegabah

untuk membebatku. Karena aku

seorang yang tak mengimamimu.

 

Aku hanya ingin anjing di tubuhmu

liar. Terus menggonggong sampai kita

melihat bintang merekah di langit utara.

 

Lalu kau pun berdoa: Tenang,

tanpa sangsi. Sudah kau jangan

pikirkan hidup, karena kita sudah payah

 

menjalankan alur derita. Mari kita

selesaikan ini, meski kita saling luput

ketika kokok ayam tak patah dan aku

 

melupakan gonggongan anjing di tubuhmu.

 

Surakarta, 2014

 

 

Langit Tampak Mencolok

 

Biarkan langit tampak mencolok setelah kurvanya

kehabisan mekar. Dan biarkan juga langit tak lagi elok,

sebab orarenya telah membayang.

 

Tapi misalkan, langit tak menawarkan pemandangan

tersebut, barangkali aku jadi khawatir jika nanti malah

menampakkan batu-batuan yang beterbangan.

 

Seperti sabda si suci yang memberikan

kuliah umum kepada kaum gemar berhitung.

 

Oh, takutlah aku bahwa langit tak disangga pilar gaib.

 

Dan langit pun rebah di laut, bersama kurva dan

orarenya. Seperti berubahnya gambar karena luntur.

 

Dan motif bunga di bajuku yang semula diam, sekarang

pun bergoyang-goyang ingin menjatuhkan putiknya.

 

Gresik, 2014

 

 

Pesta Minum Teh

 

Pesta minum teh baru 13 menit berlalu.

Beberapa boneka belum meminum

secangkir pun. Si gadis tersenyum

 

melambai-lambai tangannya.

Memainkan pertemuan secara anggun.

 

Di pesta minum teh tadi,

boneka kuda tampak sedih. Si gadis cuek

dan lebih bercerita keluguannya.

 

Boneka lain tampak bahagia melihat aksi

si gadis. Seolah tidak mubazir dihidupkan.

 

“Ibu peri belum datang, kita tunggu

ibu peri dulu,” kata si gadis.

 

Pesta minum teh baru 13 menit berlalu.

Boneka kuda sudah frustasi. Diharapkan

si gadis memberhentikan permainannya.

 

Akhirnya jam pun mendatangkan si mama

menjemput si gadis itu. “Itu, akhirnya ibu peri

datang,” kata boneka kuda dan menyiapkan

diri untuk berlari dalam ilusi.

 

Surakarta, 2014

 

 

Aji Ramadhan lahir di Gresik, Jawa Tengah, 22 Februari 1994. Ia tinggal di Surakarta. Salah satu buku puisinya adalah Sepatu Kundang (2012).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 1 JUNI 2014

 

 

 

Written by puisi kompas

Juni 4, 2014 at 8:20 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 6.503 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: